Ada NII di Al Zaytun
Inpasonline 9/5/11
Hasil penelitian MUI menyatakan bahwa NII terkait dengan pesantren Al Zaytun. Secara pendidikan pondok pesantren itu bagus, namun ada sesuatu yang lain di balik lingkaran dalam pesantren. "Al Zaytun sudah banyak kajian. Sudah seabrek dan sudah dipromosikan secara terbuka. Yang paling kredibel dijadikan referensi ya hasil kajian dan penelitian dari MUI. Ya Al Zaytun sebagai lembaga pendidikan itu oke, bagus punya fasilitas, tapi ternyata ada agenda lain. Ya NII itu," kata Kepala BNPT Ansyaad Mbai di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Jumat (6/5/2011).
Meneladani Semangat Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu
Oleh : Munir
Peserta Kaderisasi Ulama (PKU) angkatan III-ISID Gontor Ponorogo
Lafadz iqra’ dalam surat Al-‘Alaq telah mengubah para sahabat Rasulullah dari orang-orang jahiliyah yang tadinya menyembah berhala, suka mabuk-mabukan, main perempuan, membunuh anak perempuan yang masih hidup, suka berperang, menjadi orang-orang yang bertauhid kepada Allah SWT, senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Tradisi baca dan tulis-menulis saat itu menjadi hidup, tiap ayat Al-Quran turun, Rasulullah saw memerintahkan Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib untuk menulisnya. (Nuim Hidayat, Imperialisme Baru, Jakarta: Gema Insani, 2009).
Deteksi Aliran Sesat
Oleh Bahrul Ulum
Pemahaman kaum Muslimin terhadap masalah aqidah ternyata masih banyak yang salah. Hal ini terutama terjadi pada masyarakat perkotaan. Padahal pemahaman terhadap masalah ini sangat penting dan mendasar. Orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, tidak boleh keliru dalam mamahami masalah satu ini. Sebab jika salah, bisa menyebabkannya kufur dari agama Allah.
Ketua KPK: Kampus Butuh Filsafat Pendidikan
Inpasonline, 8/5/11
Jajaran pemimpin KPK saat ini sibuk menjalin jejaring anti korupsi dengan kampus-kampus perguruan tinggi. Hal ini diungkap oleh ketua KPK, M. Busyro Muqoddas dalam seminar interdiciplinary sharing di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo kemarin (6/5/11).
Kritik Terhadap Kenabian Adonis
Oleh: Slamet Sugeng Sugondo[2]
A. Pendahuluan
Pluralitas keagamaaan di manapun di dunia ini, kecuali di tempat-tempat tertentu, adalah realitas yang tidak mungkin diingkari. Kontak antara komunitas-komunitas yang berbeda agama semakin meningkat. Hampir tidak ada belahan bumi sekarang ini kelompok masyarakat yang tidak pernah mempunyai kontak dengan kelompok lain yang berbeda agama. Tren pluralitas yang telah menjadi gejala global ini menjadi perhatian serius oleh berbagai kalangan pada abad dua puluh[3]. Di mana dunia tidak bisa menolak hancurnya batas-batas budaya, ras, bahasa dan geografis. Realita ini juga sering disebut dengan global village untuk menunjukkan betapa kecilnya bumi.