Ulama dan Sastra yang Menggerakkan

Written by | Opini

FB_IMG_1536848625987

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Puisi Melayu lama “Gurindam Dua Belas” karya Raja Haji Ali telah sangat dikenal masyarakat. Sementara, pantun “Sepur-Bertempur” yang diperkenalkan oleh KH Ma’shum Bondowoso, potensial pula akan awet dalam menginspirasi publik terutama di kalangan aktivis.

 

Inspiratif, Sugestif!  

Sajak, puisi, dan pantun adalah bagian dari sastra. Begitu juga dengan gurindam, yaitu “Sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat”. Lalu, terkait gurindam, tak mungkin kita bisa melupakan Raja Ali Haji (1808- 1873).

Sebagai ulama, Raja Ali Haji telah menulis belasan kitab. Sebagai ulama, dia menggunakan tulisan sebagai media dakwah. Lihatlah, sebagai misal, pesan-pesan Islami di dalam “Gurindam Dua Belas”-nya.

Pengaruh positif “Gurindam Dua Belas” terasa hingga kini. Bacalah berita ini: “Kagumi Gurindam Dua Belas, Ini Isi Pasal 5 yang Dibaca Sandiaga Uno Saat Tepung Tawar di Riau”. Bahwa -pada 04/09/2018- Sandiaga Uno mengikuti Upacara Adat Tepung Tawar yang digelar di Balai Adat Melayu Riau.

Ternyata, Sandiaga Uno yang lahir di Riau, mengagumi “Gurindam Dua Belas”. Dia mengatakan: “Saya pernah membaca ‘Gurindam Dua Belas’ karya Ali Haji. (Itu) Merupakan sastra Melayu yang sarat akan makna, untuk dijadikan tuntunan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.”

Sandi-pun membacakan Pasal 5 “Gurindam Dua Belas” itu. Jika hendak mengenal orang berbangsa/ Lihat kepada budi dan bahasa/ Jika hendak mengenal orang yang berbahagia/ Sangat memeliharakan yang sia-sia/. ….. Jika hendak mengenal orang mulia/ Lihatlah kepada kelakuan dia/ Jika hendak mengenal orang yang berilmu/ Bertanya dan belajar tiadalah jemu/. ….. Jika hendak mengenal orang yang berakal/ Di dalam dunia mengambil bekal/ Jika hendak mengenal orang yang baik perangai/ Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai/.

Sandiaga Uno yang berusia muda sangat menikmati “Gurindam Dua Belas”. Ini menegaskan, sastra bisa menginspirasi dan mensugesti orang-orang untuk berperilaku baik. Kecuali itu, sastra potensial abadi keberadaan dan fungsinya.

BACA JUGA  KH. Muhammad Kholil, Ulama Madura yang Berpengaruh

Sekarang, kita cermati puisi Prof. Dr. Hamka yang khusus ditulis untuk M. Natsir. Puisi bertanggal 13/11/1957 itu terkait pidato sang sahabat yang tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara Indosesia.

Mari resapi: Kepada Saudaraku M. Natsir/ Meskipun bersilang keris di leher/ Berkilat pedang di hadapan matamu/ Namun yang benar kau sebut juga benar/ Cita Muhammad biarlah lahir/ Bongkar apinya sampai bertemu/ Hidangkan di atas persada nusa/ Jibril berdiri sebelah kananmu/ Mikail berdiri sebelah kiri/ Lindungan Ilahi memberimu tenaga/. ….. Suka dan duka kita hadapi/ Suaramu wahai Natsir, suara kaummu/ Ke mana lagi Natsir, ke mana kita lagi/ Ini berjuta kawan sepaham/ Hidup dan mati bersama-sama/. ….. Untuk menuntut Ridha Ilahi/ Dan aku pun masukkan/ Dalam daftarmu…!

Puisi Hamka di atas refleks diingat (setidaknya sebagian) umat Islam saat mereka aktif mendesak penguasa agar menghukum secara adil seseorang yang telah menista agama Islam. Apa hubungan kedua hal –puisi dan umat Islam- itu?

Berawal dari penistaan Al-Qur’an oleh seorang non-Islam pada 27/09/2016 di Kepulauan Seribu – Jakarta. Untuk mendorong penegakan hukum, umat Islam –di bawah pimpinan ulama- berunjuk rasa yaitu pada 14/10/2016, 04/11/2016, dan  02/12/2016. Pada aksi terakhir -02/12/2016- yang dikenal sebagai Aksi 212, disebut-sebut dihadiri lebih dari tujuh juta orang.

Terkait pembelaan terhadap agama, kaum beriman pasti ingin melakukannya. Tetapi, kita memang harus berbagi. Siapa yang bisa “maju”, maka berangkatlah! Sementara, bagi yang lainnya, tetap ada bentuk jihad yang lain (baca QS At-Taubah [9]: 122). Meski demikian, tetap saja yang di “garis belakang” itu hatinya akan terus bersama dengan saudara-saudaranya yang sedang berjuang di “garis depan”. Di titik ini, bagi yang ada di “garis belakang” bisa mengajukan permintaan: “Tolong masukkan kami juga dalam daftar engkau”. Permohonan ini semoga sama seperti isi puisi yang ditulis Buya Hamka kepada M. Natsir pada 13/11/1957.

BACA JUGA  Infiltrasi “Sekularisme” dalam Kurikulum 2013

Berikutnya, kita cermati pantun KH Ma’shum Bondowoso, ulama yang meninggal pada 13/09/2018 serta dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Almarhum –yang lulusan Pesantren Gontor dan pernah menjadi aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII)- istiqomah berjuang membela kebenaran. Misal, beliau selalu menghadiri Aksi Bela Islam pada 2016. Bahkan, saat Ijitima’ Ulama –membahas Kepemimpinan Nasional- pada Juli 2018 di Jakarta, beliau hadir walau sedang sakit. Ketika itu beliau berkursi roda, lengkap dengan selang infus dan oksigen.

Ada beberapa pantun yang sering diulangnya di banyak kesempatan. Pertama: Kereta Api dinamakan sepur/ Di atas sepur ada kondektur/ Daripada mati di atas kasur/ Lebih baik di medan tempur/. Pantun ini -antara lain- disampaikan oleh KH Ma’shum Bondowoso di Reuni Akbar Alumni 212 di Monumen Nasional Jakarta. Kala itu, meski tengah didera kanker stadium IV, di atas panggung beliau tegar membakar semangat lewat pantun yang sudah mulai dihafal masyarakat Islam itu.

 Kedua: Jangan pernah Gentar/ Walau mereka bertindak kasar/ Dan dibantu aparat yang kesasar/ Kita adalah Tentara Muhammad Al-Mukhtar/ Patriot Bangsa Indonesia yang besar/ Berani mati bela yang benar/ Mereka pasti akan terkapar/ Oleh tangan kita dibantu Malaikat Al-Abrar/ Jangan pernah gentar/ Allaahu Akbar.

Pantun-pantun di atas inspiratif. Keberadaan pantun itu mampu menyulut api ghirah yang potensial terus menyala di dalam usaha membela kebenaran di sepanjang zaman.

 

Sampai Mati

Bersama ulama lainnya yang juga telah mewariskan berbagai karya sastra yang menggerakkan, sungguh “Gurindam Dua Belas” dari Raja Ali Haji, puisi “Masukkan Kami dalam Daftarmu” dari Hamka, dan pantun “Sepur – Bertempur” dari KH Ma’shum Bondowoso, insya-Allah akan langgeng mengiringi gerak perjuangan umat Islam. Benar, sebuah gerak perjuangan yang gelegak semangatnya didiskripsikan secara tepat oleh KH Ma’shum Bondowoso: Berani berjuang mati/ Takut berjuang mati/ Maka, teruslah berjuang sampai mati/ []

BACA JUGA  Sopisme Kontemporer dan 'Kebenaran' yang Palsu

Last modified: 20/09/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *