Kolonialisasi dan Peran Tarekat Mason Bebas dalam Sekularisasi Pendidikan

Menginjak paruh abad ke-19, telah dimulai penjajahan di bidang pendidikan Indonesia secara sistemik oleh Belanda. Penjajah Belanda sendiri datang ke Nusantara membawa beberapa kelompok, seperti kelompok Mason Bebas, misionaris dan orientalis. Tarekat Mason Bebas (perkumpulan penganut kebatinan Yahudi) memprakarsai pendirian lembaga pendidikan, pembinaan dan perkembangan di Indonesia. Pendirian ini dikendalikan oleh loge-loge (tempat peribadatan kaum Teosofi). Selain untuk memenuhi kebutuhan pendidikan orang-orang Indo-Eropa di Jawa, pendirian sekolah-sekolah bentukan Mason Bebas tersebut juga untuk menyaingi pesantren. Sekolah tersebut difungsikan mengendalikan pribumi agar tidak memasuki lembaga pesantren yang telah menjadi basis perjuangan melawan penjajah.

Sejak 1864, orang-orang Jawa sudah bersekolah di lembaga milik Belanda, Europeesche Logere School (ELS). Selain itu kaum Tarekat Mason Bebas juga telah mendirikan sekolah STOVIA dan OSVIA atau sekolah Pamong Praja, Recht School (Sekolah Hukum). Hampir semua sekolah milik kolonial Belanda tidak lepas dari pengaruh gerakan Mason Bebas. Mereka ingin menarik kaum elit pribumi untuk bisa dikendalikan penjajah. Petinggi Belanda juga menyedikan beasiswa bagi pribumi dan kaum Indo-Eropa dengan mendirikan lembaga beasiswa bernama Dienaren van Indie (Artawijaya, Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara, hal.42-43).

Lembaga Dienaren van Indie diketuai oleh Ir. Leeuwen yang juga ketua perkumpulan Teosofi pada masa itu. Beberapa pemuda ningrat yang mendapat beasiswa tersebut adalah Thabrani, Soepomo dan Siti Soemandari. Orang-orang Belanda memiliki misi khusus mendidik kaum pribumi ini. Alumni-alumni Belanda kebanyakan lebih mudah diajak berkompromi dengan penjajah, dan pemikirannya tidak seperti kaum Santri yang kuat memegang ajaran Islam. Menurut pengakuan Thabrani, beberapa tokoh pergerakan yang pernah menerima beasiswa tersebut antara lain; Prof. Soepomo, Prof. M. Yamin, Prof. Soekanto, Tirtawinata, dr. M. Amir dan lain-lain (Ridwan Saidi & Rizki Ridiasmara, Fakta dan Data Yahudi di Indonesia, hal. 18).

Inilah bagian strategi Belanda menjalankan ‘Politik Balas Budi’. Tapi sesungguhnya balas budi Belanda ini justru merugikan identitas keislaman Nusantara kelak. Dengan politik ini Belanda menampilkan tokoh-tokoh yang nasionalis-sekular. Sedangkan tokoh santri berusaha dimarginalkan.

Pribumi didikan Belanda cenderung sekular dan antipati terhadap Islam. Namun mereka mendapat posisi penting di organisasi kepemudaan dan kemerdekaan. Siti Soemandri, misalnya, ketika menjabat redaktur majalan Bangoen pada No. 9 tahun 1937 ia menurunkan tulisan yang menghina istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alai wa sallam. Sementara, Thabrani pernah diberi kedudukan sebagai pejabat tinggi Badan Penerangan di awal kemerdekaan. Setelah itu mempimpin perusahaan Coca Cola hingga wafat.

Keosoema Joedha, putra dari Paku Alam V menjadi pribumi pertama yang kuliah di Universtitas Leiden Belanda. Joedha dikenal sebagai intektual yang memprogandakan pentinganya mempelajarai kebudayaan Barat. Ia pernah menjadi redaktur surat kabar Bintang Hindia. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Rakyat (volksrad) Ponorogo pada 1916 (Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara, 44).

Pada zaman itu, kolonial Belanda membagi masyarakat Indonesia menjadi dua, yakni kaum santri dan kaum abangan. Politik dikotomisasi ini berpengaruh terhadap dikotomisasi pendidikan. Dikesankan, tempat belajar kaum santri hanya di pesantren sedangkan kaum abangan belajar di ‘sekolah umum’. Kaum santri tidak etis belajar di sekolah umum dan kaum abangan sama sekali tidak mendapatkan pelajaran agama. Efek dikotomisasi itu menguat hingga sekarang ini.

Menurut catatan Th. Stevens dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962”, bebarapa elit keraton Jogjakarta telah direkrut menjadi anggota Mason Bebas. Mereka dididik ala pendidikan sekuler Barat. Di antaranya Pangeran Ario Seoryodilogi (1835-1900), Pangeran Adipati Ario Notokusmua, Pengeran Ario Notodirejo, RM. Surarjo dan Pengeran Ario Kusumo Yudo. RM Surarjo dikirim ke Belanda untuk menempuh pendidikan.

Sekolah-sekolah yang didirikan oleh kaum Tarekat Mason Bebas mengajarkan pandangan hidup Barat seperti; humanisme, sekularisme dan pluralisme. Th. Stevens menulis: “… bahwa generasi-generasi muda dididik dengan pandangan dunia yang sangat berbeda daripada orang tuanya: yaitu pandangan dunia dari Barat dengan nilai-nilai modernnya tentang perkembangan perorangan, pemerintahan secara demokratis, dan kemerdekaan nasional” (Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, hal. xxiv).

Artawijaya mengutip buku Munculnya Elit Modern karya Robert van Niels menyatakan bahwa sejak 1870 –sejak munculnya sekolah-sekolah milik Mason Bebas– kota-kota Jawa menjadi pusat penyebaran kebudayaan dan paham Eropa. Orang-orang Eropa membawa ‘suatu dunia Barat’ di daerah perkotaan Jawa.

Selain interaksi keilmuan di sekolah-sekolah, penyebaran pandangan hidup Barat juga terjadi di Loge-Loge. Di Loge Mataram, misalnya, van Niels mencatat, tempat peribadatan kaum Teosofi ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang terpelajar anggota tarekat Mason Bebas dengan elit-elit Jawa.

Teosofi adalah sayap dari gerakan Mason Bebas. Aliran kebatinan Yahudi yang mengajarkan mistisisme dan okultisme. Aliran ini bahkan menyembah setan. Tokoh-tokoh Mason Bebas Belanda melihat ada kesamaan tradisi Teosofi dengan ajaran Jawa kuno. Dari sinilah interaksi sangat erat dan Belanda berusaha menguatkan daya tarik terhadap orang-orang Jawa kuno. Ajaran-ajaran Kejawen akhirnya banyak terinfiltrasi oleh kebudayaan Teosofi.

Ajaran Teosofi menjadi doktrin kuat dalam sekolah-sekolah Belanda. Biasanya ajaran yang mereka usung adalah mementingkan toleransi dengan segala perbedaan dan doktrin adanya kesatuan kemanusiaan. Ajaran ini sempat menjadi perdebatan pejabat kolonial, karena akan memberi tempat bagi pribumi. Namun seorang Mason bernama Van der Linden mendesak agar elit-elit Jawa diterima. Ternyata gagasan Linden ini bagian dari ‘politik etis’ yang dikeluarkan Ratu Belanda Wilhelmina pada 1901. Politik ini menginstruksikan dihapuskannya perbedaan-perbedaan dengan mengasimilasi pribumi ke dalam peradaban Barat.

Ternyata ‘politik etis’ Belanda tersebut bagian dari strategi pembaratan terhadap tokoh-tokoh pribumi. Antara penjajah Belanda dan kaum Tarekat Mason Bebas sama-sama memiliki kepentingan dalam kebijakan politik etis ini. Bagi kolonial, rakyat Indonesia akan mudah ditundukkan untuk diajak kompromi. Orang sekuler lebih mudah ditundukkan daripada kaum santri. Kaum Mason jelas dengan leluasa menyebarkan paham kebatinan Yahudinya.

Paham humanisme menjadi doktrin paling kental dalam pengajaran gerakan Mason Bebas. Th. Stevens menulis bahwa dalam Tarekat Mason Bebas, nilai tinggi kepribadian manusia berada di depan. Manusia sebagai individu dalam pemikiran masonik ditempatkan secara sentral. Manusia bisa menjadi ‘manusia yang baik’ tanpa harus beriman kepada Tuhan. Doktrin humanisme ini yang menjadi asas pergerakan Mason Bebas.

