The Last Man Standing Itu Bukan Peradaban Barat

Komentar di atas jelas bukan hanya komentar yang bernada pesimis, tapi juga komentar bernada kekaguman atau inferioritas seseorang yang  pernah mencerap “otoritas”  beasiswa Fulbright yang “bergengsi”. Harus diakui, worldview Barat yang core-nya berupa sekularisme serta relativisme, secara perlahan berhasil meruntuhkan sendi-sendi peradaban lain. Namun keberhasilan ini bukanlah keberhasilan yang patut dirayakan. Ditambah lagi, aksi itu kini mendapat reaksi balik yang cukup masif dari entitas yang tidak pernah mati, yakni umat Islam.

Tidak banyak yang diketahui peradaban Barat tentang konsep ‘sunnah pergiliran’ sehingga Barat mereka memiliki asumsi bahwa “the last man standing” atau peradaban terakhir yang akan berjaya dan bertahan adalah demokrasi liberal (baca: peradaban Barat). Asumsi ini berlandaskan pada imajinasi yang tidak ilmiah bahwa sunnah pergiliran tidak akan menghampiri peradaban mereka.

Di sisi lain, banyak umat Islam yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah ummah wahidah (umat yang satu). Konsep ini meniscayakan setiap umat akan memimpin (leader) pada masa tertentu dan akan menjadi pengikut (follower) pada masa yang lain. Setiap umat akan hidup untuk kemudian mati, binasa, dan lenyap; demikian berulang-ulang, kecuali ummah wahidah. Meski ada saatnya ummah wahidah ini menjadi follower, namun umat ini tidak akan pernah mati untuk selamanya.

Hamid Fahmy Zarkasyi merangkum sebuah kesimpulan indah dari tabiat ummah wahidah, yakni peradaban Islam memiliki wacana yang lebih banyak dari wacana sejagad sekali pun. “Kita punya Al-Qur’an yang dapat berfungsi sebagai kekuatan pemersatu (unifying force) yang tidak dimiliki peradaban lain”, kata Hamid.

Von Grunebaum dengan nada heran menulis :

“Bangsa-bangsa datang dan pergi. Kerajaan-kerajaan bangun dan jatuh. Tapi Islam bertahan dan dapat terus mengayomi pengembara (nomads) dan penghuni tetap (settlers), pembangun peradaban dalam Islam dan perusaknya. Jadi apa faktor-faktor yang mempersatukan mereka menjadi satu ummah; yaitu mereka yang secara sadar atau tidak cenderung untuk mempertahankan individualitas mereka, sedangkan di sisi lain berupaya untuk mengikat diri mereka dengan Islam yang universal sebagai kekayaan spiritual mereka yang sangat berharga?

 

Sekarang, dimana peradaban Romawi? Tidak ada. Tak ada yang tersisa darinya kecuali puing-puing peninggalan bangunan saja. Lalu, dimana peradaban Yunani? Tidak ada. Tak ada yang tersisa darinya kecuali hanya filsafar-filsafat kosong dan palsu serta kuil-kuil yang hanya difungsikan sebagai objek wisata saja. Sekarang, dimana peradaban Persia? Ia telah mati dan tidak meninggalkan warisan. Lalu, dimana peradaban para Fir’aun yang tersisa? Warisan yang ditinggalkan hanyalah benda-benda mati dan puing-puing rumah – sebagaimana rumah-rumah kaum Ad dan Tsamud -, mummi, dan papirus.

Seluruh peradaban yang pernah ada di muka bumi hancur karena “mentalak tiga” agama dan spiritualitas. Pakar sejarah Arnold Toynbee mengemukakan sebuah penemuan, bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran sebagai “chrysalis” (kepompong), yang merupakan cikal-bakal tumbuhnya satu peradaban. Antara kematian dan kebangkitan satu peradaban baru, ada kelompok yang disebut Toynbee sebagai ”creative minorities” – yang dengan spiritual yang mendalam atau motivasi agama – bekerja keras untuk melahirkan satu peradaban baru dari reruntuhan peradaban lama. Karena itulah aspek spiritual memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi suatu peradaban. Peradaban yang telah hilang inti spiritualitasnya, maka ia akan mengalami penurunan (civilizations that lost their spiritual core soon fell into decline). Kini paradaban Barat juga melakukan hal yang sama; mencanangkan sekularisasi sebagai milestone peradabannya.

Namun, sekularisasi yang dijadikan milestone kebangkitan peradaban Barat justru akan menjadi faktor internal penyebab terjadinya pembusukan peradaban Barat yang ditandai dengan kerusakan moral dalam segala dimensi kehidupan.

Saat peradaban Romawi dan Persia berjaya, Islam seperti “melamun”, apakah mampu seorang Nabi dari sebuah komunitas kecil di padang pasir yang tandus menjadi penantang dua peradaban besar itu. Dan terbukti bisa. “Lamunan” ini sama dengan orang-orang Islam sekarang yang pada umumnya miskin dan lemah, ingin mengalahkan peradaban Barat yang sudah sangat dominan. Umat Islam harus percaya akan datangnya janji Alloh SWT tentang kejayaan peradaban Islam pasca kemundurannya yang terekam dalam khobar shodiq (the true report). Sehingga postulat yang tercipta adalah Islam dan umatnya pasti mampu mendekonstruksi – secara fisik maupun non fisik – peradaban Barat.  

Sejatinya, postulat ini memberikan garansi kemenangan bagi umat Islam. Namun, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk meraih kemenangan. Dr. Raghib as-Sirjani menegaskan bahwa sebab sekarang ini bukan zaman Abrahah. Kemenangan membutuhkan kerja keras. Kalau dulu Alloh SWT mengirimkan burung-burung Ababil guna meluluhlantakkan kekuatan Abrahah dan pasukan bergajahnya, kini umat Islam tak bisa lagi mengharapkan pertolongan “burung-burung Ababil” hanya dengan berpangku tangan. “Jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Al-Qur’an Surat Muhammad : 7).

Sebagai sebuah agama sekaligus worldview yang pernah mengalami fase kejayaan, Islam telah memiliki formula serta rumusan tersendiri bagaimana membangun peradaban dan membangkitkan kembali peradaban yang sedang terpuruk. Peradaban Islam boleh saja terpuruk, namun tidak akan pernah mati.

Proyek membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan hanya melalui satu atau dua bidang kehidupan karena ia merupakan proses bersinergi, simultan, dan konsisten. Oleh karena itu, setiap individu Muslim perlu menyadari bahwa proyek ini merupakan sesuatu yang bersifat fardhu ‘ain. Kewajiban yang dibebankan kepada setiap individu Muslim.

Lalu, darimana memulainya? Salah satu ciri terpenting peradaban Islam adalah perhatiannya yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Secara cermat dan brilian Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi merumuskan konsep gerakan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersinergi. Dibutuhkan komunitas yang secara khusus menekuni kajian pemikiran Islam, mengevaluasi, serta mengembangkannya seperti yang dilakukan oleh ashabush shuffah, sebuah komunitas yang kemudian membentuk lembaga pendidikan pertama dalam Islam yang melakukan aktivitas pengkajian wahyu dan hadits Nabi SAW dalam kegiatan belajar-mengajar yang efektif.

Oleh karena kondisi di zaman kontemporer ini sudah terjadi dikotomi ilmu pengetahuan, sehingga komunitas yang menekuni ilmu-ilmu yang bersifat fardhu kifayah juga sudah terbentuk; maka cara paling efektif mensinergikan dua komunitas ini; komunitas yang menekuni ilmu fardhu ‘ain dan komunitas yang menekuni ilmu fardhu kifayah.

Sinergi ini dilakukan dalam bentuk pengkajian bersama antara pakar ilmu syari’ah atau ushuluddin dengan pakar ilmu ekonomi, politik, sosiologi, fisika, biologi, matematika dan sebagainya. Dari kerja yang bersinergi ini maka akan dihasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi umat. Karya-karya ini dapat berupa konsep-konsep hasil Islamisasi ilmu pengetahuan untuk selanjutnya konsep-konsep tersebut ditanamkan kepada individu Muslim dalam sebuah institusi pendidikan bernama universitas yang harus merefleksikan insan kamil.

 

Wallohu’ alam bishshawwab

 

*Penulis adalah Peneliti InPAS

 

BACA JUGA  Posisi Adat Budaya dalam Hukum Islam
No Response

Leave a reply "The Last Man Standing Itu Bukan Peradaban Barat"