Mengoreksi Tafsir Liberal dan Feminis tentang Wanita
Oleh: Kholili Hasib
Mahasiswa s-2 Gontor, Peneliti InPAS
Inpasonline.com, 02/09/11
Wanita, selalu menjadi tema sentral dalam pemikiran modernisasi dan isu-isu globalisasi. Kebebasan wanita dan elemen-elemen yang terkait hampir selalu mencuat menjadi tema-tema utama wacana liberalisasi, persamaan (equality) dan modernisasi. Dalam perspektif liberal, kebebasan wanita adalah salah satu ikonnya.
Tradisi Petasan yang Membahayakan Harus Dihapuskan
Inpasonline.com, 02/09/11
Bunyi petasan terdengar dimana-mana, memekakkan telinga dan membuat gaduh. Namun, seolah tak peduli dengan semua kegaduhan yang ditimbulkan, belasan pemuda di desa Karangrejo Jombang, Jawa Timur terus saja menyalakan petasan di jalan-jalan yang dilalui rombongan kirab malam takbiran (30/8). Seorang warga di desa itu bahkan rela mengeluarkan dana jutaan rupiah hanya untuk memborong petasan. Benar-benar tradisi yang berbahaya, tidak mendidik dan mubazir.
Makna Idul Fitri dan Masa Depan Bangsa
Inpasonline.com, 02/09/11
“Masa depan bangsa ini tergantung dari ibadah segenap komponen rakyatnya,” kata ustadz Yusuf Mansyur dalam Apa Kabar Indonesia Pagi di TV One (31/8). Selanjutnya Yusuf Mansyur menjelaskan bahwa ada tiga variabel yang menjadi penentu masa depan bangsa kita ini, yakni doa, ibadah, dan ikhtiyar. “Kalo kita doanya cakep, ikhtiyar bisa jadi nomor kesekian,” imbuh ustadz yang sukses dengan program pembibitan ribuan penghapal Qur’an ini. Yusuf Mansyur menghimbau agar seluruh komponen bangsa Indonesia hendaknya saling mendoakan, sehingga NKRI menjadi negeri yang makmur, sejahtera dan penuh barokah Alloh SWT.
Bagaimana Cara Rasulullah SAW Merayakan Lebaran?
Oleh: Kholili Hasib (Mahasiswa Pascasarjana ISID Gontor)
Inpasonline.com, 02/09/11
Di hari Idul Fitri, fadhoil (keutamaan), barakah dan rahmat Ramadlan masih disisakan oleh Allah –untuk melengkapi keutamaan ibadah bulan Ramadhan. Rasulullah menyuruh seluruh sahabatnya baik laki-laki, perempuan, tua, dan muda untuk memburu barakah di hari suci tersebut.
Persatuan Umat di Atas Segalanya
Inpasonline.com, 30/08/11
“Besok saja (31 Agustus). Qoidah ushul fiqih : Hukmul hakim yarfa’ul khilaf [keputusan hakim mengangkat (menghilangkan) perbedaan],” jelas Aminul ‘Aam Persyada (Persyarikatan Dakwah al-Haromain) KH. Ihya’ Ulumiddin saat dimintai pertimbangan mengenai sikap yang harus diambil terkait perbedaan jatuhnya 1 Syawal 1432 H. Sebagaimana diketahui, pemerintah bersama Ormas Islam, kecuali Muhammadiyah, menetapkan 1 Syawal 1432 Hijriyah jatuh pada hari Rabu (31/8). Dengan alasan petugas dan peralatan canggih (teropong) belum melihat anak bulan (hilal), maka pimpinan Ormas Islam (NU, Al Washliyah) Matlaul Anwar, Persis, MUI dan lainnya) dalam sidang itsbat (penetapan), memutuskan bulan Ramadhan 30 hari. Sedangkan pihak PP Muhammadiyah dengan perhitungan (hisab) telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari ini (Selasa/30/8/2011).