Siapa Berani Fasilitasi LGBT?

Written by | Gender, Opini

Carlos McKnight of Washington, waves a flag in support of gay marriage outside of the Supreme Court in Washington, Friday June 26, 2015. A major opinion on gay marriage is among the remaining to be released before the term ends at the end of June.  (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Oleh: Anwar Djaelani
Inpasonline.com-Adzab yang melumat kaum Nabi Luth As telah memberi pelajaran yang sangat jelas. Bahwa, adzab itu tak hanya “memburu” para pelaku seks menyimpang saja, tapi juga para pemberi fasilitasnya.

Siapa, Siapa?
Sejarah itu masih akan terus menjadi pengingat bagi kita sebab diabadikan di Al-Qur’an. Bahwa, kaum Luth As banyak yang melakukan praktik terlarang yaitu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) dan lalu mendapat laknat.

Bacalah QS Asy-Syuaraa’ [26]: 160-166: “Kaum Luth telah mendustakan Rasul-Rasul, ketika saudara mereka, -Luth- berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu. Bahkan, kamu adalah orang-orang yang melampaui batas’.”

Sejarah itu masih akan terus menjadi pengingat bagi kita sebab diabadikan di Al-Qur’an. Bahwa, istri Nabi Luth As memang bukan pelaku LGBT. Tapi, dia adalah pendukung dan bahkan memberi jalan lapang bagi dilakukannya LGBT.

Alkisah, inilah puncak tragedi. Kala itu Nabi Luth As menerima tamu yaitu sejumlah lelaki berparas tampan (yang sebenarnya mereka adalah para malaikat). Tentang keberadaan tamu itu tidak ada yang tahu, kecuali anggota keluarga Luth As saja. Tapi, tiba-tiba isteri Luth As keluar dan menceritakan kepada kaumnya, bahwa “Sesungguhnya di rumah Luth ada beberapa anak muda tampan, yang tidak pernah aku lihat orang yang wajahnya setampan mereka” (www.dakwatuna.com 13/04/2008).

Mendengar kabar tersebut, bersegeralah kaum yang tak beriman itu merapat ke rumah Luth As, berniat melampiaskan syahwatnya. Luth As yang tahu gelagat itu sekuat tenaga menolak. Adapun di antara usahanya termasuk dengan menawarkan anak-anak perempuannya untuk dinikahi. Tapi mereka menggeleng, dan “Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki’.” (QS Huud [11]: 79).

BACA JUGA  Membaca dan Menulis, Tradisi Umat Terbaik

Lalu, datanglah adzab Allah yang mengerikan itu. “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi” (QS Huud [11]: 82). “Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu” (QS Asy-Syu’araa’ [26]: 173). “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)” (QS Al-Hijr [15]: 73-76).

Ketika Nabi Luth As bersama kaum beriman selamat dari adzab Allah, sang istri justru tidak dalam posisi bersama sang suami. Dia ada di golongan yang mendapat adzab karena telah bersekutu dalam tindak kemunkaran.

Mencermati kedahsyatan adzab Allah yang ditimpakan bagi kaum yang membangkang Nabi Luth As, wajar jika kemudian Nabi Muhammad Saw mewanti-wanti kita untuk tak mengulang praktik LGBT. “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” (HR Ibnu Majah).

Sungguh, termasuk di masa kini, LGBT benar-benar merupakan ancaman serius bagi kita. Tentang ini, lihatlah sekadar beberapa berita berikut ini. “Ini Profil SGRC, Kelompok Pendukung LGBT di UI” (www.okezone.com 21/01/2016). Di berita itu disebutkan bahwa SGRC (Support Group and Resource Center On Sexuality Studies) didirikan oleh mahasiswa dan alumni UI sejak 2014. Lembaga ini merupakan kelompok pendukung dalam berbagai masalah seksual, LGBT. Dalam beraktivitas, kelompok SGRC turut memakai nama UI. Tapi, melalui pernyataan resmi di website UI Update, Kantor Humas dan KIP UI menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak berizin dan tidak berkaitan apapun dengan UI.

BACA JUGA  Persiapan Jiwa untuk Ramadhan

Baca juga berita ini: “LGBT Haram Masuk Kampus” (www.indopos.co.id 28/01/2016). Dikabarkan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof. H. Muhammad Nasir, mengatakan bahwa kelompok LGBT bisa merusak moral bangsa. Dia melarang LGBT masuk kampus karena kampus merupakan tempat menumbuhkan nilai-nilai moral dan etika, serta membangun kesusilaan bangsa.

Benar, kita harus waspada! Sebab, bertahun-tahun lalu, berita seperti itu sudah ada. Misalnya, “IAIN Sunan Ampel Adakan Seminar ‘Nikah Yes! Gay Yes’.” (www.hidayatullah.com 12/11/2009). Atau, “Surabaya Tuan Rumah Konferensi Lesbian dan Gay Se-Asia” (Jawa Pos 23/03/2010). Kala itu, lebih dari seratus anggota International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (Ilga) Asia berencana berkonferensi di Surabaya pada 26-28/03/2010. Namun, karena desakan dari sejumlah elemen Masyarakat Muslim, acara itu tak jadi dilaksanakan.

Bahaya LGBT semakin terasa, sebab sikap dari para pelaku LGBT semakin mengkhawatirkan. Belakangan, para pelaku LGBT seakan tidak takut lagi menunjukkan sikap menyimpang mereka dan menentang pelarangan LGBT (baca: “LGBT Ancaman Budaya dan Tata Sosial Agamis di Indonesia”, www.republika.co.id 01/02/2016).

Kita harus menolak LGBT. Islam keras melarang liwath yaitu aktivitas seksual antarsesama jenis. Tak boleh laki-laki “berhubungan” dengan sesama laki-laki dan perempuan dengan sesama perempuan sebagaimana dulu kali pertama dilakukan oleh kaum Nabi Luth As.

*Jangan Terlambat*
Sungguh, jangan terlambat untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah. Ingatlah kisah kaum Nabi Luth As yang diadzab Allah. Terkait erat dengan itu, semoga kita tak mengulang peran istri Nabi Luth As yang menjadi semacam fasilitator bagi praktik LGBT.[]

Last modified: 23/12/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *