Author: admin

Nasional

Mengenang Ulama’ Berjuluk “Kamus Berjalan”

Sabtu petang, 28 Agustus 2010, al-Ustadz al-Habib Hasan Muhammad Baharun berpulang pada usia 95 tahun. Kepergian habib tertua di Indonesia asal Bondowoso tersebut diantar oleh ribuan  pentakziah dari berbagai kota di Indonesia pada esok harinya, Minggu (29/8) pukul 15.00. Kepergiannya menyedot ribuan santri dan ulama’. Maklum beliau termasuk ulama’ sepuh yang menjadi rujukan para ulama’ di Jawa Timur.

Opini

Mempertanyakan Intelektualitas Mahasiswa

(Sebuah Catatan Atas Anarkisme yang Kembali Terjadi di Berbagai Kampus di Makassar)

Oleh; Muhammad Rais

Sekjen Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan Malaysia

 

Satu-satunya pihak yang paling ditakuti oleh para penguasa adalah mahasiwa. Begitulah kira-kira Taufik Ismail menggambarkan keperkasaan mahasiswa dalam sebuah puisinya. Lalu masihkah mahasiswa perkasa dan ditakuti? Masihkah gelar intelektual itu melekat pada diri mahasiswa? lalu kenapa pula muncul adagium tentang tukang becak yang disetarakan dengan mahasiswa?

Pemikiran Islam

Adab Berpolitik Menurut Imam al-Ghazali

Oleh: Kholili Hasib

 

Pengantar

Di tengah ketegangan perpolitikan nasional dan regional, kita bisa menangkap bahwa bahwa politik kita telah kehilangan adab (loss of adab). Berkaitan dengan politik beradab ini, maka Imam al-Ghazali cukup tepat ditempatkan sebagai cermin. Corak pemikiran politik Imam Al-Ghazali di latar belakangi oleh pengalaman-pengalaman Al-Ghazali dengan dunia kekuasaan pada masanya dan kepakaranya dalam berbagai bidang ilmu. Di zaman Imam al-Ghazali, praktik-praktik politik banyak yang menyimpang dari jalur syari’at, seperti korupsi, penyalah gunaan kekuasaan, perpecahan umat dan krisi ulama’. Al-Ghazali melihat, problem itu bermuara dari krisis keilmuan. Oleh sebab itu, kritik Imam al-Ghazali ditujukan kepada para ulama’ sebagai pengemban ilmu. Kedzaliman ilmu telah membuat krisis epistemologis yang berujung kepada lemahnya umat melawan kekuatan-kekuatan asing, termasuk kekalahan dalam perang salib[1].  Kritik-kritik tajam al-Ghazali dituangkan dalam beberapa karyanya, seperti Al-Tibr al-Masbuk fii Nashihat al-Muluk, Ihya’ Ulumuddin, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad dan Fadhaih al-Batiniyah. Selain memperbaiki problem epistemologis, imam al-Ghazali juga mempunyai misi misi mempersatukan umat dalam satu bendera akidah, membuang fanatisme kesukuan dan nasionalisme sempit.