Syekh Ali Jaber (1976–2021); Pecinta dan Pembela Al-Qur’an

Written by | Opini

202101141354-main

 

 

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.com-“Rasanya, baru kemarin kita ‘kenalan’, duhai Syekh Ali Jaber. Rasanya, baru sedikit ilmu yang kami reguk dari engkau, wahai Syekh Ali Jaber”. Kira-kira, begitulah ungkapan duka dari banyak kaum Muslimin saat mendengar ulama asal Madinah yang lembut dan murah senyum itu meninggal pada 14 Januari 2021. Inna lillahi wa inna ilahi roji’un.

Memang, rasanya seperti baru kemarin. Materi dakwah Syekh Ali Jaber yang menyejukkan, tak mudah kita lupakan. Tutur kata Syekh Ali Jaber yang lembut, menguatkan ghirah kita. Senyum Syekh Ali Jaber yang tulus dan selalu mengembang, membuat kita seperti telah bersaudara sejak lama.

Benar, senyum! Rasanya, itulah kesan pertama terkuat saat kita berjumpa atau melihat Syekh Ali Jaber. Kemudian, masya-Allah, ternyata senyum itu tetap tersungging saat beliau wafat. Itu, kata Aa Gym saat berkesempatan melihat jenazah Almarhum: “Alhamdulillah, Aa jadi saksi, beliau wajahnya bersih dan tersenyum.”

Banyak kebaikan yang telah ditorehkan Almarhum. Tak sedikit kemanfaatan bagi sesama yang sudah dikerjakannya. Salah satu amal shalihnya yang patut kita hargai adalah usahanya yang sungguh-sungguh dalam menggelorakan semangat umat Islam-terutama yang berusia muda-untuk mencintai sekaligus menjadi penghafal Al-Qur’an. Selanjutnya, berikut ini sekadar menyebut tiga jejak amal shalihnya.

 

Angkat Martabat Remaja-Pemulung yang Rajin Mengaji

Rasanya baru kemarin, saat Syekh Ali Jaber memeluk hangat Muhammad Ghifari Akbar. Lalu beliau ambil keputusan, remaja berusia 16 tahun itu dijadikan sebagai anak angkatnya. Tak cukup di situ, lelaki yang hafal Al-Qur’an itu bertekad akan menjadikan Ghifari sebagai penghafal Al-Qur’an sebagaimana dirinya.

Siapa Ghifari? Bermula dari sebuah foto yang viral di media sosial pada 27 Oktober 2020. Pesan di foto itu kuat: Terlihat, seorang remaja-pemulung, di tengah gerimis tampak sedang khusyuk membaca Al-Qur’an di sebuah trotoar di sebuah kota. Saat foto itu beredar cepat, tak ada keterangan tentang siapa nama remaja itu dan di mana lokasinya.

Belakangan baru diketahui bahwa remaja itu bernama Muhammad Ghifari Akbar, asal Garut. Lokasi dia mengaji, di Jalan Braga – Bandung.

Alkisah, Ghifari sudah bertahun-tahun hidup di jalanan. Dia pergi dari rumah sejak putus sekolah kelas 4 SD untuk mencari ibunya. Modalnya adalah sarung, Al-Qur’an dan pakaian sekadarnya. Dia jalani hari-harinya sebagai pemulung. Di sela-sela mencari barang bekas, dia selalu menjalankan shalat lima waktu dan menyempatkan membaca Al-Qur’an di manapun berada.

Sang ibu telah meninggalkan Ghifari sejak dia berusia delapan bulan. Konon, si ibu akan mencari kerja di Arab Saudi. Ayahnya ada, sudah menikah lagi, dan Ghifari pernah tinggal bersamanya. Tapi, kemudian dia tinggal bersama neneknya.

BACA JUGA  FPI, HAMKA, dan “Syarat Terbaik”

Siapa pemotret yang hasilnya mampu menyedot perhatian masyarakat luas itu? Dia seorang juru parkir, bernama Hermawan dan berusia 40 tahun. Dia tertarik memotret Ghifari karena punya cukup alasan. Pertama, itu pemandangan luar biasa. Bahwa, saat itu, Ghifari tampak sedang mengaji dengan pakaian lusuh dan karung pemulung ada di sampingnya. Kedua, dia ingat putranya yang sedang menjalani program menghafal Al-Qur’an. Oleh karena itu dia respek, ada anak kecil-pemulung-, sedang mengaji di tengah gerimis.

Foto itu oleh Hermawan diunggah di media sosial. Maka, banyaklah orang yang menyukai foto itu. Bahkan tak sedikit yang menghubungi Hermawan, ingin memberi bantuan kepada si pemulung. Namun, itu tidak bisa dipenuhinya karena Hermawan sendiri tidak kenal.

Kurang-lebih, sampailah kisah menyentuh tentang Ghifari-yang suka membaca Al-Qur’an-ke Syekh Ali Jaber. Maka, diaturlah pertemuan Ghifari dan Syekh Ali Jaber di Bandung. Saat berjumpa, nuansa haru mencuat, keduanya saling berpelukan.

Syekh Ali Jaber menitikkan air mata kala Ghifari melantunkan Surat Al-Fatihah dengan merdu. Usai itu, Syekh Ali Jaber mengatakan bakal memboyong Ghifari ke pesantren miliknya di Cipanas – Bogor. Di sana, Ghifari bakal dididik. “Saya punya firasat Muhammad Ghifari (bisa) menjadi imam besar. Akan (saya) bina di pesantren saya agar jadi Ahlul Qur’an,” tekad Syekh Ali Jaber.

Masih di kala itu, Syekh Ali Jaber berencana mengajak Ghifari umroh. “Saya ingin kenalkan dia ke Imam Besar di Tanah Suci. Saya juga sudah punya niat mengangkat Ghifari Akbar menjadi anak angkat. Kami akan bina dan penuhi semua kebutuhan dia,” tuturnya.

 

Memaafkan Si Penusuk

Rasanya baru kemarin, saat Syekh Ali Jaber bersegera memaafkan pelaku penusukan kepada dirinya. Ceritanya, Syekh Ali Jaber ditusuk orang tak dikenal saat sedang mengisi kajian di salah sebuah masjid di Kota Bandar Lampung, Ahad 13/09/2020 petang. Kajian itu bertema Memperbaiki Hati.

Syekh Ali Jaber mengatakan, pelaku terlihat masih muda-mungkin sekitar 20 tahun-dan berbadan kurus. Pascapenusukan, pelaku nyaris dihakimi oleh jamaah kajian tersebut, namun dicegah Syekh Ali Jaber. “Saya kasihan lihat jamaah memukuli dia. Saya bilang, jangan dipukuli, serahkan saja ke polisi,” ujar lelaki simpatik ini.

Mungkin bagi sebagian, tidak mudah bersikap seperti Syekh Ali Jaber. Betapa tidak! Atas insiden itu Syekh Ali Jaber mendapat 10 jahitan. Malah, sebetulnya si pelaku akan mengulangi lagi aksinya. Tapi, “Allah takdirkan gerakan tangan saya untuk melawan. Makanya, hanya tertusuk bagian otot lengan masuk ke dalam. Saya lawan dan akhirnya pisau itu patah. …. Sebenarnya, pelaku ingin tarik pisau untuk menusuk lagi,” terang Syekh Ali Jaber.

BACA JUGA  Makna Hijrah Peradaban

Luar biasa, atas perlakuan yang bisa membayakan jiwanya itu, Syekh Ali Jaber memaafkan si penusuk. Itu dilakukannya karena meneladani akhlak nabinya. “Saya ingin meniru Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad 13 tahun di Mekkah; Diserang, dihina, disiram kotoran unta di atas kepalanya, bahkan diancam mati,” ujar Syekh Ali Jaber pada 21/09/2020.

 

Meski Kena Gas Air Mata Tetap Doakan Pemimpin

Berawal dari penistaan Al-Qur`an oleh seorang non-Muslim pada 27 September 2016 di Kepulauan Seribu, Jakarta. Di hari itu, dia tercatat telah menista Al-Qur`an surah Al-Maa`idah [5] ayat 51. Hal tersebut benar-benar merupakan penistaan Al-Qur`an atau penistaan agama dan tentang ini telah dinyatakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Sikap Keagamaan yang dibuatnya.

Sayang, meski MUI telah mengeluarkan Sikap Keagamaan, umat Islam merasakan proses penegakan hukum atas kasus penistaan Al-Qur`an itu berjalan sangat lamban. Maka, untuk mendorong terlaksananya penegakan hukum yang berkeadilan, umat Islam—di bawah komando ulama—melakukan unjuk rasa. Untuk kali pertama, unjuk rasa digelar pada Jumat 14 Oktober 2016, yang kemudian dikenal sebagai Aksi Bela Islam I.

Setelah aksi itu, umat Islam merasakan bahwa tetap tak ada tanda-tanda gerak maju yang signifikan atas penanganan kasus itu. Umat Islam lalu menggelar Aksi Bela Islam II pada Jumat 4 November 2016 (dikenal sebagai Aksi 411).

Banyak ulama dan tokoh yang hadir di Aksi 411 itu. Di antaranya adalah Habib Rizieq Syihab, Ustadz Bachtiar Nasir, Aa Gym, Ustadz Arifin Ilham, dan Syekh Ali Jaber. Diperkirakan lebih dari dua juta umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia memenuhi kawasan di sekitar Istana Negara untuk menyampaikan aspirasinya: “Tegakkan keadilan dan tahan si penista agama!”

Sejak dimulai, Aksi 411 berlangsung damai. Syekh Ali Jaber turut berorasi, mengobarkan semangat pembelaan kepada Al-Qur’an: “Saya semalam bersama istri sudah menuliskan wasiat. Di dalam tulisan itu, walaupun saya lahir dan besar di Kota Suci Madinah, insya-Allah siap mati di Indonesia. Bahkan, semalam saya sudah membeli kafan. Saya sampaikan kepada istri, jangan tunggu saya pulang sampai ini persoalan dituntaskan dan diselesaikan dengan baik”.

Sayang sekali, bisa dibilang di penghujung acara, sejumlah ulama dan massa yang hadir menjadi korban gas air mata yang ditembakkan aparat. Di antara ulama yang harus dilarikan ke Rumah Sakit adalah Syekh Ali Jaber.

Setelah reda sakitnya, berkatalah Syekh Ali Jaber: “Walaupun semalam bom gas air mata, di atas kepala saya bom, padahal kita di posisi tidak pernah rusuh. Tapi, alhamdulillah sudah membaik. (Saya) sudah kembali ke rumah, habis dari Rumah Sakit.” Selanjutnya, “Mohon doa, doakan para guru kami-Ustadz Arifin Ilham-, para habaib, Habib Rizieq Shihab, dan lain-lain”.

BACA JUGA  Kasman Singodimedjo, Gigih Menagih Piagam Jakarta

Meski telah menerima perlakuan tidak baik, masih saja kebaikan Syekh Ali Jaber terlihat. Untuk pemimpin, Syekh Ali Jaber berdoa: “(Semoga) Allah beri hidayah kepada pemimpin kami, agar mereka lebih baik lagi”.

 

Sekilas Pribadi

Syekh Ali Jaber lahir di Madinah pada 3 Februari 1976. Artinya, saat meninggal berumur (hampir) 45 tahun. Nama lengkapnya, Ali Saleh Muhammad Ali Jaber.

Sejak kecil Syekh Ali Jaber mendapat bimbingan agama dari ayahnya, seorang pendakwah. Si ayah mengharapkan anaknya menjadi seperti dirinya. Untuk itu, Syekh Ali Jaber sejak kecil belajar Al-Qur’an. Pada usia 10 tahun sudah hafal 30 juz Al-Qur’an. Lalu, sejak usia 13 tahun, dia diamanahi menjadi imam di salah satu masjid di Kota Madinah.

Pendidikan formalnya, mulai dari Ibtidaiyah hingga Aliyah, diselesaikan di Madinah. Setelah itu, melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Al-Qur’an kepada banyak ulama ternama yang berada di Madinah dan luar Madinah.

Sambil menempa diri, dia rutin mengajar dan berdakwah khususnya di masjid tempat ayahnya mengajarkan Ilmu Al-Qur’an. Selama di Madinah, dia aktif sebagai guru menghafal Al-Qur’an di Masjid Nabawi.

Pada 2008, di usia 32 tahun, Syekh Ali Jaber datang ke Indonesia. Dia menuju Lombok – Nusa Tenggara Barat (NTB), asal Umi Nadia sang istri. Di situ dia menjadi guru calon penghafal Al-Qur’an, imam shalat, dan khatib di Masjid Agung Al-Muttaqin Cakranegara Lombok, NTB.

Berikutnya, dia diminta menjadi imam shalat tarawih di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Selain itu, di masjid yang sama, dia juga menjadi pembimbing Tadarrus Qur’an dan imam shalat Id.

Pada 2012 Syekh Ali Jaber resmi menjadi Warga Negara Indonesia. Terutama sejak itu, dia rutin mengisi acara dakwah di salah sebuah stasiun televisi dan menjadi juri acara “Hafiz Indonesia” di salah sebuah stasiun televisi lainnya. Sementara, untuk mensyiarkan Islam secara lebih baik dan guna melahirkan para penghafal Al-Qur’an, dia mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber.

 

Bahagia, Bahagia!

Semoga semua langkah dakwah Syekh Ali Jaber bisa terus menginspirasi umat Islam. Semoga Syekh Ali Jaber bahagia di Sisi Allah dan termasuk yang dipanggil mesra oleh-Nya seperti yang tergambar di dalam QS Al-Fajr 27-30: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”[]

 

 

Last modified: 24/01/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *