Tajdid Bukan Modernisasi Agama
Istilah pembaharuan Islam telah disalah-pahamkan oleh kaum liberal. Pembaharuan (tajdid) oleh mereka disebut dengan modernisasi agama. Dalam buku Reorientasi Pembaruan Islam, Sekularisme Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia”, yang ditulis Budhy Munawar Rahman, misalnya, ternyata maksud pembaharuan dalam buku itu adalah proyek sekularisasi dan pluralisasi. Di dalam buku yang diterbitkan pada 2010 tersebut tidak ditemukan sama sekali konsep dan kaidah tajdid seperti yang telah dilakukan para mujaddid terdahulu.
Waria: Antara Penyakit Masyarakat dan Liberalisme
Arus liberalisasi pemikiran Islam mengayun berjalan dengan dinamis. Salah satu produk kebanggaanya, faham feminisme dan gender menghasilkan "ijtihad" bahwa homoseksual, baik gay, lesbian, atau pun waria adalah realitas yang mendapat legalitas agama, –meminjam istilah Musdah mulia- sesuatu yang "given" atau dalam bahasa fiqih disebut sunnatullah. (Musdah Mulia, Islam Agama Rahmat Bagi Alam dalam Majalah Tabligh, Muhammadiyyah, Mei, 2008).
Nestapa Umat di Perayaan Tahun Baru
Oleh Anwar Djaelani
Sangat memrihatinkan saat menyaksikan performa (sebagian) umat Islam di setiap perayaan tahun baru Masehi. Mereka melakukan beragam aktivitas yang tergolong sia-sia, tak beda dengan perilaku orang-orang yang tak beriman.
Natal, Ibadah Kaum Kristen
Adian Husaini, Ph.D
Pada 12 November 2010 lalu, PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) dan KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI), mengeluarkan PESAN NATAL BERSAMA, yang mengangkat tema: “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia.” ((bdk. Yoh. 1:9).
Sebagian Pesan Natal Bersama itu bisa kita simak sebagai berikut:
“Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: “Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Lih. Yoh.1:9-11). Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”.
Ayo Hijrah, Murnikan Aqidah!
Oleh M. Anwar Djaelani,
alumnus PPs Unair dan dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya
Berbagai perilaku yang merusak aqidah bertebaran di sekitar kita. Di Gunung Merapi, misalnya, di sekitar terjadinya letusan pada Oktober 2010 beredar sejumlah cerita mistis. Lalu, kapan aqidah kita benar-benar bebas dari ‘virus’ yang sangat berbahaya itu?