Kerancuan Perspektif Sejarah Islam Kaum Liberal (1)
(Studi Kasus Buku Kebenaran yang Hilang, Karya Farag Fouda)
Oleh: Asep Sobari, Lc.*
I. Pendahuluan
Pergulatan antara kebenaran (haq) dan kebatilan merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan secara azali sebagai ujian (`ibtila’) bagi manusia, guna menyeleksi anasir yang baik dari yang buruk, sehingga di akhirat kelak, Allah swt. akan menempatkannya pada posisi balasan (jaza’) yang layak dengan hasil ujian masing-masing. “Dan hanyalah milik Allah, segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan (neraka) kepada orang-orang yang berbuat jahat atas apa yang telah mereka kerjakan. Dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan balasan yang lebih baik (surga)”. (al-Najm: 31).
Kedudukan Sanad Dalam Islam
Kedudukan Sanad Dalam Islam
Oleh Bahrul Ulum
Salah satu alasan orientalis tidak menerima hadits sebagai kitab yang otentik, karena menurut mereka hadits ditulis 200 tahun setelah meninggalnya Rasulullah. Dalam rentang waktu yang panjang itu, kemungkinan terjadinya pemalsuan dan perubahan sangat besar sekali. Karena itulah mereka menolak jika hadits disebut sebagai kitab yang terjaga otentisitasnya.
Cordoba, Kota Peradaban Islam di Eropa yang Hilang
Oleh Bahrul Ulum
Kota Cordoba, yang awalnya bernama Iberi Baht, dibangun pada masa pemerintahan Romawi berkuasa di Guadalquivir. Lima abad kemudian, kota ini berada dalam kekuasaan Bizantium di bawah komando Raja Goth Barat.
Filsafat Islam dalam Tinjauan Historis (1)
M. Masykur Ismail
Kajian terhadap sejarah filsafat Islam sebenarnya sudah banyak dilakukan para sarjana dari Barat. Bahkan kajian-kajian mereka sudah banyak diakui sebagai karya ilmiah yang berbobot dan obyektif, karena didukung oleh data-data primer dan referensi yang sangat memadai. Tidak heran jika kajian mereka banyak dikutip oleh pengkaji sesudahnya dan bahkan banyak mempengaruhinya kajian-kajian filsafat Islam sesudahnya. Namun, dalam hal-hal tertentu kajian mereka justru banyak merugikan umat Islam.
Road Map Yahudi Liberal
Oleh Kartika Pemilia Lestari
Arus pemikiran liberal yang kini tengah melanda umat Islam Indonesia, rupanya pernah terjadi dalam agama Yahudi, tepatnya pada abad ke-16, saat Perjanjian Lama (Old Testament) ditelaah dan diteliti untuk pertama kalinya menggunakan Historical-Critical Method (Metode Kritis Historis) oleh Isaac de Peyrere (1592-1676). Kemudian beberapa tokoh mencoba menerapkan apa yang sudah dirintis oleh Isaac de Peyrere; Benedict de Spinoza (1632-1677), Richard Simon (1638-1712), dan Jean de Clerc (1654-1736).