Universitas Terbaik: Apa Kriterianya?

Written by | Pendidikan Islam

1120160928-Islamic-Universities-article-1280

Oleh: Adian Husaini

Inpasonline.com-Pada bulan Desember 2018 hingga Januari 2019, saya mengisi beberapa orasi ilmiah di beberapa kampus atau Perguruan Tinggi Islam (PTI). Ada yang berbentuk Sekolah Tinggi, Institut, juga Universitas. Dalam beberapa acara itu, saya berbicara tentang visi dan misi PTI tersebut. Ada pimpinan PTI yang menyampaikan visi, sehingga kampusnya akan menjadi 10 universitas terbaik di kotanya pada tahun 2030. Ada juga kampus Islam yang mendukung untuk menaikkan peringkat universitasnya dari peringkat sekian ke peringkat sekian.

Kepada para akademisi, dosen khusus dan mahasiswa di kampus-kampus tersebut, saya mengajak untuk berpikir ulang tentang kampus atau universitas terbaik. Sepatutnya, para akademisi muslim menilai kriteria utama kampus terbaik berdasarkan nilai-nilai Islam itu sendiri. Misalnya, berdasarkan hadits yang dilihat Nabi Muhammad, manusia terbaik adalah manfaat bagi sesama; dan manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya; juga, orang terbaik adalah yang belajar dan mengajarkan al-Quran.

Jadi, jika ada PTI yang berhasil mengumpulkan dan memahami Al-Quran, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama manusia, maka kampus itu sejatinya telah menjadi PTI terbaik. Kriteria utama kampus terbaik – menurut Islam – harus menjadi pandangan dan keyakinan para akademisi muslim. Dan itu pula yang kemudian disosialisasikan kepada para siswa SMA yang muslim dan para orang tua.

Aneh, jika satu PTI yang telah menerima orang-orang yang shaleh dan aktif berdakwah di tengah masyarakat, tidak dianggap sebagai kampus terbaik. Mentransfer, siswa-siswa muslim yang pintar di SMA-SMA — yang mungkin juga di bawah naungan lembaga pendidikanya – sebaliknya tidak tertarik untuk menimba ilmu di PTI-nya sendiri. Mereka masih memiliki pemahaman, kampus terbaik adalah yang paling bergengsi dan dianggap paling berpeluang untuk menghasilkan uang yang melimpah.

Itu artinya, soal iman, taqwa, dan akhlak mulia, tidak dianggap sebagai kriteria terpenting dalam kampus terbaik. Masalah dunia terkait dengan pandangan alam ( worldview ) dan adab. Bagaimana mamahami dan menyikapi suatu ilmu pengetahuan dengan benar dan proporsional. Apakah ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, sunnah, atau mubah, lebih dipentingkan dari ilmu-ilmu yang fardhu ain? Apakah pelajaran ilmu ekonomi, sosiologi, budaya, kedokteran, ditempatkan di atas penguasaan dan penanaman aqidah, syariah, dan akhkak mulia?

Pada tahun 2018, Kemenristekdikti mengeluarkan daftar peringkat universitas di Indonesia. Dari 100 urutan teratas, muncul nama Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada peringkat ke-29, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-36 dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ke-38.

Dalam beberapa kali acara pengajian di Universitas Muhammadiyah Malang saya sampaikan, betapa bersyukurnya kita, sebagai Muslim di Indonesia, di Kota Malang ada satu universitas Islam yang megah dan hebat. Tentu ini terkait dengan kerja keras yang luar biasa. Namun, saya sempat menyampaikan “candaan” lumayan serius: “Apakah kita ridha nama Nabi Muhammad saw diletakkan di bawah nama Gajah Mada?”

BACA JUGA  Pancasila Menolak Ilmu Sekuler

Saya berharap, dalam beberapa tahun mendatang, seluruh anak-anak terpandai di SMA-SMA Islam – minimal yang masuk dalam naungan Muhammadiyah – akan menjadikan UMM sebagai tujuan utama kuliah mereka. Jika tidak diterima di UMM, barulah mereka pindah tujuan kuliah mereka ke UI, ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Sebab, para calon mahasiswa dan orang tua mereka yakin, di UMM karena mereka dididik menjadi orang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan profesional.

Jika kita telaah, dalam menentukan peringkat universitas, Kemenristekdikti tidak memasukkan kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia. Diantara kriteria yang digunakan adalah: presentasi dosen berpendidikan S3, presentasi dosen berpangkat lektor kepala dan guru besar, rasio jumlah siswa terhadap dosen, akreditasi hubungan BAN-PT, akreditasi program studi BAN-PT, jumlah program studi terakreditasi internasional, jumlah mahasiswa asing, kerjasama perguruan tinggi, jumlah artikel ilmiah terindeks per jumlah dosen, dan sebagainya.

Jadi, sepintar dan se-soleh apa pun dosen di universitas, jika tidak berpangkat lektor kepala atau profesor, maka akan menerima rendah. Sebanyak apa pun bukunya dan sehebat apa pun, serta semanfaat apa pun berpikir para dosen, jika tidak diterbitkan dalam jurnal terakreditasi, maka akan berdampak pada peningkatan nilai akreditasi kampusnya.

Saya menghargai kriteria-kriteria versi Kemenristekdikti itu. Namun, biasanya PTI memproklamasikan visi-misi kampusnya yang menekankan pada aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia. Dan memang, yang sebenarnya merupakan kriteria yang terpenting untuk menentukan keberhasilan pendidikan nasional, sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 (c). Bagaimana, pemerintah berusaha dan mengatur satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam kerangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jika pemerintah belum menggunakan kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia sebagai indikator penting peringkat universitas, seyogyanya kampus Islam membuat penilaian pemeringkatan sendiri yang membuat aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia sebagai indikator utama pemeringkatan. Setelah iman, taqwa, dan akhlak mulia, barulah siap indikator-indikator lainnya.

Para akademisi muslim sepatutnya yakin, jika iman taqwa dan akhlak mulia digunakan sebagai indikator utama, pasti kampus itu akan menjadi yang terbaik. Orang yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, pasti akan menjadi orang baik dan berprestasi tinggi. Karena, mereka bukan orang jahat, bukan pemalas, bukan pendengki, bukan yang pesimis, bukan yang egois, bukan serakah jabatan, dan sebagainya.

Melawan, orang-orang yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, adalah orang-orang yang haus ilmu, cinta ibadah, ikhlas, pekerja keras, profesional, penyayang pada sesama, pecinta kesehatan dan keindahan, pejuang kebenaran, korupsi, tengkorak keculasan dan kemunafikan, dan sebagainya. Sifat-sifat mulia yang sebagian besar dikenal sebagai ‘soft-skill’ yang sangat dibutuhkan dalam meraih keberhasilan dalam kehidupan.

BACA JUGA  Merancang Strategi Pendidikan Islam Masa Depan

Jadi, jika kampus Islam benar-benar menjadikan kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia, sebagai indikator utama pencapaian sivitas akademikanya, pastilah kampus akan menjadi yang terbaik. Akhlak mulia bukan hanya ditulis dan diterima. Namun, benar-benar dicontohkan, dibudayakan, dan ditegakkan kedisiplinan dalam penerapannya oleh para dosen, mahasiswa, dan semua tenaga kependidikan.

Jika konsep kampus terbaik ini menjadi keyakinan para akademisi muslim, dan kemudian disosialisasikan kepada para siswa SMA muslim, maka insyaAllah anak-anak akan membuat kampus-kampus Islam sebagai tujuan utama kuliah mereka. Kampus adalah tempat untuk mengembangkan kepribadian mulia dan keilmuan. Kampus Islam akan lebih cepat berkembang menjadi kampus hebat jika menjadi tujuan utama anak-anak pintar berkuliah. Mahasiswa yang diterima di kampus itu benar-benar ‘disaring’; Bukan ‘disarung’!

Apa itu bisa? Jawabnya: bukan hanya bisa, tetapi WAJIB! Karena, sebab amanah al-Quran, umat Islam harus menjadi ‘umat terbaik’ ( khaira ummah ). Dengan itu, mereka akan mampu menjalankan kehidupan yang adil dan beradab di muka bumi. Nabi Muhammad melihat sudah meyakinkan, bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT dari mukmin yang lemah.

 

Sekarang, Saatnya!

Patut disyukuri, dalam kurun 25-30 tahun terakhir, terjadi kembali lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia, khususnya, pada tingkat TK, dasar, dan menengah. Kini, banyak kalangan menengah dan atas muslim tak segan pulang sekolah Islam, atau malah pondok pesantren. Dan bagi sebagian orang, bayar mahal pun tak masalah.

Sejalan dengan suksesnya pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah, maka aneka Perguruan Tinggi Islam (PTI) pun dibuka, membuka kampus Islam yang sudah berkiprah di Indonesia berpuluh tahun lamanya. Sayangnya, sampai sekarang, kampus-kampus Islam belum menjadi tujuan utama siswa-siswa yang berhasil mencapai SMA Islam. Berbagai SMA Islam masih mengutamakan kriteria sukses pendidikannya pada tingkat penerimaan di perguruan tinggi negeri (PTN).

Kebangkitan sekolah-sekolah Islam telah meluluskan ribuan murid-murid SMA Islam berkualifikasi tinggi, akademik maupun akhlaknya. Logisnya, murid-murid terbaik di SMA Islam itu memilih PTI sebagai tujuan utama kuliahnya. Di PTI, para pelajar dididik serius menjadi ilmuwan beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan memiliki jiwa dakwah yang kuat. Ini bertentangan dengan pasal 31 (c) UUD 1945.

Dengan menyandang nama Islam, nama Nabi Muhammad, atau nama ilmuwan Muslim tertentu, sudah saatnya PTI memiliki jari diri sebagai lembaga pendidikan Islam sejati. Di PTI inilah para mahasiswa dididik dengan konsep pendidikan Islam yang baku: “taadabû tsumma ta‘allamû”. Yakni,  penanaman adab dan akhlak mulia serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional.

PTI adalah Jaamiah atau Kulliyyah. PTI bertujuan membentuk manusia yang kulliy, insan kamil, bukan manusia parsial (juz’iy). Dalam rumusan  Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man.”

Merujuk rumusan itu, inti kurikulum lembaga pendidikan Islam, termasuk PTI,  adalah penanaman nilai-nilai keadilan, yang dilandasi dengan tazkiyyatun nafs (pensucian jiwa). Maka, sudah saatnya, PTI bangkit dan berani membuat kriteria keunggulan akademik yang khas (unik) dan unggul –berbeda dengan institusi pendidikan sekular.

BACA JUGA  Ini Alasan Hermeneutika tidak Bisa Mengganti Tafsir

Sesuai konsep ini, proses pendidikan di PTI, diawali dengan proses penanaman nilai, untuk membentuk manusia beradab. Hanya mahasiswa yang adab atau akhlaknya baik saja yang boleh melanjutkan menuntut ilmu di Fakultas tertentu. Dan hanya mahasiswa yang adab atau akhlaknya baik saja yang layak diluluskan. Proses ini memerlukan keteladanan pimpinan dan dosen, pembiasaan penerapan nilai-nilai kebaikan, dan juga penegakan aturan.

Model pendidikan “taadabû tsumma ta‘allamû” sudah lazim diterapkan dalam proses pendidikan para ulama di masa lalu. Al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” Belajarkah sikap penyayang sebelum belajar ilmu!  Sebab, menurut Prof. Naquib al-Attas, inti pendidikan adalah penanaman adab dalam diri seorang manusia sebagai manusia.

Di era disrupsi atau revolusi industriu 4.0 – dimana proses pembelajaran semakin diarahkan ke bentuk PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) —  sudah saatnya, PTI menerapkan proses penanaman adab dan pensucian jiwa insan sebagai kurikulum intinya. Jangan meletakkan ilmu-ilmu yang mubah atau yang haram di atas pendidikan iman, taqwa, dan akhlak mulia! Di sinilah, pimpinan kampus dan dosen menjadi teladan hidup.

Hanya orang yang mensucikan jiwanya saja yang akan sukses, meraih kemenangan. Sebaliknya, celakalah orang yang mengotori jiwanya. (QS 91:9-10). Rasululullah saw bersabda: “al-Mujaahidu man jaahada nafsahu”. Bahwa, seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya. (HR Tirmidzi). Proses pensucian jiwa adalah perjuangan berat.

Sekali lagi, sudah tiba PTI bangkit dan menjadi teladan untuk Perguruan Tinggi lainnya. PTI adalah lembaga dakwah dan lembaga perjuangan. PTI bukan pabrik roti yang disetujui guna meningkatkan jumlah produksi. PTI harus unggul – terutama – dalam kualitas iman, taqwa, akhlak mulia, dan profesionalitas yang meraihnya. Jangan lupakan konsep yang salah! Jangan terjebak pada formalisme dan linierisme! Zaman sudah berubah. Intinya, jangan sampai memulai PTI lebih buruk lagi akhlaknya dari persiapan PT lainnya.

Yakinlah, itu manusia taqwa adalah manusia paling mulia! (QS 49:13). Manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya. Jika kaum muslim tidak yakin dengan konsep itu, lalu siapa lagi !!! (Depok, 31 Januari 2019).

 

Last modified: 31/01/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *