Waria: Antara Penyakit Masyarakat dan Liberalisme

Kebebasan dan Hak Asasi Manusia menjadi dasar argumentasi terwujudnya sesuatu yang menentang agama dan kodrat itu. Wacana yang sudah berkembang di negara berpenduduk Islam terbesar ini, menjadi proyek pemasaran budaya barat yang berseberangan dengan wahyu yang menjunjung moral. Sebuah peradaban yang menjadikan realitas sebagai hukum hidup yang disebut empirisisme. Kampanye besar-besaran pun terkoordinasi dengan dukungan penuh media cetak ataupun elektronik yang menggembar-gemborkan dagangan barat.

Tayangan televisi yang didominasi hiburan berbau sinetron telah membentuk prilaku masyarakat. Dari anak-anak sampai orang tua sangat menikmati tayangan penghibur nafsu, pembangkit syahwat, pembentuk pola pikir hedonis, dan syarat kepentingan pemilik kekuasaan.

Tidak aneh ketika sebuah sinetron selalu diwarnai peran waria, bahkan kurang menarik kiranya ketika sosok “cewek” berbasis cowok ini tidak ada dalam sinetron. Pada akhirnya, pelan tapi pasti image waria yang negative di masyarakat, menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan.

26 Juli 2008 warga pesantren merasa “tertampar” ketika mendengar dan menyaksikan sebuah “pesantren” di Notoyudan, kecamatan Ngampingan, Jogyakarta berdiri dengan santri 100% waria, didirikan oleh seorang waria, dan dikepalai waria pula. 

Maryani, waria 48 tahun, mantan ketua Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO) pencetus sekaligus pemimpin “ponpes” senin kamis waria satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Berawal dari keikut sertaannya dalam pengajian KH. Hamrolie Harun MSc di Pathuk, Jogyakarta sepuluh tahun silam. Gagasan mendirikan “pesantren” waria pun muncul dan terlaksana. Sosok KH. Hamrolie tak luput dari pendirian “pesantren” ini dan bahkan beliau mengirim murid-muridnya sebanyak 25 ustadz untuk mengajar di “pesantren” ini. (Surya, 16/11/2008).

Namun orientasi pesantren jadi bias ketika sang pencetus dan pemimpin “pesantren” yang konon telah begitu lama menggeluti dunia pengajian KH Hamrolie masih tetap betah dengan status waria meskipun naik jabatan jadi pemimpin “pesantren”. Terlebih dia katakan sebagaimana dikutif Koran Surya 16/11/08, bahwa sebagai waria senior Maryani memiliki pengalaman hidup yang panjang, termasuk keluar malam alias mencari pelanggan laki-laki hidung belang, mulai dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya (kawasan ketabang kali), Solo (kawasan lapangan Manahan), hingga ke Jakarta (Taman Lawang). Pengalamannya itu memberikan toleransi kepada “santri” dipondoknya belum dapat meninggalkan buruk “keluar malam”. Dia katakan, “Biar saja masih keluar malam meskipun mereka sudah menjadi santri disini..”

Tujuan mulia pesantren mengarahkan orang berlaku normal dan beradab bergeser jauh menjadi sarana legalisasi prilaku terlaknat waria. Sebuah riwayat hadits mengatakan,

Rasulullah saw. telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki. (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad).

Sebelumnya invasi liberalisme barat ini pun menjadi-jadi di Indonesia, ketika negara ini sudah dua kali mengadakan miss waria Indonesia. Yang pertama berlangsung tertutup dan dijaga ketat puluhan aparat kepolisian Resort Jakarta Pusat dan Kepolisian Sektor Menteng.

Ahad 26 Juni 2005, komunitas banci, bencong, waria, atau wadam berani menggelar hajatan gede-gedean dalam acara pemilihan Miss Waria Indonesia 2005 kedua  di Gedung Sarinah Lt. 14, Jakarta. Sebanyak 30 waria dari berbagai daerah mengikuti kontes ini. Mereka menunjukkan kebolehan masing-masing seperti bernyanyi, menari, dan tentunya berperilaku plus berdandan seperti wanita. Olivia, kontestan dari Jakarta, akhirnya terpilih sebagai Miss Waria Indonesia 2005 . Penyematan mahkota langsung dilakukan Miss Waria Indonesia 2004 Megi Megawati. Menurut ketua dewan juri Ria Irawan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. ( Liputan 6, 27/06/05 ).

Merlyn Sopjan, seorang penulis buku Jangan Lihat Kelaminku . Waria lulusan Institut Teknologi Nasional Malang ini pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif Kota Malang mewakili Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada 2003. Waria “cantik” kelahiran Kediri ini bahkan dianugerahi gelar Doktor HC dari Northern California Global University Amerika karena keterlibatannya sebagai aktivis sosial HIV/AIDS. Ketua Ikatan Waria Malang yang pernah menjadi Ratu Waria Indonesia 1995 ini akan mengikuti kontes Miss Internasional Waria di Thailand November mendatang. ( Suara Merdeka, 12/05/2005 ).

Shunniyah Ruhama Habiballah, Sekjen Yayasan Putri Waria Indonesia, waria berkerudung (atau sengaja dikerudungin untuk mengesankan simbol islami?) menulis buku berjudul Jangan Lepas Jilbabku . Waria ini adalah alumni UGM Yogyakarta jurusan sospol dengan predikat cum laude dalam waktu 3 tahun 40 hari. Di Polewali, Agustus 2008, dia menggelar ajang putri-putrian versi waria. Acara Top Model Waria ini merupakan turunan kegiatan dari Yayasan Putri Waria Indonesia.

Di Yogyakarta, kelompok waria melakukan aksi menuntut kesetaraan orientasi seksual dan identitas gender. Aksi yang dilakukan Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan dan Diskriminasi ini, menolak segala tindak kekerasan dan bentuk diskriminasi maupun stigma yang berbasis orientasi seksual dan identitas gender pada Rabu (13/8/08).

Belasan orang yang menutup wajahnya dengan kain hitam itu berunjuk rasa di depan Gedung Agung (Istana Negara) Yogyakarta. Di leher mereka tergantung poster yang bertuliskan `homo seksual bukan kriminal`, `homo seksual bukan penyakit jiwa`, dan `homoseksual = HAM`. Mereka menuntut perlakuan sama dengan lainnya, seperti penerimaan bekerja di sektor formal.

Menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-63, digelar aksi tanding voli antara kaum ibu dan waria di Samarinda. Untuk menarik perhatian, pawai bencong dan lomba-lomba dengan mengenakan pakaian wanita juga digelar.

Realitas ini pun menjadi-jadi ketika sejumlah orang memberikan legitimasi dan pembenaran dari agama. Seperti sebuah situs mengangkat judul menghormati waria. Isinya mengemukakan bahwa Nabi menanggapi kasus waria dengan mengusirnya setelah memberikan jawaban kepada sahabat yang membawa waria dan menanyakan apa hukumannya. Nabi menjawab, asingkan dia. Pada waktu itu datang seorang sahabat kepada Nabi bersama seorang waria. Saat itulah Nabi bersabda sebagaimana hadits di atas. Saat itu Nabi ditanya seorang shahabat apakah dia harus dibunuh? Nabi menjawab agar ia diasingkan saja. Pengasingan diambil agar ia selamat dari cemoohan dan perlakuan diskriminasi dari masyarakat Arab yang memang keras saat itu. (Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islāmiy wa Adillatuh, juz. IV, hlm. 2683-2684).

Ada beberapa alasan mengapa waria mesti diusir. Pertama, tujuan pengasingan yang dilakukan Nabi saat itu adalah untuk melindungi waria dari tindakan masyarakat yang mengancamnya. Kedua, waria yang diasingkan tersebut adalah lelaki yang memang sengaja mengubah dirinya menjadi wanita. Bukan faktor bawaan sejak kecil yang di luar kontrol dirinya. Inilah yang dikecam keras oleh Islam. Ketiga, pelarangan Nabi tersebut sebagai upaya menjaga keberlangsungan kehidupan manusia (hifdh al-nasl). (http://cfssyogya.wordpress.com/2007/03/15/menghormati-waria).

Membonceng sabda Rasul saw, pendapat diatas seakan memberikan legitimasi atas eksistensi waria dalam Islam. Islam telah jauh hari dari A sampai Z telah menegaskan bahwa Islam tidak memberikan tempat untuk waria sebagai representasi homoseksualitas. Di dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan bahwa praktik homoseks merupakan satu dosa besar dan sanksinya sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah.

Laknat Rasul saw, pun telah begitu jelas termaksud bahwa waria tidak punya lahan dalam Islam,

Rasulullah saw. telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki. (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad).

Kepentingan barat dalam menginvasi Islam di jalur pemikiran kentara terlihat dengan berbagai media yang dimiliki, televisi yang dikuasai,  dan modal materi yang luar biasa. Gerakan mereka para waria begitu sistematis dipasarkan dengan berbagai event pertunjukan. Beberapa hal menguatkan asumsi ini dan proyek barat ini begitu terkesan terbentuk kokoh di masyarakat.

Pertama, setelah keberadaan mereka dipopulerkan televisi dalam sinetron atau iklan komersil, masyarakat jadi penasaran pengen tahu banyak dengan kehidupan waria. Dari asal-usulnya, suka-dukanya, kesehariannya, sampe masa depan mereka. Liputan tentang diskriminasi terhadap waria dikemas sedemikian rupa untuk memancing emosi dan perasaan kasian pemirsa. Ujung-ujungnya, informasi seputar waria yang disuguhkan lebih diarahkan kepada legalisasi waria di mata masyarakat.

Kedua, maraknya ekspos media terhadap waria menjadi cara yang jitu yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kampanye penerapan syariat Islam yang tengah gencar di berbagai daerah di nusantara ini. Aktivitas amar makruf nahyi munkar pun terlupakan. Masyarakat semakin cuek dengan berbagai permasalahan yang muncul akibat diterapkannya sistem sekuler. Jika dibiarkan, boleh jadi negeri kita akan semakin liberal dan mungkin suatu saat nanti legalisasi perkawinan sejenis nggak cuma terjadi di Belanda, Spanyol atau Kanada. Tapi juga di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor Alumni Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) ISID

 

 

 

 

  

BACA JUGA  Pendidikan dan Kepemimpinan
No Response

Leave a reply "Waria: Antara Penyakit Masyarakat dan Liberalisme"