Walidah, dengan Aisyiyah Majukan Muslimah

No comment 1287 views

Oleh: Anwar Djaelani

Nyai_Ahmad_DahlanInpasonline.com-Sungguh sangat serasi jika kita menyaksikan sepasang suami-istri yang sama-sama gigih berdakwah. Di antara sedikit yang bisa disebut, maka pasangan Ahmad Dahlan dan Siti Walidah termasuk di dalamnya. Si suami ‘punya’ Muhammadiyah, sementara sang istri ‘memiliki’ Aisyiyah. Lebih jauh, siapa Siti Walidah?

Bak Pasangan

Siti Walidah lahir di Kauman, Jogjakarta, pada 1872. Di masa awal, pendidikan keislaman didapatkannya langsung dari sang ayah, seorang pejabat agama di Kraton Jogjakarta. Nyaris tiap hari dia belajar dengan sarana kitab-kitab agama berbahasa Arab-Jawa (pegon).

Di kemudian hari, Siti Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan. Sejak itu, ada sapaan lain kepada dia yaitu Nyai Ahmad Dahlan. Namun, perubahan lain yang jauh lebih penting adalah semakin berkobarnya semangat dia dalam mempelajari agama Islam. Sebagai buah dari hasil belajarnya, Siti Walidah tidak hanya ingin menjadi ibu rumah tangga biasa yang hanya di rumah saja. Tapi, dia ingin berbuat baik lebih dari itu.

Siti Walidah suka berorganisasi. Aktivitas berorganisasi mulai dirintisnya melalui perkumpulan pengajian perempuan bernama ‘Sopo Tresno’, pada 1914. Meski belum berbentuk organisasi yang sempurna, perkumpulan ini istiqomah berdakwah di kalangan perempuan lewat pengajian-pengajian yang diselenggarakannya.

Di pengajian itu dibahas ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang bertalian dengan hak dan kewajiban perempuan, seperti yang terkait dengan posisinya sebagai manusia, sebagai hamba Allah, atau sebagai istri. Dari hasil pengajian, kaum perempuan lalu menjadi mengerti tentang hak-haknya sehingga tak aneh jika merekapun menentang kawin paksa.

Sebagaimana yang kerap terjadi di berbagai gerakan, pada mulanya usaha Siti Walida mendapat banyak penentangan. Namun, lambat laun, ide-ide dan pemikirannya dapat diterima masyarakat.

BACA JUGA  Identitas Akidah Tariqah Bani Alawiyah

Di sebuah ketika, ada rapat di rumah Siti Walidah yang dihadiri Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, Fahruddin, dan Pengurus Muhammadiyah lainnya. Di situ timbul ide untuk mengubah ‘Sopo Tresno’ menjadi sebuah organisasi perempuan Islam yang mapan. Untuk nama organisasi, semula ada usulan yaitu ‘Fatimah’. Tetapi, nama itu tak disepakati. Lalu, ada usulan nama ‘Aisyiyah’ dan disetujui.

Secara resmi, nama Aisyiyah diumumkan sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah pada 22/04/1917, bersamaan dengan Peringatan Isra’ Mi’raj yang diselenggarakan Muhammadiyah secara meriah dan ‘berskala’ besar. Di periode awal, Aisyiyah diketuai oleh Siti Bariyah. Sementara, Siti Walidah duduk sebagai penasihat.

Secara umum, perjuangan Siti Walidah lewat Aisyiyah senafas dengan apa yang dilakukan Muhammadiyah, yaitu menghilangkan kepercayaan kolot yang dimiliki masyarakat. Adapun secara khusus, Siti Walidah lewat Aisyiyah aktif memberikan penyadaran bahwa perempuan seharusnya dapat berjuang bersama laki-laki.

Siti Walidah –sebagai Pengurus Aisyiyah- terus berjuang untuk memajukan Muslimah. Dia sering ke luar daerah mendatangi cabang-cabang Aisyiyah. Siti Walidah -sebagai muballighah- dikenal tegas dan fasih.

Salah satu ujian, datang. Ahmad Dahlan –sang suami- meninggal pada 23/02/1923. Tapi, hal itu tak lalu menghentikan langkah dakwah Siti Walidah. Dia terus bergerak. Misal, dia membuka asrama dan sekolah-sekolah putri serta kursus pemberantasan buta huruf bagi perempuan. Tampak bahwa aktivitas dakwah Siti Walidah menyentuh hal-hal praktis yang dibutuhkan kaum perempuan.

Organisasi Aisyiyah tumbuh pesat. Hal yang menarik, di saat Aisyiyah berkongres, Siti Walidah selalu memimpin. Hal itu menunjukkan kecakapannya dalam mengelola organisasi.

Terkait kecakapan Siti Walidah dalam berorganisasi, bisa dilihat di peristiwa berikut ini. Bahwa, pada 1926 berlangsung Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Di ketika itu, Siti Walidah membuat catatan sejarah. Dialah wanita pertama yang tampil memimpin kongres. Saat itu, dalam sidang Aisyiyah yang dipandunya duduk puluhan pria di samping mimbar. Mereka merupakan wakil pemerintah dan perwakilan organisasi yang belum memiliki organisasi kewanitaan dan wartawan. Seluruh pembicara di sidang tersebut adalah perempuan, suatu hal yang tidak lazim pada masa itu. Efek positifnya, peristiwa itu dijadikan berita utama oleh media massa. Implikasi berikutnya, semakin banyak kaum perempuan yang bergabung dengan Aisyiyah. Pengaruh Aisyiyah meluas hingga ke berbagai penjuru nusantara (www.republika.co.id, 31/10/14).

BACA JUGA  Menakar Pelaksaan Pendidikan Berpedoman pada Tujuan Pendidikan Nasional

Ada cerita lain di soal kecakapan Siti Walidah dalam berorganisasi. Seperti yang kita ketahui, di dalam kehidupan berorganisasi aktivitas berdiskusi termasuk menu pokok. Terkait urusan olah kata dan pikir ini, Siti Walidah tercatat sebagai tokoh yang suka berdiskusi. Maka, tak mengherankan jika ada riwayat yang mengabarkan bahwa Siti Walidah selalu ikut serta berdiskusi untuk menyampaikan pandangannya bersama tokoh Indonesia lainnya seperti dengan Jenderal Sudirman, Bung Karno, KH Mas Mansur, dan Bung Tomo.

Melalui Aisyiyah, Siti Walidah sigap membantu perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Misal, di masa itu, Siti Walidah menganjurkan kaum perempuan untuk mendirikan dapur umum.

Aisyiyah sempat dilarang oleh Pemerintah Jepang, saat yang disebut terakhir itu sedang berkuasa di negeri ini. Namun, perjuangan Siti Walidah dan Aisyiyah tak lalu mati. Dengan taktis, Siti Walidah mengalihkan aktivitasnya kepada pelayanan terhadap para pejuang kemedekaan. Dia juga menyerukan kepada para siswa Muhammadiyah untuk bangkit melawan penjajah.

Lewat Aisyiyah, langsung atau tidak langsung, Siti Walidah membantu mengembangkan Muhammadiyah –organisasi yang didirikan suaminya- dengan aktif berdakwah ke berbagai daerah. Di titik ini, Muhammadiyah dan Aisyiyah memang merupakan ‘pasangan’ yang serasi.

Sang Pahlawan

Siti Walidah wafat pada 31/05/1946 di Jogjakarta., di usia 74 tahun. Lalu, pada 22/09/1971 Almarhumah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Gelar itu diberikan karena mengingat pengabdiannya di bidang pendidikan –terutama secara khusus bagi kaum perempuan (baca: Muslimah) Indonesia- dan perjuangannya di kancah pergerakan nasional. []

No Response

Leave a reply "Walidah, dengan Aisyiyah Majukan Muslimah"