Oleh Rasyidah Hamid Basulthana,
lulusan Pesantren Persis Bangil dan S2 Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta serta founder Kuttab Daarussalaam Jogjakarta
inpasonline.com – Alhamdulillah, di tahun 1986 aku lulus pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Denpasar – Bali. Saat itu, penduduk Bali yang beragama Islam minoritas. Melihat hal ini, ayahku tidak punya pilihan selain mewajibkan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Persis (Persatuan Islam) yang terletak di Kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.
Pesantren Persis mengajarkan beragam ilmu, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Sudah tentu yang namanya Pondok Pesantren, muatan kurikulumnya lebih banyak di sisi pendidikan agama, sebagai landasan untuk mengenal Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw dalam bertauhid, beribadah dan bermuamalah.
Guru Berkesan
Sementara, dalam proses belajar aku bertemu dengan banyak guru. Asatidzah dan ustadzaat yang mengajarku di pesantren hampir semuanya memiliki profil seorang pendidik yang sabar, ikhlas, dan penyayang. Namun demikian, di antara para asatidzah, ada seorang ustadz yang cukup berkesan bagiku. Beliau adalah Ustadz Ahmad Amar Syarif, yang memiliki pesantren khusus putra bernama Pondok Al-Ikhlash yang terletak di Wuluhan, Jember, Jawa Timur.
Ustadz Amar memiliki delapan orang anak yaitu tujuh perempuan dan seorang laki-laki. Putri pertama beliau yang bernama Qayyimah Shafiyyah, adalah teman satu kelas. Bahkan, posisi duduk dia sering di sampingku.
Ustadz Amar berperawakan kurus, berkulit putih, tidak tinggi dan tidak pendek. Beliau memiliki aura wajah yang teduh. Penampilannya sangat sederhana. Beliau lebih sering mengenakan koko putih, peci hitam serta berkacamata. Bagiku, persis sosok Pak Lurah di serial film TV Unyil yang saat itu cukup digemari hampir seluruh anak Indonesia. Alur ceritanya mengandung nilai-nilai moral dan pelajaran hidup yang positif seperti tentang persahabatan, kejujuran, kerja keras, dan semangat gotong royong.

Ustadz Ahmad Amar Syarif di Masjid Nabawi 2012
Keahlian Ustadz Amar di bidang ilmu tata bahasa Arab. Tak ayal, dengan kemampuan tersebut beliau dipercaya untuk mengampu beberapa mata pelajaran. Di antaranya adalah ilmu Nahwu, Sharaf, Muthalaah, dan Tafsir.
Gaya mengajar beliau sangat santun dan unik. Tulisan tangan beliau bagus dan rapi. Kami harus segera mencatat semua materi di papan tulis. Bilamana masuk tahap menjelaskan pelajaran, dengan suara yang lembut namun tegas beliau akan menginstrusikan untuk menghentikan kegiatan menulis. Meletakkan semua pena di atas meja dan pandangan mata hanya tertuju ke papan tulis. Harapan beliau, agar kami dapat memahami pelajaran dengan baik.
Predikat Hebat
Suatu saat pas pelajaran Ushul Fiqih, Ustadz Ma’shum bercerita. Isinya, tentang sebuah peristiwa menarik di kantor guru. Kala itu, dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah gerangan di antara kita yang lebih dahulu masuk surga?” Ternyata, semua asatidzah menunjuk Ustadz Amar. Ketika itu, sepakat, tak ada yang berbeda.
Aku tak ingin memendam rasa penasaran. Lalu, aku beranikan diri bertanya: “Amalan apa gerangan yang menyebabkan beliau menjadi kandidat utama masuk surga mendahului yang lain?”
“Hal tersebut, karena ketawadhuan beliau dan sifat tidak ingin tahu urusan orang lain,” jawab Ustadz Ma’shum sambil tersenyum.
