KONSEP MISTAQ DAN FITRAH KEMANUSIAAN: Suatu Penjelasan tentang Dasar Beragama

Written by | Pemikiran Islam

5f6161cf-a4fd-490b-af0c-a08b948ed42f_169

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

Inpasonline.com-Pembahasan tentang tujuan manusia diciptakan di dunia dapat dikaitkan dengan konsep mitsaq. Kajian ini berdasarkan pemikiran Prof. Al-Attas dan dilengkapi dengan pemikiran Imam al-Ghazali. Secara singkatnya, mitsaq adalah pembahasan tentang persaksian manusia tentang ketuhanan Allah di alam ruh sebelum manusia diciptakan di dunia. Di alam ruh ini, seluruh manusia diikat oleh Allah Swt dengan perjanjian (mitsaq) untuk menyembah kepada-Nya dan menyerahkan dirinya kepada Allah Swt ketika telah diwujudkan di dalam dunia.

Pada alam mitsaq ini, manusia menurut Prof. Al-Attas berada pada kondisi spiritual terbaik. Perjanjian tersebut dijelaskan di dalam al-Qur’an Surat  Al-A’raf ayat 172 yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Mengutip Syaikh Junaid al-Baghdadi, Prof. Al-Attas menjelaskan makna ayat tersebut. Pada kondisi di alam  yang disebut alam alastu tersebut, manusia sudah wujud (eksist) tetapi wujudnya bukan jenis wujud yang biasa kita kenali di alam dunia ini. Jenis kewujudan manusia di alam ini hanya Allah Swt yang tahu. Yaitu kewujudan yang nirwaktu dihadapa Allah Swt. Pada jenis kewujudan ini manusia berada pada keadaan yang terbaiknya. Ketika Allah memanggil, mereka segera menjawabnya dengan cepat. Allah Swt memberi pengetahuan tentang diri-Nya dengan baik.[1]

Berdasarkan hal itu, maka ada jenis kewujudan yang berbeda dengan kewujudan (eksistensi) yang kita pahami secara umumnya. Kewujudan di alam ini adalah eksistensi manusia yang terbaik. Prof. Al-Attas menyatakan bahwa kewujudan terbaik di sini karena manusia dibuat oleh Allah Swt untuk bersaksi (asyhada) dengan penuh kesadaran dirinya. Di kondisi ini, manusia mengenal Allah Swt dengan baik, menyaksikan dengan langsung (syuhud) realitas tertinggi dan kebenaran (the Reality and Truth). [2] Pengenalan (ma’rifah) dan pengakuan kewujudan manusia ini menjadi dasar agama Islam.

Maka, sesungguhnya beragama adalah dalam rangka membimbing manusia untuk menjadi dan kembali kepada kewujudan terbaiknya.  Ketika lahir manusia dalam kondisi fitrah. Nabi Saw bersabda: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Tabrani). Hadis ini menunjukkan bahwa memang manusia pada asalnya adalah suci, sebab ia pernah wujud dalam kondisi spiritual yang tinggi di alam alastu. Ketika kewujudannya tidak pada dalam bentuk fisik. Ketika lahir, manusia masih bersih ruhnya. Perubahan terjadi ketika manusia menjadi dewasa dengan segala lingkungannya. Di sini juga amat pentingnya pendidikan orang tua untuk menjaga kesucian atau kefitrahan manusia. Karena terkontiminasi oleh lingkungan itu, maka manusia memerlukan agama untuk tetap menjaga atau mengembalikan lagi kepada kondisi ruh terbaiknya sebagaimana di alam alastu, yakni menerima Allah Swt sebagai Tuhan yang mesti disembah oleh semua manusia.

Namun, perlu dicatat, manusia di alam dalam keadan bermacam-macam tidak sama. Di antara ruh manusia itu ada yang bercahaya terang sekali yaitu para Nabi. Ada pula yang lemah, kuat dan lain-lain. Mohd Farid Mohd Shahran dalam Adab dan Peradaban mengutip Ibnu Katsir bahwa dalam perjanjian itu Allah Swt  telah menentukan amalan-amalan manusia dan nasib ukhrawi mereka. Selain itu juga dikutip dari Imam al-Qurtubi yang menjelaskan suatu hadis  bahwa ketika persaksian itu manusia berbeda-beda keadaannya. Meskipun begitu, semua ruh manusia bersatu dalam penerimaan ketuhanan Allah Swt. Sehingga sejak awalnya, manusia menerima Allah Swt Tuhannya. Persaksian ini juga menunjukkan bahwa manusia telah menerima  tanggungjawab peribadatannya kepada Allah Swt. Berdasarkan ini maka, ketika manusia beranjak dewasa tetapi kemudian menentang Allah Swt, maka diistilahkan dengan ghafil (lupa). Maknanya, manusia sesungguhnya dalam lubuk hati mengetahui fitrahnya menyembah Allah Swt, hanya karena menturuti hawa nafsu, manusia lupa terhadap penjanjian asali di zaman alastu.

