Alam sebagai ‘Tanda’ Allah Swt

Written by | Pemikiran Islam

an1magine www.an1mage.org giordano bruno 3

Oleh : M.Utsman*

Inpasonline.com-Cara pandang atau worldview dalam Islam adalah bagaimana cara manusia dalam melihat suatu kebenaran dan realitas tentang kehidupan yang dikaitkan semua dengan Tuhan. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas worldview merupakan kerangka berfikir umum (general framework) yang merupakan lingkungan konseptual (conceptual environment) di mana tiap-tiap aktivitas ilmiah tumbuh. Lebih lanjut the worldview of Islam bukan sebatas pemikiran spekulatif yang diperoleh melalui observasi terhadap dunia empiris / fisik semata, namun the worldview of Islam  mencakup dunia dan akhirat, atau alam fisik dan metafisik.[1] Pandangan alam bukanlah yang dibentuk semata-mata dengan menghimpun bersama objek-objek, nilai-nilai dan fenomena budaya yang beragam ke dalam koherensi buatan (artificial) pun juga bukan yang dibentuk berdasarkan tahapan sejarah dan proses spekulasi filosofis serta penemuan ilmiah yang berkembang, yang terus terbuka untuk berubah dimasa yang akan datang (open ended), yang menyesuaikan dengan paradigma yang berubah sesuai keadaan yang terus berubah. Pandangan-alam Islam bukanlah yang mengalami proses transformasi dialektis yang berulang dalam perjalanan waktu, dari tesis ke anti-tesis selanjutnya sintesis, seperti pandangan alam yang didasarkan kepada sistem pemikiran yang pada awalnya teo-sentris menjadi antropo-sentris dan sekarang teo-antropo-sentris dan mungkin akan berbubah lagi untuk membentuk tesis baru dalam proses dialektika.[2]

Paradigma tersebut berubah-ubah karena bersumber dari unsur filosofis dan budaya yang dibantu oleh ilmu pengetahuan pada saat itu. Sedangkan Islam bukanlah bentuk budaya. Agama Islam bersumber dari Wahyu yang dikonfirmasi oleh agama dan di dukung oleh akal dan intuisi.[3] Karakteristik pandangan-alam Islam adalah otentisitas dan finalitas yang menunjuk kepada yang akhir. Pandangan alam Islam memproyeksikan pandangan mengenai realitas dan kebenaran yang meliputi keseluruhan eksistensi dan kehidupan dalam perspektif total yang mendasar. Pandangan Islam adalah sebuah konsep terdiri dari berbagai konsep yang saling terkait seperti konsep Tuhan, Wahyu (al-Qur’an), ciptaanya, manusia, dan psikologi manusia, ilmu pengetahuan, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan serta kebahagiaan. Kesemua konsep tersebut, yang memberi bentuk kepada ide-ide tentang perubahan, perkembangan dan kemajuan.[4]

Karena cara pandang-alam Islam erat hubungannya dengan konsep-konsep lain, maka pemahaman akan konsep-konsep kunci dalam Islam harus benar.  Konsep wahyu dalam pandangan alam Islam tidak bisa disamakan dengan konsep wahyu yang ada pada agama lain. Sebab al Qur’an adalah Kalam Allah Swt yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. konsep Tuhan dalam pandangan alam Islam juga tidak bisa disamakan dengan konsep tuhan yang ada pada agama lain. SMN al-Attas membedakan konsep tuhan sebagai rabb dan tuhan sebagai Ilah. Iblis  memahami Tuhan hanya sebagai rabb, bukan sebagai ilah. Jadi, mengetahui Tuhan sebagai rabb tidak berarti mengetahui-Nya sebagai ilah. Dan sudah tentu memahami-Nya hanya sebagai rabb saja akan salah, jika tidak diikuti dengan pemahaman sebagai ilah. Memahami Tuhan sebagai ilah berarti tidak menyekutukan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan, dan bentuk yang dipersetujui oleh-Nya seperti yang ditunjukkan oleh para rosul yang telah diutus-Nya. Jika hanya mengakui-Nya namun mengingkari cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui-Nya, maka seorang itu akan disebut kafir karena tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya. Iblis yang mempercayai tuhan yang satu, mengakui-Nya sebagai pencipta alam semesta, masih juga disebut kafir disebabkan pengingkaran kepada perintah-Nya[5]