Sistem pendidikan yang diterapkan disebut sistem pendidikan netral. Dalam pendidikan netral tidak diajarkan agama. Bahkan sistem itu merusak akidah. Mereka juga mengajarkan netral agama. Ridwan Saidi menulis, salah satu pokok ajaran Teosofi mengajarkan semua agama yang digelar di dunia ini sama saja. Yakni sama-sama berisi teosofi.

Pendidikan netral ini juga diusung oleh Ki Hajar Dewantoro. Ki Hajar Dewantoro sendiri adalah keturunan Paku Alam yang tercatat menjadi anggota perkumpulan Tarekat Mason Bebas di Jogjakarta. Lembaga pendidikannya Taman Siswa tidak mencantumkan asas ketuhanan dalam sistem pendidikannya. Akan tetapi asas yang diterapkan merupakan pengaruh Teosofi. Tiga asas pendidikan Taman Siswa adalah; mengabdi kepada perikemanusiaan, kepribadian sesuai kodrat alam, dan kemerdekaan. Tampak sekali, paham humanisme menjadi salah satu asas pendidikannya.

Maka, sejak abad ke-19 terjadi ‘pertarungan budaya’ antara Islam dan kebatinan bentukan Mason Bebas. Sebenarnya, budaya kebatinan telah terkikis oleh Islamisasi. Syed Muhammad Naquib al-Attas menulis bahwa kedatangan Islam mengubah kehidupan dan dunia manusia Nusantara secara radikal. Terutama kaum sufi dan ahli Kalam telah memainkan peran besar dalam mengislamkan jiwa Nusantara. Islam mengubah pandangan hidup masyarakat Nusantara. Hanya saja, pengaruh filosofis agama Hindu, menurut al-Attas, terlalu dibesar-besarkan oleh Belanda. Padahal kebudayaan Hindu hanya meninggalkan estetika bukan filosofi, sedangkan Islam mengesankan secara kuat estetika dan filosofis.

Belanda menghidupkan kebatinan Jawa melalui infiltrasi mistisisme Mason Bebas kepada elit-elit Jawa. Kepada elit-elit priyayi Belanda mengaburkan sejarah Nusantara dengan mendoktrinkan bahwa identitas Nusantara bukan budaya Islam-Melayu tapi kebatinan Jawa. Terhadap elit-elit Jawa yang tersangkut gerakan Mason Bebas ini dipopulerkan bahwa kebatinan adalah identitas asli sehingga perlu disebarkan, sedangkan pandangan hidup Islam adalah infiltrasi dari luar Nusantara. Politik ini mirip dengan wacana mewaspadai gerakan ‘trans-nasional’ akhir-akhir ini. Tujuan keduanya sama, melenyapkan ajaran asli Islam dari Nusantara.

Jadi misi dalam pendidikan ini sebenarnya memiliki tujuan jangka panjang. Belanda ingin melanggengkan kolonialismenya di Nusantara dalam bentuk lain. Yakni menjajah pikiran dan pendidikan. Pengaruhnya masih dirasakan hingga zaman kemerdekaan ini. Pembelahan secara dikotomis pendidikan agama dan pendidikan umum masih kuat dalam paradigma pendidikan Nasional. Bahkan berhasil menciptakan kesan-kesan negatif; kaum santri adalah kaum pinggiran, tidak memiliki wawasan ilmu umum. Dan ironisnya lagi, kaum santri juga termakan propaganda bahwa kaum santri apalagi putra kyai dilarang keras mengenyam pendidikan umum.

Secara politis, strateginya cukup mengakar. Sebab Belanda mengkader tokoh-tokoh nasional untuk memainkan peran penting dalam menjalankan negara dan pendidikan nasional. Jadi, liberalisasi sudah berakar lama sejak zaman kolonial Belanda.[]

 

BACA JUGA  NU dan Pandangannya Terhadap Aliran Sy’iah
No Response

Leave a reply "Kolonialisasi dan Peran Tarekat Mason Bebas dalam Sekularisasi Pendidikan"