Mengenal Abu Bakar al-Hishni, Penulis Kitab Kifayatu Al-Akhyar

27394Inpasonline.com-Syaikh Taqiyuddin Abu Bakar Muhammad al-Hishni al-Husaini, atau biasa disebut Taqiyuddin Abu Bakar al-Hishni, terkenal di kalangan pesantren tradisional. Kitabnya berjudul Kifayatu al-Akhyar fi Halli Ghayati al-Ikhtishar menjadi kitab yang wajib dipelajari di pesantren tradisional sebagai rujukan fikih Imam Syafi’i. Beliau bukan hanya ahli fikih, namun juga tersohor ahli ilmu tasawwuf. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah saw.
Sebutan al-Hishni adalah nisbat kepada daerah asalnya “Hishni”, sebuah wilayah di desa Hauran, Damaskus. Taqiyuddin merupakan gelar keilmuan Syaikh al-Hishni karena kepakarannya dalam fikih madzhab Syafi’i.
Nama lengkapnya adalah Imam Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu’min bin Hariz bin Mualla bin Musa bin Hariz bin Sa`id bin Dawud bin Qasim bin Ali bin Alawi bin Naasyib bin Jawhar bin Ali bin Abi al-Qasim bin Saalim bin Abdullah bin Umar bin Musa bin Yahya bin Ali al-Ashghar bin Muhammad at-Taqiy bin Hasan al-Askari bin Ali al-Askari bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Ja’far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal Abidin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Tholib at-Taqiy al-Husaini al-Hishni.
Ia dilahirkan pada tahun 752 H di Hauran. Sejak kecil ia pindah dari Hauran ke Damaskus untuk tujuan menuntut ilmu. Karena, kota Damaskus sangat baik untuk menimba ilmu-ilmu agama. Terdapat guru-guru besar dari berbagai bidang yang menetap di Damaskus dan tinggal di al-Badraiyah. Di Damaskus, Syaikh al-Hishni belajar kepada Syaikh Ibnu al-Syuraisyi, Syaikh Syihabuddin al-Zuhri, Syaikh Najmuddin bin al-Jabi, Syaikh Syamsuddin al-Sharkhady, Syaikh Syarafuddin al-Ghazzi, Syaikh Badruddin bin Maktum dan lain-lain.
Akhlak dan perilakunya yang tawadhu dan luhur menjadi tanda pengenal dia. Ia seorang sufi, berakhlak mulia, dan tidak sombong. Ia terbiasa keluar bersama muridnya, berkumpul dan bahkan bermain. Namun dengan tetap menjaga kehormatannya sebagai guru.
Ketika dia masih hidup, wilayah Damaskus pernah mendapat cobaan berat. Diserang oleh tentara Tamarlenk, keturunan Jengis Khan. Tentara ini sangat tamak, sebagaimana Jengis Khan, menumpahkan darah siapa saja yang menghalangi dan berambisi menegakkan kerajaan dunia di bawah pimpinannya. Namun, ia gagal. Mujahidin menghalau dia.
Kondisi ini tidak menghalangi Syaikh Abu Bakar al-Hishni untuk belajar dan mengajar. Setelah fitnah bangsa Tar Tar berhasil dipadamkan, Syaikh al-Hishni menjadi pusat perhatian penuntut ilmu. Namanya masyhur di negeri Syam. Di saat ini, Syaikh al-Hishni membatasi berbicara kepada orang. Kecuali terbatas pada tujuan ilmu. Namun, ia terbuka untuk menasihati kepada para Qadhi – Hakim – dan para pejabat kenegaraan. Ia dikenal Zuhud, menjauhi duniawi.
Sepanjang hidupnya, Syekh Taqiyuddin al-Hishni banyak menulis kitab besar dan bernilai tinggi. Diantaranya; Daf’u Syubahi Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila asy-Sayyid al-Jalil al-Imam Ahmad, Syarah Asmaullah al-Husna, At-Tafsir, Syarah Shohih Muslim 3 jilid, Syarah al-Arbain an-Nawawi, Ta’liq Ahadits al-Ihya, Syarah Tanbih 5 jilid, Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah Al-Ikhtishar, Syarah an-Nihayah, Talkhish al-Muhimmaat, Syarah al-Hidayah, Adab al-Akl wa asy-Syarab, Kitab al-Qawaa`id, Tanbih as-Saalik, Qami`un Nufuus, Siyarus Saalik, Siyarush Sholihaat, Al-Asbaabul Muhlikaat, Ahwal al-Qubur, al-Mawlid.
Dalam bidang akidah, ia menganut madzhab Imam Asy’ari. Dan kerap juga terlibat perdebatan dengan ulama’ pengkut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Ia memiliki kelebihan dan keutamaan yang jarang dimiliki orang lain. Disebutkan oleh Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitabnya Jaami` Karaamaatil Awliya` juz 1 halaman 621- 622, Syekh Taqiyuddin merupakan seorang ulama yang memiliki kemuliaan tinggi. Ia menyebutkan, sewaktu para mujahidin berperang di Cyprus, maka banyak diantara mereka yang melihatnya ikut membantu perjuangan umat Islam di Cyrus, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemenangan.
Ketika mereka menceritakan hal itu kepada murid-muridnya di Damaskus, para muridnya menyatakan, bahwa Syekh Taqiyuddin tidak pergi kemana-mana dan senantiasa mengajarkan ilmu di Damaskus.
Di akhir usianya, ia selalu berdiam di Masjid al-Mazar selama beberapa tahun. Untuk beribadah, I’tiqaf dan mengkaji agama. Usia yang telah uzhur membuat penglihatan dan pendengarannya menurun. Namun, tidak mematahkan semangat untuk mengajar. Bahkan di saat fisiknya lemah. Ia tinggal di sebuah pemondokan. Hingga banyak orang datang untuk membantunya.
Pada tanggal 14 bulan Jumadil akhir tahun 829 H ia meninggal dunia. Di makamkan di dekat masjid Damaskus bersanding dengan makam ibunya. Dikisahkan, bahwa ketika beliau wafat, orang-orang ‘alim dan guru besar mengiringi jenazahnya, dihadiri ribuan umat Islam, hingga kota Damaskus penuh sesat oleh pentakziah. (A. Kholili Hasib)

BACA JUGA  Kurikulum Sekuler Merusak Sistem Pendidikan Islam
One Response
  1. author

    Bob3 months ago

    Pada tahun berapa kitab kifayatu al-akhyar diterbitkan?

    Reply

Leave a reply "Mengenal Abu Bakar al-Hishni, Penulis Kitab Kifayatu Al-Akhyar"