Peran Kolonial Belanda Dalam Konflik Islam dan Jawa
M. Masykur Ismail
(Peneliti InPAS)
Inpasonline.com, 09/07/11
Pendahuluan
Para pengkaji sejarah Islam di Indonesia hampir semuanya sepakat bahwa Islam disebarkan dan dikembangkan di wilayah Nusantara ini dengan cara yang damai. Pada umumnya, penduduk di kepulauan ini menerima dan memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad (saw) ini secara suka rela, tanpa dilatarbelakangi dengan adanya suatu paksaan atau tekanan. Tentu saja keyakinan akan kebenaran ajaran Islam menjadi pertimbangan utama penduduk Nusantara waktu itu, di samping pertimbangan politis dan ekonomis.[1] Tidak heran jika ajaran dan kebudayaan Islam mengalir sangat deras dari tanah Arab maupun wilayah Islam lainnya ke tanah Indonesia ini. Bahkan agama Islam menjadi agama mayoritas yang dipeluk oleh penduduk Nusantara, dan dalam batas tertentu, Islam menjadi pembentuk jati diri penduduk Indonesia.
Mongolia dalam Lintasan Sejarah Islam
Kartika Pemilia Lestari*
Inpasonline.com, 21/06/11
Tidak ada teror dan kekejaman yang lebih tragis dalam sejarah Islam dibandingkan dengan apa yang diperbuat oleh bangsa Mongol. Laksana avalanche, pasukan Jenghiz Khan menggasak habis seluruh pusat peradaban dan kebudayaan Islam, mereka selalu meninggalkan puing-puing berantakan di setiap tempat yang mereka lalui, dimana sebelumnya berdiri istana-istana, kota dengan taman-taman yang indah dan kebun-kebun gandum yang subur. Ketika tentara Mongol bergerak meninggalkan kota Heart, hanya tersisa 40 orang yang hidup dari 100.000 penduduknya. Bukhara yang terkenal dengan alim ulamanya, mengalami nasib yang sama, masjid diinjak-injak, al-Qur’an dan kitab-kitab agama dijadikan kayu bakar, seluruh kota diratakan dengan bumi, orang-orang yang tidak terbunuh alias masih hidup, digiring sebagai tawanan dan budak. Demikian juga halnya kota demi kota lain di Asia Tengah, yang pada waktu itu telah mencapai tingkat kebudayaan yang tinggi sebagai pusat-pusat peradaban Islam, mengalami kehancuran yang sukar digambarkan : Samarkand, Balkh, bahkan Baghdad yang berabad-abad menjadi ibukota dinasti Abbasiyah.
Laksamana Cheng Ho (Sang Penjelajah Dunia yang Muslim Taat)
Petualang Christopher Columbus dikenal hebat karena berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492. Namun tahukah Anda bahwa ada penjelajah yang jauh lebih hebat? Dia adalah Laksamana Cheng Ho, seorang Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu.
Dakwah Islam di Tanah Jawa
Arif Wibowo
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Rame-rame ngoyak doro mabur muluk adhuh,
Nusup sileming mego-wan
Alok-alok playune kesandhung-sandhung tobil
Sarange dhewe ucul
Jroning gupon akeh piyike
Nora kopen, kontrang-kantring
Akeh kang kabandhang gupone katon komplang
Jebulane, sakabehe, melik sarwa mala kang dudu mesthine
Amburu uceng, kelangan dheleg
Mrih tentreme bebrayan, urip ingkang prasaja
Tembang doro muluk yang dibawakan seniman Sujiwo Tejo dalam salah satu albumnya mempunyai kandungan yang sangat dalam, resep membuat suasana Sakinah dalam keluarga. Tembang dan geguritan, memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jawa. Mulai dari yang sangat Jawa seperti doro muluk dan Ilir-Ilir maupun yang kental corak Islamnya seperti Tombo Ati dan aneka sholawat berbahasa Jawa yang masih setia mengiringi jama’ah menuju masjid di sehabis dikumandangkannya adzan.
“Terjemah”: Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam
Oleh: Iskandar Zulkarnaen
Pendahuluan
Peradaban Islam ditinjau dari terjemahan bahasa Arab adalah al-hadharah al-islamiyah. Kata peradaban (al-hadharat, civilization) seringkali diidentikkan dengan kata kebudayaan (al-tsaqafah, culture). Meskipun sementara kalangan membedakan pengertian kedua kata tersebut, namun argumen yang mengidentikkan keduanya juga cukup kuat. Kompromi dalam masalah ini ialah bahwa pada suatu saat pembedaan itu absah dan pada saat yang lain pengidentikan juga absah. Dalam bahasa Arab, selain disebut sebagai al-hadharat, peradaban terkadang juga disebut dengan al-tamaddun. Karena itu tidaklah mengherankan apabila masyarakat madani kemudian diterjemahkan menjadi masyarakat beradab atau civil society.