Liberalisme, Ideologi Impor Dari Barat
Oleh: Akhmad Muamar
Dari Barat ke Dunia Islam
Liberalisme merupakan suatu paham yang timbul dan berkembang di dunia Barat. Paham ini mengusung paham-paham lain seperti paham relativisme. Paham relativisme adalah paham yang menganggap kebenaran itu relatif. Jadi tidak ada kebenaran absolut. Dari paham relativisme ini lahirlah paham pluralisme agama. Paham ini menganggap bahwa semua agama adalah benar dan tidak ada agama yang paling benar. Tidak ada agama yang berhak mengklaim mempunyai kebenaran absolut.
Hubungan antara Syari’at Islam dengan Hukum Romawi
Oleh: A. Abdulloh Khuseini
(Alumnus PKU Gontor)
Pendahuluan
Sebelum syari’at Islam terdapat banyak syari’at dan undang-undang. Di antaranya ada yang diturunkan dari sisi Allah SWT. yang di sebut dengan syari’at Ilahi atau samawi. Syari’at ini banyak jumlahnya, karena setiap ummat tidak terlepas dari adanya seorang Rasul yang di utus Allah SWT. untuk menyampaikan syari’at dan hukum-Nya. Firman Allah SWT.:
Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah
Oleh Dr. Syamsuddin Arif
TAHUN kesepuluh Hijriah atau 632 Masehi merupakan tahun krisis. Dua orang ‘nabi gadungan’ muncul hampir bersamaan. Bukan secara kebetulan. Tetapi lantaran terbuka kesempatan apabila tersiar berita bahwa Rasulullah jatuh sakit. Maka di negeri Yaman, seorang bernama al-Aswad ibn Ka‘b al-‘Unsi pun memproklamirkan diri sebagai nabi. Lewat pelbagai atraksi seperti menyuruh keledainya bersujud –tentu sesudah dilatihnya, al-Aswad sempat mendapat sejumlah pengikut di Najran dan Sanaa. Ia juga mengklaim didatangi oleh dua malaikat, satu bernama Sahiq, dan satu lagi bernama Syahiq, dengan wahyu berbunyi: “Wal mayisati maysa, wad darisati darsa, yahijjuna ushaba wa furada.” Lantas bagaimana sikap pemerintah kala itu? Gubernur Khalid ibn Sa‘id langsung mengusirnya dari Sanaa. Kemudian Rasulullah mengirim detasemen khusus untuk menumpasnya.
Akal (Intelek) Dalam Pemikiran Al-Attas: Suatu Uraian Singkat*
Akhmad R. Damyati, MA**
Akal merupakan bagian terpenting dalam diri manusia. Karena akallah manusia berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Karena akalnya ia diberikan amanah dan kewajiban oleh Sang Pencipta. Namun, tidak sedikit orang memahami akal secara sempit dan distortif. Maka tidak heran apabila ketidakadilan dalam pemikiran kerap mewarnai kehidupannya. Tulisan ini mencoba mengulas akal dari sudut pandang al-Attas.
Filsafat dan Konsep Ketuhanan Menurut Al-Kindi
Pendahuluan
Al-Kindī (185-260 H) dikenal sebagai filosof muslim yang berusaha mengkompromikan antara teori filsafat dan agama dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu yang benar (knowledge of the truth)[1]. Ia dikenal sebagai filosof yang pertama kali membwa sistem pemikiran yang berdasarkan logika filsafat Yunani[2]. Tujuan filsafatnya adalah mencari yang benar. Mencari yang benar itu menurut al-Kindī tidak lain sama halnya dengan yang dipraktikkan dalam mempelajari agama. Kajian tentang sesuatu yang benar abolut ini bagi al-Kindī adalah pengkajian konsep Tuhan.