Category: Pemikiran Islam

Pemikiran Islam

Catatan Kritis Pemikiran Muhammad Shahrur

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Pendahuluan

            Al-Qur’an al-Karim sebagai wahyu Allah yang diturunkan terakhir bagi umat manusia menempati posisi sangat penting sebagai salah satu pilar epistemologi Islam. Karena dari Al-Quran-lah seluruh struktur, aspek, pandangan, tujuan dan hukum Islam bersumber dan disandarkan. Maka dari itu, upaya-upaya untuk menggali dan memahami nilai-nilai al-Qur’an dilakukan secara terus menerus sejak generasi pertama umat ini dan tidak pernah berhenti sehingga menghasilkan literatur yang sangat luar biasa berlimpah, terutama jika dibandingkan apa yang dilakukan terhadap kitab suci agama lain manapun.

Pemikiran Islam

Universalitas Fenomena Wahyu dan Kenabian: Counter-Argumen Pluralisme Agama (habis)

Counter-Argumen Pluralisme Agama (3 habis)

Dr. Anis Malik Thoha

 

Wahyu dan Nabi Pamungkas

Substansi wahyu samawi atau al-Islam al-‘Amm (Islam Universal), dalam operasionalnya di panggung sejarah senantiasa disesuaikan dengan kondisi ke-kini-an dan ke-di-sini-an. Sebab sangatlah tidak logis jika, misalnya, komunitas masyarakat zaman kapak diberlakukan kepada mereka sebuah aturan atau shari’ah yang berlaku pada zaman teknologi informatika sekarang ini. Maka karena kondisi obyektif dan faktual komunitas masyarakat manusia yang berkembang dari masa ke masa dengan berbagai masalah dan tuntutan yang berbeda-beda dan beragam ini, Allah swt kemudian mengutus serangkaian utusan (nabi dan rasul) sepanjang sejarah dengan membawa wahyu (di samping yang universal tadi) yang lebih spesifik dan relevan dengan masalah dan tuntutan ruang dan waktu masing-masing (tempo-local). Sehingga dalam khazanah hukum yang dikenal dalam sejarah manusia terdapat berbagai macam kodifikasi hukum atau shari’ah. Kombinasi wahyu universal dengan wahyu tempo-local ini secara implisit, mengikuti klassifikasi Ibn Taymiyyah, dapat disebut sebagai al-Islam al-Khass karena sifat-sifatnya yang terbatas.

Pemikiran Islam

Universalitas Wahyu dan Kenabian: Counter-Argumen Pluralisme Agama (I)

Dr. Anis Malik Thoha

Assistant Professor, Dept. of Usuluddin and Comparative Religion,

KIRKHS, IIUM

Potensi Manusia

Adalah suatu fakta yang tak terbantahkan, bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan berakal. Dengan akal ini ia bisa berfikir, dari yang paling simpel sampai yang sangat fantastis dan sophisticated, untuk tujuan apa saja, baik yang konstruktif maupun destruktif, sejauh yang menyangkut alam fisik yang nyata dan empiris. Namun begitu masuk ke wilayah alam non-fisik dan meta-fisik, khususnya yang menyangkut  prinsip ketuhanan-peribadatan (penuhanan-penghambaan atau uluhiyyah-ubudiyyah) dan pernik-perniknya, track record akal yang terekam dalam lembaran-lembaran sejarah peradaban manusia amat sangat buram (gloomy) dan merisaukan. Bagaimana tidak! Ada sekelompok manusia yang menghamba, menyembah dan menuhankan sesama manusia, bahkan ada sekelompok yang lain yang menghamba, menyembah dan menuhankan makhluk yang lebih rendah daripada manusia. Bahkan di alam yang ultra modern ini ada kelompok-kelompok manusia yang sibuk “mengatur-atur” Tuhan dan getol sekali melakukan kontestasi melawan-Nya untuk kemudian menggeser dan merebut posisi-Nya (dari God-centredness menuju human- centredness).

Pemikiran Islam

Kritik Atas Luxenberg

Missionaris-orientalis seumpama ‘zombie’, patah tumbuh hilang berganti menyerang Islam. Baru-baru ini muncul lagi seorang dengan nama samaran “Christoph Luxenberg.” Ia mendakwa bahwa al-Qur’an hanya boleh dimengerti jika ianya dibaca mengikut bahasa asalnya, yaitu Syro-aramaic (bahasa Aramaik dalam dialek Syriak).