Tentang ‘Pesona’ Ustadz Muda di Televisi

1 comment 607 views

Bermodalkan wajah yang camera face, tampang memikat, segar, penampilan dandy, serta beragam banyolan seru, tampak para ustadz muda ini mampu memesona para ibu dan remaja putri untuk terus menyimak ceramah mereka.

Tapi, banyak kalangan menilai apa yang disampaikan para ustadz muda nan memesona ini substansi dakwahnya sangat kurang karena lebih banyak canda dan tawa. Ketua Majelis Ulama Indonesia -Ma’ruf Amin- mengeluhkan kemunculan ustadz-ustadz yang lebih banyak mengumbar canda dan tawa daripada dakwah di televisi. Ma’ruf menilai mereka tidak memberikan materi yang mendidik, hanya sekadar pepesan kosong.

“Substansinya sangat kurang sekali, mereka lebih banyak bercanda kepada publik. Jadi intinya mereka lebih mengarah ke aksesoris bukan ke arah substansi seperti mendidik,” kata Ma’ruf Amin di kantor MUI, Jakarta, Selasa 15 November 2011.

Dia mengatakan, seharusnya mereka lebih mendidik dalam rangka meningkatkan kualitas umat muslim. Kalau hanya sekadar bercanda, fungsi sebagai pendakwah akan hilang. Oleh karenanya, dia berencana akan mencari cara bagaimana agar dakwah di televisi menjadi lebih berkualitas.

Ustadz Harry Moekti yang pernah akrab dengan dunia selebriti juga mengeluhkan masalah ini. Pria yang justru meninggalkan dunia keartisan demi syi’ar Islam tesebut melihat realita ini sebagai buah dari sistem kapitalisme.

“Dalam sistem kapitalisme, muncullah budaya hedonisme, dan perangkap hubbuddunya, yakni harta, tahta, dan wanita. Masyarakat kemudian dibangun rasa permisivisme. Ketika ada ustadz mulai dekat dengan perempuan dianggapnya wajar,“ papar mantan rocker itu kepada Eramuslim.com, Senin 24/10/2011.

Oleh karena itu, para da’i dituntut untuk tidak terjebak dalam perkara ini. Islam harus menjadi bekal utama dalam berdakwah agar kita tidak larut dalam tipu daya dunia. “Kalau para da’i tidak konsekuen dengan Islam yang kaffah dan prinsip Islam yang mereka pegang, maka mereka akan terjebak dalam sistem itu,” tambahnya.

“Twenty first century society is all about celebrity” (masyarakat abad ke-21 segalanya adalah mengenai selebriti), demikian ungkap akademisi periklanan, Prof. Thomas C. O’Guinn dalam Advertising and Intregated Brand Promotion.

“Dalam abad media, citra adalah segalanya,” kata pakar komunikasi Idy Subandy Ibrahim dalam kata pengantarnya untuk buku mutakhir Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif karya David Chaney. Akibatnya, di abad media, seorang ustadz atau da’i dipandang tidak perlu sehebat Buya Hamka atau Muhammad Natsir.

Kini, untuk menjadi tokoh publik orang tak selalu harus melakukan hal-hal yang luar biasa atau menciptakan karya besar. Misal, para ustadz muda di televisi tidak perlu berpeluh untuk menulis sebuah kitab fiqih atau tafsir. Kiprah mereka justru terekam dalam tayangan infotainmen dengan pemberitaan yang membuat miris jama’ah. Sejumlah jamaah kini mulai resah dengan kenyataan, bahwa sedemikian mudahnya seseorang disebut ustadz.

Bermodal wajah yang camera face, gaya yang terus up to date dan model berceramah yang atraktif, seorang penceramah kini bisa dengan mudah menjadi ustadz. Lalu setelah terkenal, acara ceramahnya punya rating tinggi, naiklah ‘derajat’-nya menjadi bintang iklan, bintang sinetron, bahkan MC acara hiburan.

Dalam abad gaya hidup, orang-orang yang dianggap besar kini adalah orang-orang yang tenar dan ditenarkan oleh media massa. Jurnalisme sekarang lebih asyik menciptakan tokoh, bintang, atau selebriti, untuk kemudian sewaktu-waktu menggantikannya dengan yang lebih baru. Jika seperti itu yang terjadi, maka yang demikian tersebut mirip siklus mode atau fashion dalam dunia hiburan: “Aku bergaya, maka aku ada!” 

Penulis adalah Peneliti InPAS

BACA JUGA  Refleksi atas Cita-cita Pendiri Negeri

 

One Response
  1. author

    Ety2 years ago

    Ilustrasinya begini. Kalo seanorg khotib Jum’at mengatakan, Kami ingatkan kepada diri kami dan jama’ah sekalian agar bertakwa kepada Alloh . Apakah kami disitu banyak orang (jamak)? Tentu tidak. Nah, begitu juga untuk itu. Jika antum masih ada pertanyaan lebih lanjut berkenaan dengan masalah tafsir maka kami sarankan untuk hadir di kajian ahad pagi jam 6.30 di Masjid Kampus UGM. Insya Alloh disitu kita dapat bertanya dengan lebih leluasa. Syukron semoga dapat bermanfaat

    Reply

Leave a reply "Tentang ‘Pesona’ Ustadz Muda di Televisi"