Posmodernisme di Indonesia; Tinjuan dan Kritik
Oleh Kartika Pemilia Lestari*
Pendahuluan
Dengan nada masygul, Ernest Gellner mengomentari kemunculan posmodernisme di jagad pemikiran dunia dengan kalimat tajam, “Tidak jelas setan apa gerangan ini. Kejelasan bukanlah ciri menonjol dari gerakan ini....semuanya adalah makna, makna adalah segalanya, dan hermeneutika[1] adalah nabinya.”[2]
Hasbi Ash-Shiddieqy, Pemikir Besar dari Kota Kecil
Oleh M. Anwar Djaelani
Hasbi Ash-Shiddieqy ulama terkemuka. Sekalipun berasal dari Lhokseumawe -kota kecil di Aceh- kontribusi dia sangat besar di bidang dakwah dan pendidikan Islam. Berbagai aktivitasnya –baik melalui dunia pergerakan maupun tulisan- adalah teladan yang patut untuk terus kita hidup-hidupkan.
Hasyim Asy’ari, Pejuang Syariat dan Penolak Hal Nyleneh
Oleh M. Anwar Djaelani
Jika ingin melihat ‘pendapat’ NU atas berbagai persoalan di tengah umat, kapanpun akan tetap relevan jika menjadikan pendapat atau pemikiran Hasyim Asy’ari sebagai salah satu referensi terpenting. Mengapa?
Relasi Dualisme dengan Penistaan Asma Allah
Tragedi akademik terjadi lagi di sebuah kampus Islam. Kali ini dilakukan WU, dosen STAIN Jember, di hadapan mahasiswanya. Seperti diberitakan www.hidayatullah.com pada 6/1/2012, WU menghapus lafadz Allah dengan sepatunya. Kontan, aksi yang meresahkan mahasiswa tersebut dikecam PCNU (Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama) Jember.
Rais Syuriah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad menilai, perilaku dosen tersebut dapat dikategorikan masuk pada wilayah kekeliruan akidah. Berdasarkan hasil Bahtsul Masail PCNU Jember yang dilaksanakan pada 31 Desember 2012, aksi WU dihukumi haram, dan menyebabkan kemurtadannya dari Islam.
HAMKA, Sang Otodidak ‘Produsen’ Seratus Buku
Oleh M. Anwar Djaelani
HAMKA itu inspiratif. Bahwa, dari orang yang tak tamat SD lahir lebih dari seratus buku. Tak hanya itu, dua universitas berkelas tak ragu memberi gelar Doktor Honoris Causa kepadanya.