Geert Wilders Dipermalukan di Parlemen
Inpasonline, 23/11/10
Karena punya masalah, Geert Wilders , yang biasanya ceplas-ceplos kini bicaranya bertele-tele. Bahkan ketika bicara di hadapan para wartawan di parlemen, kepalanya tertunduk dan pundaknya menurun.
Prof. Al-Attas: Pengaruh Islam Sangat Besar bagi Peradaban Dunia
Wawancara Dewan Bahasa Malaysia dengan Prof. Naquib Al Attas.
Bisa Prof. ceritakan sedikit bagaiamana ISTAC ini didirikan?
Pada mulanya hanya saya dengan Encik Mat Ali dan Haji Ali. Encik Mat Ali saya minta dari Universiti Kebangsaan Malaysia, sebab dia sudah lama berkerja dengan saya. Kemudian, setahun lebih Dr. Wan Mohd. Nor ikut bergabung juga. Jadi kita saja yang membuat ini semua. Pertama sekali mereka ini paham dengan apa yang akan saya buat. Semuanya ikut turut serta dan dengan aktif.
DR. Syamsuddin Arif Akan Mengupas Orientalis di IAIN Sunan Ampel
Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (INPAS) untuk kesekian kalinya mengadakan Diskusi Ilmiah Reguler (DIR). Kali ini bekerjasama dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat IAIN Sunan Ampel, Surabaya mengundang DR. Syamsuddin Arif dari International Islamic University Malaysia. Acara yang diselenggarakan Hari Kamis (25/11) jam 8.30 WIB di Auditorium Fakultas Syariah akan mengambil tema “Tantangan Orientalis Dalam Studi Islam”.
Karena Menjaga Kuburan, Banyak Wanita Menolak Dilamar
Jeddah: Karena dikenal sebagai penjaga kuburan, banyak wanita yang tidak mau dijadikan oleh Abu Wisam. Dalam usianya yang mencapai 49 tahun, ia tetap membujang. Sudah banyak wanita yang dilamarnya, tapi semuanya menolak.
Pendeta Masuk Pesantren
Inpasonline, 23/11/10
Keberadaan pendeta yang belajar tentang kebudayaan pesantren hendaknya disikapi dengan hati-hati dan bijaksana. Demikian menurut Dewi Purnamawati, seorang kristolog. Pendeta masuk ke pesantren, kalau memang sudah menjadi Islam atau ingin masuk Islam, itu tidak masalah. Tetapi jika mereka masih tetap dalam kekristenannya, ini menjadi masalah. Dewi mencontohkan jika santri di pesantren adalah anak-anak setingkat SD-SMP-SMA sedangkan para pendeta yang “nyantri” adalah setingkat S1 dan S2. “Kira-kira yang “terwarnai” yang mana?”tanya Dewi.