Mengapa Barat Islamophobia?
Beberapa hari yang lalu Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengkhawatirkan meningkatnya perkembangan imigran muslim di negaranya. Tercatat, hingga saat ini jumlah komunitas muslim Jerman berjumlah 4,3 juta jiwa. Sebagian besarnya adalah keturunan Turki. Yang membuat warga asli Jerman makin khawatir adalah hasil penelitian Friedrich Ebert Foundation yang menyatakan bahwa Jerman telah dikelola oleh orang-orang asing itu. Apalagi, kota Hamburg segera diakui sebagi Negara bagian di Jerman yang resmi mengakui Islam. (republika 21/10/2010)
Islam Dalam Wacana Pseudo Ilmiah Warisan Kolonial
Oleh Arif Wibowo
(Mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Buku warna hijau laut itu hanya seharga Rp. 5.000 di salah satu kios buku bekas alun-alun utara Solo. Judulnya, Sejarah Gereja di Indonesia, merupakan salah satu buku dari 13 buku yang menjadi materi pengkaderan PMKRI di tahun 1963. Ada satu paragraph yang menarik dan membuat saya mencoba membongkar buku-buku serupa, inti dari paragraph tersebut adalah “berbeda dengan kedatangan Islam di Indonesia yang menyebabkan kemunduran kejayaan nusantara, maka missie Katolik mempunyai jasa besar dalam memajukan negeri ini melalui lembaga-lembaga pendidikannya”. Seketika itu juga dahi saya berkerut. Karena penasaran, saya coba bongkar buku-buku sejenis, dan saya temui alur berfikir yang sama. Di bukunya Dr. Th Muller Kruger dengan judul yang kebetulan sama, Sejarah Gereja di Indonesia, dinyatakan: "Bangsa-bangsa kafir ingin mempertahankan kemerdekaannya dan tidak mau tunduk kepada Raja-Raja Islam. Dapatlah dimengerti, bahwa guna menjaga kemerdekaannya, bangsa-bangsa kafir ini mencari persahabatan dan perlindungan pada orang-orang kulit putih yang kuat itu. Misalnya patih Udara, seorang penguasa terakhir kerajaan Majapahit, pada tahun 1512 meminta pertolongan orang-orang Portugis, tetapi terlambat, sehingga tak tertolong."[1]
Gara-gara Mempertahankan Jilbab, Dilarang Naik Bis Sekolah
Sidney-Seorang anak perempuan berumur enam tahun dilarang naik bis sekolahnya setelah dia dinilai berbuat kasar terhadap penumpang lainnya, yaitu seorang anak laki-laki yang mengusik jilbabnya.
Pengakuan Aktivis Gender
Dr. Adian Husaini
Pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010, bertempat di arena Indonesia Book Fair, Senayan Jakarta, saya meluncurkan novel berjudul “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat” (Jakarta: GIP, 2010). Novel ini saya tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim Indonesia untuk memahami pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide liberal dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.
KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat (Novel Perdana Dr. Adian Husaini)
Inpasonline, 19/10/10
Komentar Taufiq Ismail, sastrawan:
“Setelah wajah pesantren dicoreng-moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih dalam membendung gelombang liberalism.”