BACA JUGA  Kearifan Pendiri Bangsa dan Makar Kolonialis terhadap Hukum Islam

Fitrah merupakan kedudakan ruhani manusia yang menjadi asal datangnya manusia ke dunia dan menjadi tempat pengembalian mereka. Kesaksian manusia di alam alastu sesungguhnya ikrar yang sebenarnya dari manusia yang menjadi rujukan segala bentuk persaksian (syahadah) yang lain di dunia. Keseluruhan kehidupan beragama manusia di dunia harus ditujukan kepada pengembalian diri manusia secara ruhnya kepada keadaan fitrahnya. Jadi, fitrah manusia itu adalah tunduk dan patuh kepada Allah Swt, pasrah menerima ketuhanan Allah Swt .

Pemikiran ini kemudian dikaitkan oleh Prof. Al-Attas dengan konsep beragama yang disebut ber-din, sebagaimana ditulis di atas bahwa faham mitsaq ini menjadi asas beragama. Prof. al-Attas menganalisis bahwa yang tepat memahami Islam itu sebagai konsep al-din. Ia mengaitkan din dengan kata dayn (hutang). Dua kata (din dan dayn) berasal dari akar kata yang sama dayana. Apa kaitan antara beragama dengan hutang?

Makna-makna utama dalam kata din dapat disimpulkan menjadi empat: keadaan berhutang, penyerahan diri, kuasa peradilan, dan kecenderungan alami. Prof. al-Attas menjelaskan bahwa manusia sebenarnya berhutang kepada Allah, yang menciptakan dan yang memberinya rizki, serta yang telah mewujudkannya dan memelihara eksistensinya.  Bahkan hutang manusia terhadap Tuhan bersifat total dan menyeluruh. Sebab hutang tersebut berupa hutang kewujudan, hutang dari ketiadaan menjadi ada, dan juga hutang pemeliharaan kewujudannya sehingga ia bisa terus wujud di alam ini. Maka, proses pengembalian hutang inilah yang kemudian oleh al-Attas dikaitkan dengan konsep din (yang biasa diterjemahkan dengan agama). Secara ontologis, apabila manusia berhutang pada Tuhan, maka posisi manusia adalah pihak yang rugi. Maka proses pengembalian hutang ini sebagai jalan manusia untuk mencapai keuntungan dan kejayaan di akhirat.

Prof. al-Attas mengatakan bahwa dengan mengembalikan diri kepada Tuhan, yaitu dengan cara mematuhi perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, manusia yang asalnya adalah rugi akan mendapat balasan yang berlipat ganda, yang bukan saja bisa menutupi kerugiannya bahkan akan memeroleh keuntungan yang besar dari eksistensinya. Menurut penjelasan Prof. Al-Attas, tujuan beragama adalah mengembalikan manuisa kepada keadaan asalnya.[3] Pada kondisi ini, manusia menyadari akan jati diri dan spiritualnya melalui pengetahuan manusia yang benar. Tujuan hidup di dunia sesungguhnya adalah  proses kembali kepada Tuhan.

Amalan ini disebut oleh Prof. al-Attas sebagai ber-din, yang hakikatnya membayar hutang itu. Sifat hutang adalah mengikat dan menjadikan orang yang berhutang rendah dan hina di sisi memberi hutang. Keseluruhan kehidupan manusia akhirnya  harus didasarkan kepada usaha penyerahan diri sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qur’an: “Dan tidak lah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.[4] Rasa keberhutangan (dain) ini merupakan alasan penghambaan manusia kepada Allah Swt. Jadi dapat digambarkan bahwa beragama merupakan amalan membayar hutang hamba manusia kepada Allah Swt. Seperti halnya orang berhutang uang atau harta, seorang hamba yang merasa berhutang itu tunduk kepada orang yang memberi hutang serta taat. Dengan demikian seorang hamba berpasrah kepada Allah Swt (aslama). Jadi, hamba wajib melakukan pelayanan (khidmah) kepada Allah Swt. Karena pengamalan khidmah ini maka manusia disebut ‘abd (hamba). Amalan khidmah ini dengan ibadah, yaitu melakukan sesuatu yang diperintahkan dan hidup sesuai dengan aturan-Nya. Maka, makna din memiliki empat dimensi, yaitu keberhutangan, berserah diri, dan kekuatan hukum, kecenderungan alami.[5]

Memaknai agama Islam dengan perspektif din ini jelas merupakan pengamalan agama sampai pada tingkat spiritual dengan pendekatan “hutang-piutang”. Prof. Al-Attas menjelaskan, dengan menusia mengembalikan dirinya kepada Allah Swt sebagai penguasa dan Dzat Yang memberi hutang, maka manusia dengan setia dan sadar sepenuhnya mengikuti perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sehingga perbuatan manusia ini akan “dihitung” dan ia akan menerima balasan yang baik sebagaimana dijelaskan Allah Swt dalam firman-Nya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah Swt, pinjaman yang baik, maka Allah Swt akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak” (QS. Al-Baqarah: 245). Dalam hal ini Prof. Al-Attas memberi penjelasan:

BACA JUGA  Manajemen Kekayaan Islam: Sebuah Kajian Analisis Dari Pemikiran Ekonomi Islam Ibn Sina

Perlu dicatat di sini bahwa kata yang digunakan untuk menyatakan ‘pinjaman’ (yuqridu) berasal dari qarada, qard memiliki pengertian makna yang tidak sama dengan kata hutang (dain), di mana yang terakhir hanya dapat ditujukan pada manusia. ‘Pinjaman’ di sini adalah ‘pengembalian sesuatu yang asalnya dimiliki oleh Sang Pemilik yang sekarang memintanya kembali, dan harus dikembalikan kepadanya’. Manusia adalah milik Tuhannya dan eksistensinya hanyalah merupakan ‘pinjaman’ baginya untuk sementara. Di sisi yang lain kata-kata ‘pinjaman yang baik’ (qardan hasanan) yang ditujukan pada manusia mempunyai maksud metaforik, yang bermakna ‘pengabdian kepada Allah Swt’, ‘pekerjaan yang baik’ yang dimaksud, karena semua ini dapat dikatakan menjadi miliknya dan karena melakukannya ia akan diberi balasan yang melimpah.[6]

Dalam hal ini Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan, kecenderungan manusia untuk berkhidmah kepada Allah Swt itu disebut fitrah. Setiap orang yang berprilaku sesuai dengan pola fitrah ini berarti mengikuti naluri dirinya atau mengikuti tuntutan dirinya yang sesungguhnya.  Hamid mengatakan: “Naluri sebenarnya adalah berserah diri pada Tuhan atau menjalankan din. Karena beragama itu adalah kecenderungan atau naluri maka beragama bukan paksaan dan tidak boleh dipaksakan. Dengan demikian pula taat dan berserah diri kepada Tuhan itu disebut aslama suatu sikap yang terbaik dalam memeluk din.[7]  Penghambaan manusia kepada Allah Swt merupakan salah satu makna beragama yang dikaitkan dengan konsep mitsaq. Suatu perjanjian manusia untuk kembali kepada keadaan asalnya. Jadi, semakin dia kuat memegang janji itu, maknanya ia semakin dekat secara spiritual dengan Allah Swt. Kedekatan dengan Allah Swt ini dalam rangka kembali kepada keadaan terbaik manusia. Artinya, keadaan manusia di zaman alastu menjadi acuan manusia dalam beragama yang sesungguhnya.[8]

Dalam pandangan Prof. Al-Attas, manusia dengan beragama dengan baik dan betul, bisa kembali lagi kepada kondisi spiritual itu (pra-eksistensi sebelum jiwa manusia menjadi makhluk berjasad). Manusia yang mampu kembali ke alam spiritual pra-eksistensi itu merupakan manusia yang telah mencapai kedudukan tinggi dalam spiritualnya, setelah melewati berbagai rintangan, riyadhah (olah jiwa) dan mujahadah (memerangi hawa nafsu). Keberhasilan mencapai kedudukan agung itu tergantung dari perkembangan intelektualnya, keadaan beragamanya, dan kemurahan Allah Swt (anugerah-Nya). Ketika telah naik tingkat spiritualnya itu, manusia melihat dunia yang beragam bentuk ini tidak lagi sama dengan yang dia tahu sebelumnya (ketika belum naik spiritualnya). Ia mengalami apa yang disebut “keterpisahan” (farq). Istilah farq menunjukkan manusia melihat dunia fisik ini secara berbeda. Sehingga, yang terpisah itu kondisi spiritualnya dengan dunia fisik. Secara rasional masih menyadari dunia fisik ini wujud. Tetapi dari aspek metafisik, tidaklah wujud. Maka, dalam kondisi ini manusia menyaksikan (musyahadah), mengalami dan mengalami Kebenaran Yang Hakiki, yaitu Allah Swt.[9] Karena itu, manusia yang seperti ini adalah manusia yang hanya ingat kepada Allah Swt (dzikrullah). Ketiadaan dunia fisik (fana’) sesungguhnya dimaknai, tidak melihat nilai dari dunia. Nilai yang ia rasakan adalah nilai tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Realitas dalam kondisi ini, bukan realitas satu-satunya. Ada realitas lain yang lebih tinggi dan lebih haq. Yaitu Tuhan. Mereka ini disebut kelompok manusia pilihan (khawasul khawas). Spiritualnya telah matang dan sempurna, berada dalam bimbingan dan petunjuk Allah Swt dan selalu mendapatkan pertolongan (taufiq). Keyakinan dan praktik agama serta syariah yang secara konsisten dilakukan mereka selama ini didasari oleh ilmu pengetahuan yang benar, niat yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Mereka tetap bisa melihat realitas fisik, tetapi pandangan terhadap realitas fisik telah berbeda dengan manusia awam. Karena itu, cara menilai realitas fisik pun berbeda. [10] Dalam kondisi ini manusia benar-benar seperti pada masa alastu. Manusia ingat dengan ikatan janji asal (mitsaq). Pengenalan dan pengakuan seperti ini merupakan dasar beragama Islam, menyertakan kesadaran perbedaan antara Allah dengan dirinya. Kesadaran perbedaan antara Allah dan hamba muncul di dalam konteks spiritual.

BACA JUGA  Kebebasan dalam Pandangan Islam

Dengan demikian, umat Islam perlu memahami agama mereka dalam perspektif konsep din. Perspektif yang dijelaskan oleh Prof. Al-Attas ini meniscayakan pemahaman ilmu tasawuf yang benar. Dari penjelasan tersebut di atas tentang asal manusia, fitrah manusia dan makna beragama, dapat ditarik kesimpulan bahwa penjelasan Prof. Al-Attas menggunakan pendekatan tasawuf yang dimaknai pengamalan syariah pada tingkat ihsan. Pendekatan memahami agama dengan konsep din ini ternyata melahirkan suatu pandangan bahwa beragama bukan sekedar amalan ritualitas belaka. Justru ritualitas yang kosong dari ilmu pengetahuan yang benar, tidak akan membawa manusia pada tingkat tinggi. Beragama dalam pandangan ini berarti mencakup ritual, rasional dan spiritual. Ketiga unsur ini pun saling berkait. Definisi Prof. Al-Attas tentang tasawuf yaitu pengalaman syariah pada tingkat ihsan memberi kesan bahwa untuk mencapai spiritualtisa tinggi tingkat ihsan harus dengan mengamalkan syariah (yang di antaranya adalah ritual). Pengamalan syariah yang benar harus didasari oleh ilmu yang benar. Kebenaran suatu ilmu diperoleh melalui aktifitas rasional. Tingat paling tinggi manusia dalam beragama pada kondisi spiritualnya itu.

Spiritual
Ritual
Rasional

 

 

 

Kesepaduan (unity) dalam beragama ini merupakan suatu cara melahirkan manusia yang baik (adabi). Sesuai dengan misi Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau diutus untuk mendidik manusia menjadi manusia berakhlak. Perpspektif ini menarik bila diamalkan dan diterapkan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan atau perkara lainnya. Ilmu pengetahuan perlu disatukan dengan perkara spiritual. ‘Ritualitas’ ilmu pengetahuan dengan hanya menghafal saja tidak melahirkan manusia adabi. Maka, ilmu pengetahuan dengan bungkus spiritual akan melahirkan manusia yang memiliki spiritualitas tinggi dalam setiap amalannya, sebagai apapun dan di manapun.

 

[1] Syed Muammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam,… hal. 179-178

[2] Ibid, hal. 180

[3] Keadaan asal yang dimaksud adalah keadaan manusia pada alam alastu. Disebut oleh Prof. al-Attas di masa the state of the pre-separation (keadaan sebelum perpisahan). Ketika Allah Swt mengumumkan kepada Malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di atas muka bumi. Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, hal. 13

[4] QS. Al-Dhariyyat: 56

[5] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam the Concept of Religion and the Foundation of the Ethic and Morality, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992), hal. 2

[6] Syed M Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme,….hal. 74

[7] Hamid Fahmy Zarkasyi,Konsep Din al-Islam dalam Jurnal Islamia, Volume XII No. 1, Oktober 2018

[8] Mohd Farid Mohd Shahran, Mithaq Sebagai Landasan Agama dan Akhlak dalam Adab dan Peradaban,… hal. 126

[9] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, hal. 87

[10] Wan Mohd Nor Wan Daud, Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam Syed M Naquib al-Attas Satu Huraian Konsep Asli Islamisasi,… hal. 38-39

Last modified: 16/07/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *