Walisongo Bukan Syiah Tapi Ahlussunnah

Written by | Sejarah Peradaban

islam di indonesia

Oleh: Kholili Hasib

islam di indonesiaInpasonline.com-Dalam beberapa buku sejarah Islam di Nusantara, terdapat silang pendapat tentang asal usul Walisongo. Meski begitu, mereka sepakat bahwa akidah wali songo adalah Ahlussunnah. Teori yang masyhur dan banyak dikaji peneliti adalah Walisongo bermadzhab Sunni Syafi’i. Teori ini sudah lama dianut peneliti dan dinyatakan matang. Adapun teori yang mengatakan bahwa Walisongo Syiah adalah kajian baru yang masih disuarakan sedikit peneliti. Kajian baru ini tentu tersebut masih perlu dibuktikan lebih serius lagi dari beberapa sisi. Sebagai contoh buku berjudul Syiah dan Politik di Indonesia Sebuah Penelitian (oleh A Rahman Zainuddin dan Hamdan Basyar), Mengislamkan Tanah Jawa (oleh Saksono Widji). Seperti dikutip dalam buku Idrus Alwi al-Masyhur, dua buku yang berpendapat bahwa Walisongo itu Syiah, memiliki kekurangan pada sisi penelusuran identitas akidah leluhur Walisongo. Karena itu, tulisan singkat ini akan menjelaskan identitas akidah leluhur Walisongo termasuk rantai isnad pemikirannya sebelum sampai pada kesimpulan corak keberagamaan Walisongo.

Identitas Walisongo dan Politik Orientalis

Sebelum mengkaji corak pemikiran keagamaan yang dianut Walisongo, ada baiknya sedikit membicarakan asal-usul Walisongo.

Setidaknya terdapat tiga pendapat yang mengemuka tentang kajian asal usul Walisongo, yaitu;Walisongo berasal dari India, China dan dari Arab (Hadramaut Yaman).

Teori India dikemukakan oleh orientalis bernama Pajnapel dan Snouck Horgronye. Teori ini mendasarkan kepada catatan perjalanan Marcopolo dan Ibnu Bathutah. Horgronye, yang pernah menjabat sebagai penasihat penjajah Belanda pada masa kolonial, berpendapat bahwa selama empat abad pimpinan agama Islam di Indonesia berada di tangan orang India dan baru pada abad XVI pengaruh Arab mulai masuk ke Indonesia[1]. Menurutnya, tradisi mistisme Walisongo di Jawa itu sifatnya non-Arab. Maksudnya, tradisi Islam di Indonesia lebih cenderung kepada India daripada Arab.

BACA JUGA  "Terjemah": Sebuah Upaya Dalam Membangun Peradaban Islam

Pendapat Horgronye diikuti Morisson yang berpendapat bahwa Islam Indonesia berasal dari sebuah pelabuhan di India yaitu pantai Koromandel. Ia menjadi pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara[2]. Tome Pires mendukung teori ini. Menurutnya kebanyakan orang terkemuka di Pasai Aceh adalah orang Benggali (India Selatan) atau keturunan mereka[3].

Asas teori tersebut berangkat dari aspek geografis. Bahwa leluhur Walisongo datang ke Indonesia dengan bertolak dari sebuah wilayah di India. Berangkat dari pendapat ini mereka menarik kesimpulan bahwa etnis yang datang adalah India bukan Arab.

Sementara teori China pernah dijelaskan oleh Tan Ta Sen dalam bukunya berjudul Cheng Ho Penyebar Islam dari Cina ke Nusantara. Ta Sen berpendapat, orang Muslim Cina dari Dinasti Yuan dan Dinasti Ming mempunyai peran khusus dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Buku Tan Sen terlalu menggunggulkan Cina dan meminggirkan peran Arab sama sekali. Menurut dia, pedagang Muslim Arab gagal dalam menjalankan misinya untuk mengislamkan Asia Tenggara. Dr. SQ. Fatimi menjelaskan pada sekitar tahun 876 terjadi perpindahan orang-orang Muslim dari Canton Cina ke Asia Tenggara dikarenakan ada peperangan yang mengorbankan hingga 150.000 Muslim[4].

Ada kesamaan dari dua teori di atas, yakni baik teori India maupun teori Cina sama-sama mengesampingkan peran Arab dalam Islamisasi Nusantara. Buku Ta Sen misalnya memberi kesimpulan negatif terhadap Arab, yakni pedagang Arab dianggap gagal menyatu dengan pribumi disebabkan eksklusivisme budaya Arab. Hal yang hampir sama diutarakan oleh Horgronye. Dia menyatakan bahwa dai pelopor di Jawa adalah India bukan Arab. Hamid al-Ghadri membantah teori orientalis tersebut. Ia berpendapat, orientalis Belanda melakukan kesengajaan melakukan ‘politik kesejarahan’ dengan cara memisahkan antara Arab dengan segala identitasnya dengan penduduk Muslim Nusantara.[5] Sehingga teori-teori sejarahnya dibuat sedemikian sehingga tidak ada peran Arab di dalamnya.

BACA JUGA  Belajar Berqurban kepada Para ‘Tukang’

Teori orientalis tersebut dicurigai bermuatan kepentingan penjajahan atas wilayah Indonesia. Menonjolkan India dan meminggirkan Arab lebih menguntungkan penjajah Belanda. Tidak lain adalah untuk menciptakan citra negatif untuk Arab di Nusantara. Kemungkinan ini karena pada zaman kolonialisme banyak keturunan Arab yang menentang pendidikan Barat. Sama halnya golongan santri yang anti pendidikan sekuler ala Belanda.

Belanda melakukan politik ini karena melihat pengaruh keturunan Arab pada zaman revolusi ternyata cukup besar. Ia berupaya menutup-nutupi agar kajian-kajian sejarah dan buku-buku tidak banyak mengungkapkannya. Padahal, peran keturunan Arab membela kemerdekaan Indonesia cukup besar. Dr. GSSJ Ratu Langie, pernah mengatakan: “Dapat dimengerti bahwa gerakan keturunan Arab begitu cepat diterima dalam gerakan nasional”. Hal ini bisa dimengerti, sebab sejak berabad-abad lamanya — termasuk zaman Walisongo — keturunan Arab selalu menyatu dengan pribumi[6].

Keberadaan keturunan Arab cukup ditakuti Belanda. Thomas Stamford Raffles pernah mengaku bahwa tiap orang Arab dan orang-orang pribumi yang kembali dari ibadah haji dari Makkah dianggap ‘keramat’. Sangat mudah menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda dan menjadi komponen masyarakat yang dianggap membahayakan kepentingan Belanda.[7]

Dari sekilas penjelasan di atas, dapat dimengerti jika ada yang menyatakan bahwa teori-teori yang dikemukakan oleh Horgronye dan orientalis penjajah lainnya memang memiliki misi politis. Di sinilah teori-teori orientalis menjadi meragukan. Kajian ilmiah tercampur dengan ambisi politik. Hasilnya adalah statemen-statemen politis yang dibungkus kajian ilmiah.

Baik teori India maupun teori Cina semestinya tidak mengesampingkan fakta adanya raja-raja atau sultan keturunan Arab di wilayah Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Sebagai contoh, keluarga Kesultanan Pontianak memakai marga al-Qadri, yang tidak lain marga keturunan Arab dari kalangan habaib. Di Riau terdapat kesultanan Siak yang keluarga kesultanannya bermarga bin Shahab. Mereka semua yang memakai marga tersebut merupakan keluarga dari kalangan habaib.

BACA JUGA  Kontribusi Bahasa Arab dalam Kekayaan Kosa Kata Bahasa Indonesia

Last modified: 09/09/2015