BACA JUGA  Tentang Syi’ah di Indonesia

 

Konsep Alam

Menurut imam al-Ghazali, alam dibedakan menjadi dua jenis yaitu alam malakut dan alam syahadah. Alam syahadah adalah alam yang terlihat, yang berupa materi atau fisik yang bisa kita amati dan kita capai dengan menggunakan indra manusia baik dengan bantuan alat maupun tidak, yang dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya sebagai jagat raya atau alam semesta. Dalam istilah Inggris disebut universe.  Sedangkan alam malakut, alam ini tidak bisa dicapai dengan indra manusia karena tidak terlihat namun bisa dijangkau oleh para kekasih Allah melalui  intuisi serta karunia dari Allah (God Grace)[6]. Dalam kitab tuhfatul murid ‘ala jauharotut tauhid, kata Alam (‘Alam) diartikan sebagai segala sesuatu yang ada selain Allah (ma siwallah) meliputi ‘alam ‘uluwwi yaitu alam yang tinggi /macrocosmos yang terdiri dari benda-benda langit, bintang-bintang, arsy, malaikat. sedangkan ‘alam sufli yaitu alam yang rendah atau microcosmos yang berada dibawah benda-benda langit seperti mendung, awan, lautan, dan semua hewan dan tumbuhan yang ada di darat dan lautan hingga makhluk mikro yang tidak bisa dilihat jika tanpa menggunakan mikroscope. Kata Alam merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki mufrad. Sedangkan menurut Ibn Katsir , kata ” عالم ” berasal dari kata  ”العلامة yang berarti tanda. Al-qur’an sebagai kalam Allah adalah ayat-ayat qauliyah dan alam semesta ini sebagai ayat-ayat kauniyah yang dengan keduanya menjadikan sebuah petunjuk bagi  yang mau berfikir yang akan mengantarkan manusia kepada tujuannya.

Namun, ilmu pengetahuan alam modern (fisika, kimia, kosmologi, dsb) tidak memandang alam semesta sebagai ayat-ayat dan tanda keberadaan dan kebesaran Allah ‘azza wa jalla, karena sains modern di dunia pendidikan saat ini tidak berdiri diatas cara pandang (Worldview) Islam, melainkan diatas landasan filosofis yang menganut paradigma positivistik yang melihat realitas hanya sebatas yang bisa di jangkau oleh indera, terukur oleh angka dan terumuskan hukum-hukumnya.[7]

Al-Raghib al-Ashfahani menjelaskan bahwa ‘âlam adalah al-atsar alladzi ya’lamu bihi asy-syai’ jejak yang dengannya sesuatu menjadi diketahui. Al-Faruqi menyebutkan bahwa dalam Islam, alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan, ia bersifat teleologis, sempurna dan teratur; sebagai anugerah ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia. Tujuannya adalah memungkinkan manusia melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan. Tiga penilaian ini, menjadi ciri utama pandangan Islam terhadap alam.[8]

Prof. al-Attas memberikan pengandaian konsep alam dalam Islam dalam struktur pengetahuan Islam. Bahwa alam bisa diibaratkan sebagai ‘tanda’ atau penunjuk jalan. Bila kita mengendarai sebuah kendaraan untuk sampai pada tujuan yang dimaksud, maka caranya adalah dengan membaca tanda yang tertera di pinggir jalan. Jika kita mengenali papan penunjuk tersebut dan mengetahui maksud yang ditunjuk oleh papan tersebut, maka kita kemudian akan meninggalkan papan itu dan beralih kepada arah yang ditunjukkan oleh tanda jalan tersebut. Papan tersebut tidak penting begitu untuk diperindah, yang penting adalah informasi dari apa yang ditunjukkan papan tersebut bisa tersampaikan dengan baik. Sebaliknya, jika papan itu dihiasi dengan ukiran yang indah, dilapisi emas dan permata, namun kita tidak mengetahui maksud dari tanda tersebut, maka papan penunjuk tersebut tidak ada gunanya. Pengandaian ini untuk menunjukkan bagaimana perbandingan antara alam dalam konsep Islam dan barat.[9]

