Teringat Sodom, Terkenang Pompei

Written by | Opini

Sodom Binasa

Kaum Nabi Luth AS mempraktikkan perilaku seks yang menyimpang dan belum dikenal sebelumnya, yaitu homoseksual. Homoseksual itu perilaku keji antara lain karena merusak jalan keturunan.

Ketika Luth AS menyeru untuk menghentikan penyimpangan itu, mereka bukan saja mengabaikannya, malah menantang. Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemunkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Luth berdoa: “Yaa Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu” (QS Al-Ankabuut [29]: 28-30).

Lalu, datanglah azab Allah. Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi (QS Huud [11]: 82). Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu (QS Asy-Syu’araa’ [26]: 173). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia) (QS Al-Hijr [15]: 73-76).

Ada catatan, Sodom adalah nama kota yang dihancurkan itu dan terletak di dekat pantai Laut Tengah. Lalu, di “Ensilopedia Al-Qur’an” karya Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dan kawan-kawan, ada penjelasan bahwa kota tempat tinggal kaum Luth itu benar-benar sering dilewati orang-orang Quraisy yang pergi ke Syam. Mereka bisa melihat bekas-bekasnya.

 

Pompei Hancur

Jika Sodom adalah contoh pertama, maka Pompei adalah semacam pengulangan Sodom. Tentang Pompei, berikut ini petikan agak panjang dari www.harunyahya.com.

Pompei, sebuah simbol kemerosotan Kekaisaran Romawi. Warganya juga melakukan perilaku seks menyimpang dan dengan kesudahan yang serupa yaitu dihancurkan letusan gunung Vesuvius.

Lava dan debu dari letusan vulkanis dahsyat (pada tahun 79 M, pen.) memerangkap warga kota tersebut. Bencana itu terjadi begitu tiba-tiba, sehingga segala sesuatu di kota itu terperangkap di tengah kehidupan sehari-hari dan hingga kini tetap seperti apa adanya. Seolah-olah waktu telah dibekukan.

Pemusnahan Pompei dari muka bumi dengan bencana dahsyat bukan tanpa alasan. Catatan historis menunjukkan bahwa kota tersebut adalah sarang foya-foya dan perilaku menyimpang. Kota ini dikenal dengan perkembangan pelacurannya yang pesat sampai-sampai jumlah rumah bordil tidak terhitung lagi. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya digantungkan di depan pintu-pintu rumah bordil.

Lava Vesuvius telah menyapu bersih seluruh kota dari peta dengan seketika. Segi yang paling menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tidak ada seorangpun yang (sempat) melarikan diri walau sedemikian hebohnya letusan Vesuvius. Sepertinya mereka sama sekali tidak menyadari akan datangnya bencana tersebut. Mereka tertegun seolah-olah sedang terkena mantra. Misal, sebuah keluarga yang sedang menyantap makanan membatu saat itu juga. Banyak pasangan ditemukan membatu dalam keadaan sedang berhubungan badan. Dalam kaitan ini, hal yang paling menarik adalah bahwa terdapat pasangan berjenis kelamin sama dan pasangan muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari beberapa jasad membatu yang digali dari Pompei tidak rusak. Ekspresi dari wajah-wajah tersebut pada umumnya menunjukkan kebingungan.

Atas diskripsi di atas, kita ingat: Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati (QS Yaasiin [36]: 29).

 

Siapa Berani?

Warga negeri ini perlu mawas diri, karena –ternyata- sejumlah aktivitasnya tergolong menantang. Misal, koran berbahasa Inggris –The Jakarta Post-, 28/3/2008, menurunkan berita berjudul Islam ‘recognizes homosexuality’ (Islam mengakui homoseksualitas). Berita itu berdasar pendapat Prof. Dr. Siti Musdah Mulia (UIN Jakarta), bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam (baca www.hidayatullah.com 30/3/2008).

Lalu, di www.hidayatullah.com 12/11/2009, ada judul IAIN Sunan Ampel Adakan Seminar “Nikah Yes! Gay Yes”. Terus, di Jawa Pos 23/3/2010 ada judul “Surabaya Tuan Rumah Konferensi Lesbian dan Gay Se-Asia”. Rencananya, lebih dari seratus anggota International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (Ilga) Asia akan berkonferensi di Surabaya pada 26-28/3/2010.

Sementara, di www.eramuslim.com 30/9/2010 bisa kita baca bahwa ada rencana festival yang akan menayangkan sekitar 500 film homoseksual. Acara ini akan diselenggarakan di 12 lokasi, mulai dari 24 September hingga 22 Oktober.

‘Terakhir’, lihat Jawa Pos 30-31/10/2010. Ada dua seri tulisan berjudul “Kucing-Kucing Brondong di Tengah Ragam Kehidupan Kota”. Lead dari tulisan ini cukup bisa menggambarkan tentang isi keseluruhannya: Pekerja seks komersial (PSK) anak bukan hanya monopoli remaja putri. Cowok ABG juga siap melayani sesama jenis. Mereka dikenal dengan istilah “kucing”.

Astaghfirullah! Dengan sedikit membuka lembar sejarah hari-hari kita kemarin, mari introspeksi dan bersegera kembali kepada (ajaran dan ampunan) Allah. Jika itu kita lakukan, semoga bencana tak datang menyergap kita secara tiba-tiba.

Sungguh, jangan terlambat untuk kembali beriman dan bertakwa kepada Allah. Kembalilah kepada ajaran yang haq, yaitu –antara lain- jangan praktikkan homoseksual (gay atau lesbian) sebab itu pasti dilaknat Allah. []

 

BACA JUGA  Jangan Biarkan Rohingya Sendirian!

Last modified: 05/11/2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *