Konsep Millah Ibrahim
Oleh: Rahmin[1]
Pendahuluan
Sejak lama telah disebutkan adanya tiga agama yang bersumber dari nabi Ibrahim[2] AS, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.[3] Diantara tiga agama tersebut, Islam dikenal sebagai agama yang termuda. Tiga agama ini hanya diasumsikan bersumber dari agama Nabi Ibrahim, bahkan juga dikatakan sebagai "Tiga Agama Samawi" yang telah dianugrahkan kepada manusia. Dan dikatakan sebagai kelompok agama-agama besar, serta diklaim sebagai agama keturunan Abraham (Nabi Ibrahim).
Tantangan Humanisme dan Konsep Maslahat Dalam Islam
Oleh: Lilik Mursito
(Peserta PKU ISID Gontor Angkatan ke-III)
A. Pendahuluan
Syariat Islam dibuat untuk menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia dan menghindarkan mereka dari kerusakan. Sebagaimana tercermin dalam hadits Rasulullah Saw yang berbunyi لاَ ضرر و لا ضرار[1]. Lafadz لاَضرر berarti larangan membahayakan diri sendiri atau orang lain, sedangkan لا ضرار berarti larangan saling membahayakan antara 2 orang lain. Ini adalah kaidah yang agung, dengannya Rasulullah menutup segala pintu kerusakan dan bahaya. Maka, tidak ada syariat kecuali didalamnya ada maslahat.[2]
Islam Dalam Wacana Pseudo Ilmiah Warisan Kolonial
Oleh Arif Wibowo
(Mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Buku warna hijau laut itu hanya seharga Rp. 5.000 di salah satu kios buku bekas alun-alun utara Solo. Judulnya, Sejarah Gereja di Indonesia, merupakan salah satu buku dari 13 buku yang menjadi materi pengkaderan PMKRI di tahun 1963. Ada satu paragraph yang menarik dan membuat saya mencoba membongkar buku-buku serupa, inti dari paragraph tersebut adalah “berbeda dengan kedatangan Islam di Indonesia yang menyebabkan kemunduran kejayaan nusantara, maka missie Katolik mempunyai jasa besar dalam memajukan negeri ini melalui lembaga-lembaga pendidikannya”. Seketika itu juga dahi saya berkerut. Karena penasaran, saya coba bongkar buku-buku sejenis, dan saya temui alur berfikir yang sama. Di bukunya Dr. Th Muller Kruger dengan judul yang kebetulan sama, Sejarah Gereja di Indonesia, dinyatakan: "Bangsa-bangsa kafir ingin mempertahankan kemerdekaannya dan tidak mau tunduk kepada Raja-Raja Islam. Dapatlah dimengerti, bahwa guna menjaga kemerdekaannya, bangsa-bangsa kafir ini mencari persahabatan dan perlindungan pada orang-orang kulit putih yang kuat itu. Misalnya patih Udara, seorang penguasa terakhir kerajaan Majapahit, pada tahun 1512 meminta pertolongan orang-orang Portugis, tetapi terlambat, sehingga tak tertolong."[1]
Pengakuan Aktivis Gender
Dr. Adian Husaini
Pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010, bertempat di arena Indonesia Book Fair, Senayan Jakarta, saya meluncurkan novel berjudul “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat” (Jakarta: GIP, 2010). Novel ini saya tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim Indonesia untuk memahami pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide liberal dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.
Kritik Terhadap Institusi Keluarga Prespektif Feminisme
Oleh: A. Abdulloh Khuseini
(Peserta Program Kaderisasi Ulama Angkatan III ISID Gontor Ponorogo)
A. Pendahuluan
Salah satu agenda yang di usung oleh para feminis adalah pengarusutamaan gender[1] (gender mainstreaming), yaitu suatu strategi[2] untuk mencapai kesetaraan gender melalui perencanaan dan penerapan kebijakan yang berperspektif gender pada organisasi dan institusi.[3] Gender diartikan sebagai suatu konsep untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya dan sudut non-biologis.[4] Istilah gender sejatinya tidak lepas dari konspirasi Barat[5] tentang wanita yang di masa lalu begitu rendah. Wanita dianggap makhluk yang hina dan tidak bisa dipercaya, bahkan menjadi korban inkuisisi Kristen di Barat. Akibat dari konsep dasar ini, maka konstruk sosial yang tercipta telah meletakkan peran sosial wanita secara sekundair atau kedua setelah laki-laki, dan kemudian menghasilkan sikap sosial yang diskriminatif terhadap wanita[6]/perempuan[7].