BACA JUGA  Kebebasan dalam Pandangan Islam

 

Penciptaan alam

Ada beberapa pendapat mengenai teori kosmologi penciptaan alam, yang pertama adalah pendapat yang dianut oleh para falasifah yang mendasarkan konsep mereka pada Aristoteles dan sistem pemikiran Neo-Platonisme dengan konsep emanasi atau pancaran(Sudur), yang menganggap dunia sebagai pancaran niscaya dari wujud Tuhan, dengan adanya tuhan maka alam pun ada, yang dianalogikan seperti adanya matahari maka begitupula adanya sinar matahari. Sedangkan Ibn Sina menganalogiakan seperti gerakan tangan yang memutar kunci akhirnya menimbulkan gerakan kunci, dan keduanya ada secaara bersamaan. Ini karena menurut para falsifah Tuhan-sebagai-sebab, perbuatan Tuhan terjadi karena esensi-Nya. Karena Tuhan ada maka begitujuga dengan perbuatannya. dengan demikian menurut argumen ini Tuhan seakan terpaksa berbuat; Dia tidak punya pilihan dan tidak memiliki kehendak ataupun kekuasaan.[10] Gagasan sebab Ilahi dalam arti emanasi ini menyiratkan gagasan tentang Tuhan yang pasif dan impersonal.

Yang kedua adalah pendapat Imam al-Ghazali yang berangkat dari cara pandang teologi Islam dengan konsep penciptaan. Pendapat Al-Ghazali dalam al-Iqtisad  mengatakan bahwa alam semesta ini tidak hanya sebatas alam, yang terdiri dari langit, bintang-bintang, bumi dan seisinya, namun juga sebagai buatan Tuhan (Sun‘ullah)[11]. Berangkat dari pernyataan ini maka segala pernyataan tentang kosmologi dan berlangsungnya sebab-sebab sekunder dalam tatanan alam semesta harus pula dipandang sebagai entitas dan peristiwa yang diciptakan oleh tuhan.

Al-Ghazali dalam Qawa’id al Aqa’id menggambarkan bahwa Tuhan sebagai wujud yang menciptakan, mengatur, dan mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu diciptakan dengan ukuran. Alam semesta dibuat dengan pengetahuan dan kebijaksanaan Penulis tunggal dalam skema tunggal. Jadi segala sesuatu berjalan bersama-sama sesuai dengan ukuran dan memiliki tempat dan tingkat pentingnya sebagaimana yang ditentukan Tuhan[12]Qadar atau ukuran dalam ayat-ayat di atas harus dipahami sebagai pola, disposisi / kecenderungan, tren, atau dalam pengertian umum sebagai “determinisme holistik”. Ukuran juga dapat diartikan sebagai hukum yang ditahbiskan, itulah mengapa alam tampak seperti sebuah struktur yang kokok dan terangkai dengan baik tanpa celah, retakan dan dislokasi.[13]

Dalam konteks terjadinya dunia, al-Ghazali menjelaskan sebagai berikut: Dunia muncul pada waktu kehendak-abadi terhubung dengan kemunculannya waktu itu, dan ketika dunia itu muncul tidak ada satu kehendak baru atau perubahan dalam kehendak-abadi. Karena kehendak tuhan berdasarkan iradat-Nya jadi kehendak tuhan itu sendiri penentu karena ia menandainya dengan sebuah kalimat “ apa yang Dia kehendai terjadilah dan apa yang Dia tidak kehendaki tidak terjadi.[14] Kehendak Tuhan melekat pada kekuasaan, maka kehendak-Nya juga terkait dengan pengetahuan. Sehingga jelaslah argumen al-Ghazali tentang penciptaan menguatkan konsep Tuhan yang memiliki kekuasaan mencipta dan sebagai pencipta tunggal dunia. Meskipun kuasa Tuhan tidak terbatas dan mutlak, Dia tidak pernah melanggar apa pun dalam skema pergerakan alam semesta.[15] Argumen untuk membuktikan kekuasaan Tuhan sebagai pelaku di tulis sebagai berikut :

BACA JUGA  Ekspansi Syiah, Intoleransi dan Dilema Solusi Damai

Setiap perbuatan yang dirancang dengan baik berasal dari pelaku yang kuat. Dunia adalah perbuatan yang dirancang dan tertata dengan baik, oleh karena itu dunia berasal dari pelaku yang kuat.[16]

 

Kesimpulan

 

Alam semesta memang tampak samar-samar menampilkan dirinya sebagai ayat. Oleh karena itu, untuk memahaminya, kita perlu berangkat dari Al-Qur’an sebagai ayat qauliyah. Firman-firman Allah yang suci di dalam Al-Qur’an menjelaskan pada kita makna alam semesta dengan benar, dengan bahasa Arab Islam yang memiliki kekuatan menampung makna tersebut secara memadai. Hal inilah yang membuat pendekatan linguistik Arab menjadi salah satu syarat penting di dalam ‘Ulumul Qur’an, termasuk untuk memahami ayat-ayat yang berbicara tentang ilmu dan alam.

Dengan demikian pengetahuan akan konsep alam yang benar dalam pandangan seorang muslim akan membawa kepada perilaku yang tepat sesuai adab. Dan bahwa pengetahuan akan alam akan mengantarkan seorang muslim sampai kepada penghambaan yang benar. Bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla, dengan segenap jiwa dan raga. Karena ia yakin bahwa, alam yang luas serta kompleks ini adalah bukti kekuasaan-Nya.  Wallahu’alam bisshowab.

Penulis adalah Peserta Program Takhossus Kuliah Dirosah Islamiyyah Pandaan

 

[1] Lihat SMN al-Attas, Islamic Philosophy: an Introduction,dari Journal of Islamic Philosophy, 2005, hlm. 11-43.

[2] SMN al-Attas, Prolegomena to the metaphysics of Islam. Hlm. 2-3.

[3] Ibid., hlm. 3-4.

[4] Ibid., hlm. 4-5.

[5] SMN al-Attas, Prolegomena to the metaphysics of Islam. Hlm. 8.

[6] SMN al-Attas, Prolegomena to the metaphysics of Islam. Hlm. 178.

[7]

[8] Ismail R. al-Faruqi, Tauhid  (terjemahan: Rahmani Astuti), Bandung: Pustaka, 1995, hlm. 51.

[9] Lihat: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of Future, dikutip dari Syed Muhammad Naquib al- Attas, Islam dan Filsafat Sains (Penerjemah: Saiful Muzani), Bandung: Mizan, 1995, hlm. 58-59.

[10] Hamid fahmi zarkasy, “Kausalitas:Hukum alam atau Tuhan?”, 2010, hlm. 130.

[11] Ibid, hlm. 126.

[12] Ibid. hlm. 133.

[13] Al-Quran, Surat al-Mulk (67) ayat 3-4.

[14] Al-Ghazali, al-Iqtisad, M.Abu al-‘Ala (ed), hlm. 108. Dalam “Kausalitas:Hukum alam atau Tuhan?” Hamid fahmi zarkasy, 2010 hlm. 132.

[15] Al-Ghazali, “Qawa’id al- Aqa’id fi al-Tawhid”, dalam al-Qusur al-Awali min Rasa’il al-Ghazali jilid 4, Kairo : Musafa Abu al-‘Ala, Maktabah al-Jundi, 1972), hlm. 149-150.

[16] Al-Ghazali, al-Iqtisad, M.Abu al-‘Ala (ed), hlm. 90.

Last modified: 11/08/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *