Universalitas Wahyu dan Kenabian: Counter-Argumen Pluralisme Agama (2)

Written by | Pemikiran Islam

 (Dia telah menshariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…). (Al-Shura:13);

dan yang ditegaskan pula dalam Hadith Rasulullah  s.a.w. dimana beliau bersabda:

 (Kami semua nabi-nabi, agama kami sama, aku orang yang paling dekat kepada putera Maryam, karena tidak ada satu pun nabi antara aku dan dia);[i]

dalam Hadith yang lain, Rasulullah  s.a.w. juga bersabda:

 (Nabi-nabi adalah bersaudara, agama mereka satu meskipun ibu-ibu mereka berlainan).[ii]

Teks-teks suci ini secara kategoris menegaskan kesatuan wahyu seperti dijelaskan di atas yang berujung pada kesatuan substansi dan kesatuan agama yang diturunkan, yaitu Islam, yang oleh Ibnu Taymiyyah dalam bukunya Al-Jawab al-Sahih li-man Baddala Din al-Masih disebut sebagai al-Islam al-Amm (Islam Universal).[iii] Oleh karena itulah, kenapa hanya agama ini saja yang sejatinya mendapat pengakuan status sebagai satu-satunya agama yang haqq di sisi Allah swt. sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat-ayat berikut:

{إن الدين عند الله الإسلام}

(Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi AllÉh  adalah Islam). (Ali Imran: 19); dan

{ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين}

(Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama ini) dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi) (Ali Imran:85).

Maka, Islam adalah agama semua nabi dan rasul beserta pengikut-pengikut mereka. Lebih jelas dan detailnya bisa disebutkan berikut ini:

a.       Islam adalah agama Nuh a.s. seperti dijelaskan ayat:

        (Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang NËÍ di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat AllÉh , maka kepada AllÉh -lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku dan janganlah kamu menangguhkannya. Jika kamu berpaling (dari peringatanku) aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari AllÉh  belaka dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (Muslim)”). (Yunus:71-72).

b.      Islam adalah agama nabi Ibrahim a.s. dan anak cucunya (Ismail, Ishaq, Ya’qub) seperti dijelaskan ayat:

 (Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau (Muslim) dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau (Muslim)). (Al-Baqarah:128);

dan dalam ayat yang lain:

(Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah (berislamlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh (berislam) kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan ini kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah  telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda maut), ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya (Muslim)”). (Al-Baqarah:131-133);

dan dalam ayat yang lain:

 (Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus dan muslim dan sekali-kali  bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik) (Ali Imran: 67) .

c.       Islam adalah agama nabi Yusuf a.s. seperti dijelaskan ayat:

 (Ya Tuhanku, sesungguhnya Englau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. Ya Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh). (Yusuf:101).

d.      Islam agama nabi Musa a.s. dan kaumnya seperti dijelaskan ayat:

BACA JUGA  Mohammed Arkoun dan Desakralisasi Al-Qur’an

(Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kapada Allah , maka bertawakkAllÉh  kepadaNya saja, jika kamu benar-benar muslim”). (Yunus:84);

dan dalam ayat lain yang mengisahkan do’a para tukang sihir (penantang nabi Musa) yang telah bertaubat:

(Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim). (Al-A’raf:126).

e.      Islam adalah agama nabi Sulaiman a.s. dan kaumnya seperti dijelaskan ayat berikut yang mengisahkan Bilqis, Ratu Saba’:

 (Tuhanku sesungguhnya aku telah berbuat aniaya terhadap diriku. Dan aku berserah diri (muslim) bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam). (Al-Naml:44).

f.        Islam adalah agama nabi-nabi Bani Isra’il seperti dijelaskan ayat:

 (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah  (Muslim)). (Al-Ma’idah: 44);

dan dalam ayat lain:

 (Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong untuk menegakkan agama Allah ?” Para Hawariyyun (sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong agama Allah . Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim”). (Ali Imran:52);

dan dalam ayat lain:

 (Dan (ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku!”  Mereka menjawa: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang muslim). (Al-Maidah:111).

g.       Islam adalah agama Nabi Muhammad saw. seperti dijelaskan ayat:

 (Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri kepada Allah (berislam), dan (aku diperinathkan dengan firmanNya): Jangan sekali-kali engkau menjadi dari golongan orang-orang musyrik). (Al-An’am:14);

dan dalam ayat lain:

(Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagiNya, dan dengan yang demikian saja aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama kali berislam). (Al-AnÑÉm:162-163).

Jadi jelas sekali, ayat-ayat dan Hadith tersebut di atas secara explisit menegaskan kesatuan agama semua nabi dan rasul. Mereka tidak diberi mandat menyebarkan (apalagi mendirikan!) agama-agama yang berbeda seperti yang sering disalah-pahami oleh banyak kalangan, termasuk penulis buku Argumen Pluralisme Agama.[iv]  Dalam mendiskripsikan agama para nabi dan rasul, al-Qur’an juga menggunakan kata-kata atau istilah redaksional yang baku dan sama yang sangat tidak memungkinkan adanya tafsir yang berbeda. Coba perhatikan kata-kata atau istilah berikut dengan seksama yang semuanya diambil dari ayat-ayat di atas: (من المسلمين), (مسلمين), (مسلمة), (أسلم), (أسلمت), (مسلمون), (مسلما), (أسلموا) semuanya standard dan tidak ada yang membedakan antara nabi yang satu dengan yang lain, atau ummat nabi yang satu dengan ummat nabi yang lain. Hatta perintah berislam kepada Nabi Muhammad saw pun menggunakan redaksi yang sama dengan nabi-nabi terdahulu. Tidak ada indikasi Islam dengan “I” –sebagai agama yang terlembagakakan (institutionalized religion) atau “i” –sebagai sikap spiritual peribadi (private spiritual attitude) sebagaimana yang coba diperkenalkan oleh W. C. Smith dalam bukunya The Meaning and End of Religion[v] dan kemudian dicoba tawarkan dengan getol oleh Nurcholish Madjid di Indonesia.

BACA JUGA  Konsep Adil Dalam Politik Islam

Kemudian kesatuan substansi wahyu samawi tersebut semakin menjadi gamblang dan terang-benderang manakala kita mengikuti alur nalar qur’ani lebih lanjut yang menegaskan bahwa mendustakan atau mengingkari seorang nabi atau rasul saja berarti sama dengan mendustakan atau mengingkari seluruh utusan Allah. Allah  swt. berfirman:

 (Kaum nabi Nuh telah mendustakan para rasul). (Al-Shu’ara’:108);[vi]

 (Kaum Ad telah mendustakan para rasul). (Al-Shu’ara’:123);

 (Kaum Thamud telah mendustakan para rasul). (Al-Shu’ara’:141);

 (Kaum Luth telah mendustakan para rasul). (Al-Shu’ara’:160);

 (Penduduk Aikah (Madyan) telah mendustakan rasul-rasul). (Al-Shu’ara’:176).

Ayat-ayat di atas secara eksplisit dan kategoris menyatakan bahwa kaum-kaum para nabi terdahulu dianggap telah mendustakan semua nabi dan rasul secara keseluruhan, padahal sebagaimana diketahui bersama bahwa kenyataannya yang diutus kepada mereka hanyalah seorang nabi atau rasul saja. Kepada kaumnya nabi Nuh hanya diutus seorang nabi saja, dan yang mereka dustakan pun hanya seorang nabi saja, yaitu nabi Nuh. Begitu juga kepada kaum Ad, kaum Thamud, kaum Luth, dan penduduk Madyan; kepada mereka masing-masing hanya diutus seorang nabi saja, dan yang mereka dustakan pun hanya seorang nabi saja, yakni Hud, Shalih, Luth, dan Shu’ayb. Tapi kenapa al-Qur’an mengatakan mereka telah mendustakan semua rasul? Alasan yang paling logis dan rasional adalah karena semua rasul dan nabi membawa pesan langit yang sama, agama yang sama dan dari sumber yang sama pula. Oleh karena itu, Al-Qur’an memandang sikap yang tidak membeda-bedakan para nabi dan rasul, antara satu dan lainnya, sebagai satu sebab hidayah (petunjuk) dan menjadikannya sebagai salah satu rukun tawhid. Dalam hal ini Allah  swt berfirman:

 (Katakanlah (hai orang-orang beriman): “Kami beriman kepada Allah  dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk penuh kepada-Nya (Muslim).” Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah  akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). (Al-Baqarah:136-137);

 (Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah , malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan) “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya”). (Al-Baqarah:136-137).

Lebih lanjut, substansi wahyu samawi yang dikomunikasikan kepada manusia lewat para nabi dan rasul sepanjang sejarah, yang oleh Ibn Taymiyyah disebut al-Islam al-‘Amm (Islam Universal) tadi, pada dasarnya menurut perspektif tawhidi adalah “agama fitrah”, religio naturalis, atau Ur-Religion itu sendiri. Dengan adanya konsep “agama fitrah” ini, berarti Islam telah meletakkan landasan universal yang lebih kuat dan luas bagi humanisme yang sebenarnya yang memungkinkan untuk mengakomodasi seluruh manusia, dengan berbagai latar belakang keagamaan dan keyakinannya, sebagai saudara di bawah payung kemanusiaan; sebagaimana memungkinkan untuk menarik garis demarkasi yang tegas antara “agama alami” yang dimiliki setiap manusia sejak kelahirannya, di satu fihak, dengan agama-agama historis yang berevolusi dari “agama alami” tersebut akibat faktor-faktor kesejarahan atau lingkungan, di fihak lain.

Lalu, Islam menamakan “agama fitrah” ini dengan nama Islam itu sendiri. Hal ini didasarkan pada sebuah ayat dimana Allah  s.w.t. berfirman:

 (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah ); (tetaplah atas) fitrah Allah  yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui). (Al-Rum:30-32);

Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menghadapkan wajahnya dengan tegap dan lurus (hanif) kepada agama yang lurus, yang tiada lain adalah Islam. Oleh karenanya agama ini disebut juga dengan “hanifisme” (al-hanifiyyah), yakni agama yang lurus, lempang dan jauh dari kebatilan dan kesesatan, sebagaimana dalam Hadith Rasulullah saw.:

 (Agama yang paling dicintai Allah adalah hanifiyyah (agama yang lurus) yang lapang);[vii]

BACA JUGA  Manajemen Kekayaan Islam: Sebuah Kajian Analisis Dari Pemikiran Ekonomi Islam Ibn Sina

dan memanggil pengikut agama ini sebagai “hunafa’” (bentuk jamak dari hanif: orang yang lurus dan berpaling dari kesesatan), dalam penalaran bahwa mereka pernah menerima wahyu dari Allah  yang mengukuhkan fitrah mereka dan sesuai dengan “agama alami” mereka.[viii]

Maka atas dasar penalaran ini, Islam adalah agama par excellence yang oleh Allah swt. dimaksudkan sebagai kalimatun sawa’ (kalimat yang sama atau penyelaras) antara semua manusia, karena mereka semua pada suatu ketika pernah menjadi umat seorang nabi atau rasul yang diutus oleh Tuhan yang sama. Oleh karena itu, kita diperintahkan (mengikuti perintah yang diterima oleh Rasulullah saw.) untuk mengajak mereka kepada kalimatun sawa’ setiap kali mereka keluar atau melenceng darinya, Allah  swt. berfirman:

 (Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama antara antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah  dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah ). (Ali Imran:64).

Perlu ditegaskan di sini bahwa prinsip kalimatun sawa’ yang sudah self-explanatory ini, yakni: (ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله) (bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang yang lain sebagai tuhan selain Allah), masih ingin diganggu-gugat dan dicoba oleh beberapa kalangan untuk ditafsir-ulang atau dipelintir-pelintir maknanya secara gegabah untuk memenuhi selera pluralis mereka.[ix]

Dari uraian kesatuan wahyu samawi di atas dapat disimpulkan secara meyakinkan bahwa agama samawi adalah tunggal. Dengan demikian, istilah “agama-agama samawi” atau “al-adyan al-samawiyyah” atau “revealed religions” yang sering beredar secara jamak dan luas mutlak, perlu ditinjau-ulang, kecuali jika yang dimaksudkan adalah shari’ahshari’ah samawiyyah (syari’at-syari’at samawi).




[i] H.R. al-Bukhari dan Muslim.

[ii] H.R. al-Bukhari,  Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad.

[iii] Ibn Taymiyyah, Al-Jawab al-Sahih li-man Baddala Din al-Masih, diedit oleh Dr. AlI ibn Hasan et al. (Riyad: Dar al-Ashimah: 1414H.), jilid 5, hal. 341.

[iv] Abd. Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an (Depok: KataKita, 2009), ha. 16ff., 68ff., 146ff., 200ff., 240ff.

[v] Lihat: Wilfred C. Smith, The Meaning and End of Religion (London: SPCK, [1962] 1978), bab 3 “Islam As Special Case”.

[vi] Lihat juga ayat yang senada: {وقوم نوح لما كذبوا الرسل أغرقناهم} (Al-Furqan:37).

[vii] H.R. Al-Bukhari, Al-Iman:29; Ahmad 1:246.

[viii] Lebih lanjut simak: Ali Imran:67; Al-An’am:79; Al-Baqarah:135; Ali Imran:95; Yunus:105; Al-Nahl: 120,123; Al-Bayyinah:5; Al-Hajj:31.

[ix] Lihat misalnya, Abd. Moqsith Ghazali, op. cit., hal. 280-282, dimana ia mentaklidi para pendahulunya seperti Jawdat Sa’id dan Nurcholish Madjid.

Last modified: 04/09/2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *