Pembukaan SEA Games XXVI Sarat Nativisasi
Inpasonline.com, 16/11/11
Banyak kesan muncul dalam melihat pembukaan SEA Games XXVI yang berlangsung di Stadion Jakabaring, Palembang, Jum’at 11/11. Dari mulai mewah, megah, sampai menghabiskan puluhan milyar rupiah. Namun jika diperhatikan secara seksama, pembukaan SEA Games menunjukkan terpinggirnya peran Islam dalam Peradaban Melayu.
Menggugat Prinsip “Asal Bukan Islam”
Kartika Pemilia Lestari*
Inpasonline.com, 16/11/11
“Kami ingin mengulang kembali kebesaran Sriwijaya lewat SEA Games” [(Yohannes H. Toruan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Selatan), KOMPAS, 2 November 2011]
Ini Akibatnya Jika Salah Memandang Konsep Islam!
Inpasonline.com, 15/11/11
KOMARUDDIN Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, belum lama ini menulis opini di harian KOMPAS (05/11/2011) berjudul “Keislaman Indonesia”.
Intisari dari tulisan tersebut adalah mengkritik prilaku Muslim Indonesia dan Negara-negara Arab yang disebut lebih mementingkan aspek ritual dari pada kesalehan sosial. Sekaligus membandingkannya dengan Negara-negara maju non-Muslim yang dinilai lebih Islami.
Tarekat Mason Bebas (Freemasonry) di Indonesia : Sebuah Tinjuan Singkat
Kartika Pemilia Lestari*
Inpasonline.com, 15/11/11
Mata saya terpaku demi membaca sebuah ulasan tentang Raden Saleh oleh sebuah harian nasional pada 5 November 2011. Ulasan itu berbentuk feature yang sepintas tampak ringan, namun sebenarnya tidak ringan. Di telinga saya, nama Raden Saleh agak asing, mengingat saya awam dengan dunia seni lukis, sedang Raden Saleh adalah salah seorang pelukis tersohor di nusantara maupun di negeri Belanda saat namanya masih Hindia Belanda.
Sjafruddin Prawiranegara Pahlawan Nasional
Inpasonline.com, 15/11/11
Adian Husaini menegaskan, bahwa menurut pandangan Islam, pahlawan adalah orang yang berjuang demi menegakkan kalimat Tauhid.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memasukkan nama Sjafruddin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional dalam kurikulum pendidikan sejarah Indonesia. Semasa hidupnya Sjafruddin diakui pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Pemerintah Revolusioner RI dan Presiden Republik Persatuan Indonesia (RPI) di masa pergolakan daerah.