Category: Sejarah Peradaban

Sejarah Peradaban

Izzudin bin Abdissalam, Ulama Yang Ditakuti Penguasa

Oleh Thoriq

Ia adalah Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim bin Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab, bergelar Izzuddin (kemuliaan agama). Masyarakat pada masa itu memanggilnya dengan Abu Muhammad. Ia dilahirkan di Damaskus. Mengenai tahun kelahirannya, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, ia dilahirkan pada tahun 577 H. Sebagian mencatat bahwa ia lahir tahun 578 H. Namun pendapat pertama lebih kuat. Imam agung ini wafat pada tahun 660 H di Kairo.

Sejarah Peradaban

Islam Dalam Wacana Pseudo Ilmiah Warisan Kolonial

Oleh Arif Wibowo

(Mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta)

 

Buku warna hijau laut itu hanya seharga Rp. 5.000 di salah satu kios buku bekas alun-alun utara Solo. Judulnya, Sejarah Gereja di Indonesia, merupakan salah satu buku dari 13 buku yang menjadi materi pengkaderan PMKRI di tahun 1963. Ada satu paragraph yang menarik dan membuat saya mencoba membongkar buku-buku serupa, inti dari paragraph tersebut adalah “berbeda dengan kedatangan Islam di Indonesia yang menyebabkan kemunduran kejayaan nusantara, maka missie Katolik mempunyai jasa besar dalam memajukan negeri ini melalui lembaga-lembaga pendidikannya”. Seketika itu juga dahi saya berkerut. Karena penasaran, saya coba bongkar buku-buku sejenis, dan saya temui alur berfikir yang sama. Di bukunya Dr. Th Muller Kruger dengan judul yang kebetulan sama, Sejarah Gereja di Indonesia, dinyatakan: "Bangsa-bangsa kafir ingin mempertahankan kemerdekaannya dan tidak mau tunduk kepada Raja-Raja Islam. Dapatlah dimengerti, bahwa guna menjaga kemerdekaannya, bangsa-bangsa kafir ini mencari persahabatan dan perlindungan pada orang-orang kulit putih yang kuat itu. Misalnya patih Udara, seorang penguasa terakhir kerajaan Majapahit, pada tahun 1512 meminta pertolongan orang-orang Portugis, tetapi terlambat, sehingga tak tertolong."[1]

Sejarah Peradaban

Mengenal Pemikiran Muhammad Arkoun

Muhamad Arkoun lahir di Wilayah Berber di Taurit-Mimoun, Kabila,  AlJazair  pada tanggal 12 Januari tahun 1928 M, Arkoun menyelesaikan pendidikan dasar di desa asalnya, pendidikan menengah dan pendidikan  tingginya di tempuh di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utama di Aljazair bagian barat. Dia kemudian pindah ke Universitas Sorbonne dan meraih gelar  Phylosopy Doctoral pada tahun 1969 M. Ketika itu, dia sempat bekerja sebagai  agrege bahasa dan kesusasteraan Arab di Paris serta mengajar di sebuah SMA  (Lycee) di Strasbourg (daerah Perancis sebelah timur laut) dan diminta  memberi kuliah di Fakultas Sastra Universitas Strasbourg (1956-1959). Pada  tahun 1961, Arkoun diangkat sebagai dosen di Universitas Sorbonne, Paris,  sampai tahun 1969. Arkoun sekarang tinggal di Paris dan menjadi seorang Profesor Emeritus dalam Islamic Studies di Universitas Sorbonne,  Paris-Perancis.  Pada November 1992 di Yogyakarta. Ia sempat memberikan  ceramah di UIN Yogyakarta dan  Jakarta di depan forum LKiS dan beberapa lembaga lain.

Sejarah Peradaban

Al Muhaddits Anwar Syah Al Kasymiri :Pensyarah Shahih Al Bukhari dari “Negeri Musim Semi”

Oleh Thoriq

Saat itu, Syaikh Mu’adzam Syah, secara rutin mengajarkan kepada putra laki-lakinya kitab Mukhtashar Al Quduri, rujukan fiqih dalam madzhab Hanafi. Nyatanya, sang putra memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya di tengah-tengah proses belajar. Karena sulitnya menjawab pertanyaan si anak, pernah ulama Kashmir ini terpaksa harus menela’ah kitab Al Hidayah, rujukan dalam madzhab Hanafi yang lebih tinggi, untuk menjawabnya.