Sebuah Pembuktian
Sejak mendapat cerita itu, aku mulai terus memperhatikan adab beliau. Sampailah di tahun 1990, kelas kami mengadakan study tour akhir belajar ke pesantren. Pilihan jatuh untuk berkunjung ke pesantren putra milik beliau, yaitu Pondok Al-Ikhlash di Wuluhan Jember. Kabarnya, beliau yang lembut dan sabar itu, sangat disegani oleh santri-santrinya. Tentu, rasa penasaranku semakin memuncak.
Dari Bangil, kami berangkat dengan bus. Ba’da dhuhur sampai di tujuan. Ustadz Amar, sebagai pimpinan pondok, menyambut kedatangan kami di depan pagar bambu pendek yang sangat sederhana.
Dari beliau, terpancar sikap santun dan rendah hati. Beliau praktikkan kandungan hadits Nabi Saw tentang adab menerima tamu. Bahwa, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya.
Sejak beliau menerima kedatangan kami di pintu pagar, tak lepas mataku melihat beliau berucap dengan suara lembut “Silakan masuk”. Sambil berkata begitu, beliau iringi dengan gerakan tangan khas tata cara menerima tamu yang baik.
Atas hal itu aku sempat dibuat tertegun. Kemudian, membenarkan kalimat Ustadz Ma’shum saat bercerita di kelas, beberapa waktu sebelumnya. Pantaslah semua guru memilih Ustadz Amar sebagai figur yang pantas masuk surga lebih dahulu.

Ustadz Ahmad Amar Syarif (kanan) bersama Pak Amad (pegawai Pesantren Persis Bangil)
Nama dan Doa
Kesan tentang Ustadz Amar cukup dalam di hatiku. Tahun 2007 aku mendapat amanah anak ketiga, laki-laki. Aku beri nama Ahmad Ammar ‘Abdul Hafiedz. Aku sematkan nama guruku, berharap keberkahan. Berharap keshalihan guruku itu, juga mewujud di anakku.
Waktu berjalan. Di usia Ammar enam tahun, aku mendengar Ustadz Amar menderita sakit yang cukup serius. Penyakit itu menyerang sistem syaraf otak yang mempengaruhi gangguan gerakan tubuh.
Tanpa membuang waktu, aku menjenguk beliau. Memperkenalkan kepada putraku sosok ustadz yang menginspirasiku untuk memberinya nama Ahmad Ammar. Pada kunjungan tersebut aku tak melewatkan untuk meminta doa keberkahan dari seorang guru.
Aku bersyukur dan takjub. Ujian penyakit yang menyerang sistem syaraf otak, tidak menghapus hafalan Qur’an dan ilmu yang Allah karuniakan untuk Ustadz Amar. Saat pamit, beliau berpesan, “Dawamkan doa ini, di penghujung shalat sebelum salam, Allahumma haasibni hisaabay-yasiira (Yaa Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah)”.
Alhamdulillah, aku terharu dan bahagia bisa mempertemukan Ahmad Ammar putraku dengan Ustadz Ahmad Amar guruku. Tiga tahun berselang dari pertemuan itu, yaitu pada 2016, Allah memanggil beliau untuk berpulang ke rahmat-Nya.
Ilmu dan doa yang beliau ajarkan sampai hari ini aku amalkan. Indahnya Islam, bila seorang meninggal dunia semua akan pergi dan hanya tiga yang menemani. Jasad telah terkubur namun amal shalihnya tetap mengalirkan pahala untuknya yakni; Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya.
Doa Tulus
Ustadz Ahmad Amar, sosok guru teladan yang sederhana. Beliau guru yang tawadhu, sabar, santun dalam bertutur kata dan sikap. Beliau juga tegas dan sangat berwibawa. Bersahaja dan disegani oleh santri-santrinya. Keberkahan ilmu yang beliau miliki karena mampu menempatkan adab sebelum ilmu.
Semoga Allah menempatkan beliau di Jannah. Mudah-mudahan Allah luaskan kuburannya. Sangat berharap Allah mempertemukan kami kembali di surga, aamiin. []
Yogyakarta, Rabu, 9 Juli 2025




