Transempirikal Sains: Analisa dan Kritik

Written by | Opini

Melihat Sains dari Dekat

Sekilas memang istilah sains ini sudah mapan, sehingga susah mengubah arus paradigma yang membelenggu masyarakat tentangnya. Namun apabila kita perhatikan betul-betul, ada yang janggal dengan sebutan penggunakan istilah ini. Kata sains kononnya dicatut dari bahasa Latin Scire (to know) dan scientia (knowledge). Secara literal sains mempunyai makna pengetahuan. Aktivitas mengetahui ini adalah suatu yang sangat mendasar bagi manusia. Sebab dengan kemampuan mengetahui ini, manusia menjadi berbeda dari pada binatang dan makhluk-makhluk lainnya. Singkatnya, boleh dikatakan bahwa pengetahuan ini aspek khusus yang menjadikan manusia menjadi manusia.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sains itu adalah pengetahuan manusia, siapa saja, tentang sesuatu apapun di manapun dan kapanpun. Jadi kalau dirujuk kepada makna asalnya sains mempunyai makna yang sangat luas, umum dan universal. Dikatakan sangat luas karena ia tidak membatasi ilmu tertentu untuk dikatakan sains. Apa saja yang menjadi pengetahuan manusia, itulah sains. Dikatakan umum, karena tidak saja ilmunya yang luas, tapi juga tidak khusus kepada kelompok tertentu, tidak khusus kepada suatu kelompok kajian yang hanya kelompoknya yang boleh mendefinisikannya, semisal Barat modern. Dikatakan universal karena ia mempunyai partikular-partikular, atau disiplin-disiplin yang menjadi bagian-bagiannya. Dan disiplin-disiplin itu tidak saja pengetahuan-pengetahuan empiris, tapi meliputi segala macam ilmu. Alhasil, kata sains berlaku kepada jenis pengetahuan apa saja.

 

Yang Terjadi kepada Sains

Karena kemampuan dasar manusia adalah mengetahui, maka pertanyaannya adalah dari mana atau melalu apa saja manusia itu memperoleh pengetahuannya dan untuk apa pengetahuan itu? Pertanyaan ini juga menentukan hala tuju dari istilah sains ini. Lagi-lagi ini perlu memposisikan diri terlebih dahulu kepada perspektif, sebab beda perspektifnya akan beda pula maksud dan tujuannya.

Bagi kalangan Barat modern, tentu yang namanya sains itu adalah sekedar pengetahuan manusia yang bisa dicerna oleh panca indera belaka. Selain yang seperti itu tidak sah disebutkan sains. Melalui verifikasi yang disebut saintifik empirislah kemudian pengetahuan itu disebut ilmiah. Jika tidak, maka gugurlah dari keilmiahannya. Dengan batasan ini maka berarti sangat sedikit sekali pengetahuan manusia yang disebut sains. Padahal asalnya tidak demikian. Mengapa ia menjadi sempit begitu? Jawabannya adalah akibat ulah segelintir orang yang melahirkan dunia modern sekarang ini. Zaman Modern ini tidak bisa dilepaskan dari proses panjang sekularisasi di Barat dari berbagai aspeknya. Jika Barat modern adalah hasil dari sekularisasi, berarti paradigma sains modern juga berparadigma sekuler.

Ciri khas sains Barat ini adalah empiris dan rasional. Persoalannya, ada banyak pengetahuan manusia yang metaempiris dan juga metarasional. Intinya banyak ilmu yang melintasi (trancend) batas-batas indera dan rasio. Apalagi konsep rasio di Barat, meminjam istilah al-Attas, telah terpisahkan dari intellectus. Maka konsekuensinya adalah paradigma Barat yang sekuler ini akan secara total mengiliminasi pengetahuan manusia yang sebetulnya lebih penting lagi dari pada sekedar sains Barat itu. Tak ada wahyu atau intuisi seabagai sumber ilmu dalam kamus mereka (Barat modern).

Lalu apa saja pengetahuan manusia selain sains Barat ini? Pertanyaan ini bisa ditelusuri dengan melihat saluran pengetahuan yang digunakan. Sebagaimana terdapat dalam Islam, pengetahuan manusia bisa melalui berbagai saluran. Dari yang terendah adalah panca indera, kemudian naik kepada yang lebih tinggi adalah akal, lalu intuisi dan yang terakhir adalah wahyu. Jadi secara khirarkhis, panca indera adalah saluran terendah sampainya pengetahuan kepada manusia. Panca indera bertugas menangkap partikular-partikular pada dunia sekitar diri manusia. Inilah yang melahirkan pengetahuan praktis empiris. Hasil cerapan empiris ini yang kemudian menjadi ilmu sains modern saat ini, setelah dimantapkan dan dibakukan oleh analisa rasional praktikal dan ditetapkan sebagai yang saintifik oleh beberapa kalangan di Vienna Circle dahulu. Di sinilah terjadi pembatasan sains itu hanya kepada pengetahuan yang empiris saja.

Sengaja atau tidak, pembatasan sains kepada yang empiris ini sebetulnya merupakan semangat sekuler sebagai nilai utama yang terkandung di dalamnya. Sebab, ini merupakan proses penyingkiran aspek-aspek spiritual dalam sains. Wajar kalau seorang Syed Hussein Nasr, misalnya, menganjurkan sakralisasi sains. Sebab, dengan pembatasan sains kepada yang empiris berarti telah menganggap sains itu lepas dari kesakralan atau nilai-nilai ilahi. Netral adalah kata ajaib bagi desakralisasi sains. Jika diteruskan pembatasan sains ini maka akan mengajak para penggiatnya menjadi ateis, karena berarti menjadi terbebas dari hegemoni agama.

Ini yang sepertinya juga memancing seorang al-Attas turun tangan menangani problem ini. Al-Attas malah menganggap problem ini sebagai agenda filosofis Barat modern yang telah menyumbang malapetaka terbesar bagi umat saat ini. Tiga kerajaan besar telah porak poranda akibat pembatasan sains dan penerapannya ini. Mereka adalah kerajaan hewan, kerajaan tumbuh-tumbuhan dan kerajaan air.  Manusia seakan sedang terseret kepada arus pengrusakan alam dan lingkungan akibat dari konsep sains yang sempit ini. Ini merupakan penyakit dari Barat yang disebarkan ke seluruh dunia. Inilah yang kemudian dikenal dengan pembaratan (westernization), suatu proses mengikuti tren Barat yang sedikit demi sedikit tengah menuju kepada kehancuran dunia.

Apa yang perlu dilakukan?

Jika ada agenda sistematis dan terstruktur yang disebut westernisasi, maka perlu membuat upaya sebaliknya, yakni dewesternisasi. Dalam konteks sains ini kita perlu menyadarkan, tidak cukup sekedar membuktikan karena sudah jelas-jelas terbukti, bahwa sains ini tidak sekedar empiris, tapi melintasi dunia empiris (transempiric). Hal itu karena beberapa alas an berikut.

Pertama, secara bahasa. Seperti disebutkan di atas, sains ini berasal dari bahasa Latin scientia yang mempunyai kata dasar scire (to know). Ini dalam bahasa lainnya knowledge (Bahasa Inggris), ilm (Bahasa Arab), pengetahuan (Bahasa Indonesia). Jadi sebetulnya baik sains, ilmu, pengetahuan, setara dan sama-sama umum. Jika demikian adanya, maka perlu pendefinisian ulang sains itu sebagai pengetahuan yang tidak saja empiris, tapi transempiris.

Kedua, secara historis. Yang membuat istilah sains terbatas adalah proses panjang Barat menjadi sekuler. Artinya sains modern yang sempit itu adalah buah sekularisasi. Oleh karena itu, perlu desekularisasi sains. Ini bermakna, ada upaya mengembalikan sains kepada pengertian yang lebih menyeluruh dan utuh, bukan sempit dan partikular.

Ketiga, alasan epistemologis. Salah satu yang menjadi problem utama sains menjadi sempit itu secara epistemologis adalah penggunaan saluran ilmu tertentu dan menghilangkan saluran ilmu yang lain yang bagi hakekat diri manusia justru itu yang paling penting. Sumber ilmu yang tertinggi dan yang paling penting itu adalah wayu. Wahyu adalah pemberi informasi tentang ilmu-ilmu yang tertinggi secara hirarkhis. Biar pun gemerlapnya sains saat ini, ilmu para nabi yang diturunkan melalui wahyu itulah yang tertinggi. Sebab itulah para nabi dan rasul diturunkan, yakni untuk mengingatkan akan urgennya ilmu ilahi diketahui oleh umat manusia.

Pengembalian makna sains sempit kepada yang luas dan yang sebenarnya inilah yang dimaksud di sini dengan transempirikal sains. Melintaskan sains dari sekedar empiris kepada yang rasional, intuitif bahkan profetik. Dengan demikian, maka akan muncul sederet nama-nama sains yang beragam dari saluran ilmu yang berbeda, seperti halnya yang pernah diklasifikasi oleh al-Farabi dalam kitab Ihsa’-nya, atau oleh al-Ghazali dalam Ihya’-nya. Khazanah Islam yang begitu luas akan termasuk sains nantinya, mulai dari sains al-Quran, hadits, tafsir, fiqih, tasawwuf, akhlak, dan segala macam ilmu yang dikenal hebat dalam tradisi Islam yang pernah mengantarkan umat ini kepada kejayaannya di masa silam.

Siapa yang berusaha dalam pelepasan belenggu makna sains saat ini dari yang empiris kepada transempiris, maka sebenarnya ia sedang melibatkan dirinya kepada salah satu agenda islamisasi ilmu yang berlangsung sejak masa nabi Muhammad diutus empat abad silam. Sebab, sebetulnya islamisasi ilmu itu sudah berlaku sejak baginda diutus dahulu dan akan selalu berlaku hingga kini. Dan inilah pentingnya transempirikal sains demi kemajuan ilmu dan peradaban umat manusia secara umumnya dan umat Islam secara khususnya. Wallahua’lam!  

Pamekasan, 05 Februari 2011

BACA JUGA  Konsepsi Akhlak dan Adab dalam Pendidikan Karakter

Last modified: 09/02/2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *