Selamatkan 10 Hari Terakhir Ramadhan

No comment 547 views

Jangan Main-main!

Mari lihat berbagai berita di banyak media yang untuk hal satu ini berkecenderungan selalu berulang setiap tahun. Misal, diberitakan bahwa: “Lebaran masih sebulan lagi, tetapi pemesanan tiket kereta api jurusan Kota A – Kota B telah mencapai 75 persen dari total kursi yang disediakan. Sering kali, berita seperti itu muncul ketika Ramadhan belum berumur satu pekan.

Apa makna berita semacam itu? Hal tersebut bisa mengonfirmasikan bahwa aktivitas mudik untuk berhari-raya di kampung halaman masih dilakukan banyak orang karena dinilai sebagai tradisi yang baik. Mudik? Adakah yang perlu kita kritisi?

Terkait mudik, ada beberapa hal yang perlu menjadi bahan introspeksi kita bersama. Antara lain, pertama, sebagian dari pemudik itu membatalkan puasanya dengan dalih sedang menjadi musafir. Maka, (sebagian dari) mereka-pun merasa seperti tak bersalah saat secara demonstratif makan-minum di tempat-tempat terbuka. Padahal, pemandangan seperti ini, bisa menjadi iklan yang tak bagus tentang (umat) Islam.

Kedua, karena begitu banyak orang yang mudik di waktu (hampir) bersamaan, terjadilah situasi yang bisa tak menyenangkan. Misal, bertumpuknya banyak kendaraan di jalan kerap menimbulkan kemacetan yang parah. Lalu, tak sedikit pihak yang tak bisa menahan diri: saling serobot dengan berbagai efek sampingnya seperti berkata-kata kasar, dan lain-lain. Tentu saja, hal-hal seperti ini sama sekali bukan iklan yang menarik tentang (umat) Islam.

Kebiasaan lain adalah menyiapkan hal-hal yang dianggap bertalian langsung dengan Idul Fitri. Misal, menyiapkan baju baru, perabot rumah baru, kue-kue, atau pernik-pernik lain yang serupa dengan itu. Maka, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan, pasar-pasar (yang tradisional ataupun yang modern) penuh sesak. Sementara, masjid semakin jauh berkurang pemakmurnya.

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah Muhammad SAW lebih menghidupkan malam-malamnya dengan rangkaian ibadah seperti shalat tarawih, witir, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Aisyah RA berkata: Nabi SAW apabila memasuki sepuluh malam terakhir, maka beliau mengencangkan kainnya (tidak menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya (HR Bukhari).

Rasulullah Muhammad SAW lebih meningkatkan intensitas ibadahnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersungguh-sungguh selama sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hal yang tidak biasa beliau lakukan pada bulan lainnya (HR Muslim).

Adakah yang istimewa? Ada Lailatul Qadr! Dulu, pada malam tersebut, Allah menurunkan untuk kali pertama Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap, selama kurang lebih 23 tahun,  yaitu 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.

Peristiwa turun kali pertama Al-Qur’an itu diabadikan Allah dalam firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (QS Al-Qadr [97]: 1).

Apa keutamaan Lailatul Qadr? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al-Qadr [97]: 3). Maksudnya, beribadah di malam itu dengan segenap ketaatan (seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa) bernilai lebih baik jika dibandingkan dengan beribadah selama seribu bulan. Dari Anas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepadamu. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai keutamaannya lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang mengabaikannya, maka ia terabaikan dari segala kebaikan. Tidak ada yang mengabaikannya kecuali orang yang diabaikan (HR Ibnu Majah).

Pada Lailatul Qadr para malaikat turun ke bumi membawa kebaikan, keberkahan, dan rahmat. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (QS Al-Qadr [97]: 4).

Lailatul Qadr adalah malam kesejahteraan dan keselamatan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (QS Al-Qadr [97]: 5). Pada malam itu, hamba Allah yang shalih dan menjumpai Lailatul Qadr, akan diampuni dosa-dosanya lantaran ketaatannya kepada Allah. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa beribadah pada malam Lailatul Qadr karena keimanan dan mengharapkan  pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana mendapatkannya? Carilah Lailatul Qadr itu pada salah satu dari malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan (HR Bukhari dan Muslim).

Apa tanda-tanda kehadiran Lailatul Qadr? Antara lain, malam itu cerah, tidak terasa dingin dan juga tidak terasa panas. Matahari sepanjang hari itu memancarkan mega merah (sesuai HR Ibnu Abbas RA). Lailatul Qadr itu adalah malam yang bersinar. Tidak panas. Tidak dingin. Tidak ada pula “bintang yang dilemparkan” (sesuai HR Watsilah bin Al-Asqa’). Tanda lain, terbitnya matahari pada pagi hari dengan sinar yang tidak terlalu terang seperti biasanya (sesuai HR Muslim).

Adakah resep untuk mendapatkan Lailatul Qadr? Adakah kiat menjumpai malam yang lebih baik dari seribu bulan itu? Untuk mendapatkannya, memang tak ada pilihan lain kecuali kita harus terus-menerus beramal-shalih secara istiqomah di sepanjang hari, di sepanjang malam, di sepanjang bulan Ramadhan dan terutama di sepuluh malam yang terakhir.

Oleh karena itu, adanya sunnah untuk beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebab, di antara manfaat yang bisa kita peroleh adalah lebih memberi peluang untuk menjumpai Lailatul Qadr.

 

Siaga Selalu!

Jadi, jangan abaikan nilai penting sepuluh hari terakhir Ramadhan. Jangan tukar keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan sesuatu yang nilainya “tak ada apa-apanya”. Ayo, selamatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Selalu bersiagalah untuk ber-Lailatul Qadr! []

 

BACA JUGA  Beberapa Nasihat KH. Hasyim Asy’ari Tentang Kekeliruan Pemikiran
No Response

Leave a reply "Selamatkan 10 Hari Terakhir Ramadhan"