Kritik Epistemolog Islam dalam Pemikiran Islam Kontemporer: Telaah Kritis Atas Pemikiran Muhammad ‘Abid al-Jabiri
Wacana Kritik Epistemologi
Pada tiga dekade terakhir ini kritik pemikiran keagamaan menjadi tema sentral yang menjadi perhatian hampir kebanyakan pemikir Muslim kontemporer. Mereka melihat bahwa krisis yang dialami masyarakat Islam hari ini tak lain hanya merupakan refleksi dari krisis yang tengah melanda pemikiran Islam itu sendiri. Untuk itulah mereka berpendat bahwa sudah saatnya kita untuk melakukan autokritik atas pemikiran Islam itu sendiri.
Mohammed Arkoun dan Desakralisasi Al-Qur’an
Oleh: Kholili Hasib
Pengantar
Mohammed Arkoun, Pemikir Islam asal Al-Jazair telah meninggal dunia pada 14 September 2010 di Paris Prancis. Salah seorang professor Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Sorbonne Perancis itu termasuk pemikir Islam kontroversial yang terkenal di dunia, termasuk di Indonesia.
Adab Berpolitik Menurut Imam al-Ghazali
Pengantar
Di tengah ketegangan perpolitikan nasional dan regional, kita bisa menangkap bahwa bahwa politik kita telah kehilangan adab (loss of adab). Berkaitan dengan politik beradab ini, maka Imam al-Ghazali cukup tepat ditempatkan sebagai cermin. Corak pemikiran politik Imam Al-Ghazali di latar belakangi oleh pengalaman-pengalaman Al-Ghazali dengan dunia kekuasaan pada masanya dan kepakaranya dalam berbagai bidang ilmu. Di zaman Imam al-Ghazali, praktik-praktik politik banyak yang menyimpang dari jalur syari’at, seperti korupsi, penyalah gunaan kekuasaan, perpecahan umat dan krisi ulama’. Al-Ghazali melihat, problem itu bermuara dari krisis keilmuan. Oleh sebab itu, kritik Imam al-Ghazali ditujukan kepada para ulama’ sebagai pengemban ilmu. Kedzaliman ilmu telah membuat krisis epistemologis yang berujung kepada lemahnya umat melawan kekuatan-kekuatan asing, termasuk kekalahan dalam perang salib[1]. Kritik-kritik tajam al-Ghazali dituangkan dalam beberapa karyanya, seperti Al-Tibr al-Masbuk fii Nashihat al-Muluk, Ihya’ Ulumuddin, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad dan Fadhaih al-Batiniyah. Selain memperbaiki problem epistemologis, imam al-Ghazali juga mempunyai misi misi mempersatukan umat dalam satu bendera akidah, membuang fanatisme kesukuan dan nasionalisme sempit.
Peta Paham Pluralisme Agama di Indonesia (2 habis)
D. Tipologi Pluralisme Agama Di Indonesia
Tipologi pluralisme di Indonesia adalah bentuknya modifikasi. Beberapa mengambil sebagian aliran global teologi dan sebagian mengambil dari Transendent Unity of Religions. Dan kedua aliran tersebut bertujuan sama, yaitu; keberadaan agama-agama sama derajatnya. Tetapi aliran yang diminati oleh kaum pluralis Indonesia adalah aliran transendent unity of religions. Sebab wacana agama Indonesia banyak dilatar belakangi oleh konflik sosial dari pada konflik teologi.