Salah Kaprah Pendidikan Gender

1 comment 811 views

Erma Pawitasari[1]

arton1560Inpasonline.com-Di masa lalu, orang tua memotivasi anak laki-laki agar tegar, kuat, cekatan, dan terampil melebihi perempuan karena laki-laki adalahpemimpin dan pelindung perempuan. Perempuan diberi keleluasaan menjalani fitrah keperempuanannya: berdandan cantik, bergaun anggun, bersikap gemulai, berlindung di balik kejantanan laki-laki, melahirkan anak-anak, dan mengurus rumah tangga.Hari ini, perempuan justru dibuat malu berperilaku seperti perempuan.

Padahal, penelitian memang menunjukkan perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan: perempuan lebih memahami isyarat terselubung, cenderung enggan berbeda pendapat, lebih patuh aturan, lebih ekspresif, lebih ingin tahu urusan orang, dan lebih membutuhkan pujian. Laki-laki lebih fokus dalam menyelesaikan tugas, bertanggung jawab selaku pemimpin, lebih termotivasi secara internal[Eagly & Wood, 1991]. Perempuan memiliki angka lebih tinggi dalam dimensi Neuroticism yang meliputi kegelisahan, marah, depresi, rasa malu, dan faktor-faktor emosi lainnya. Dalam dimensi Interpersonal Traits, laki-laki lebih menunjukkan ketegasan dan dominasi sedangkan perempuan lebih menunjukkan kehangatan, kepatuhan dan kasih sayang [Costa Jr.,dkk, 2001].Laki-laki cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Perempuan cenderung ekstrovert, mudah gelisah, mudah percaya, dan mengasihi[Feingold, 1994].

Perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan ini ditemukan dalam berbagai usia, periode sejarah, tingkat pendidikan dan negara. Yang mengejutkan, perbedaan gender justru lebih kentara di negara-negara penganut kesetaraan gender, seperti di Eropa dan Amerika.Tingkat depresi kaum perempuan Baratjuga ditemukan lebih tinggi dibandingkan perempuan dari negara-negara Timur [Costa Jr.,dkk, 2001].

 

Anatomi Otak

Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan anatomi otak. Fase pertumbuhan dan strukturnya berbeda [Jensen& Nutt, 2014]. Pada bagian supratentorial (otak atas), laki-laki memiliki intrakoneksi hemipheris lebih tinggi, sementara koneksi antarhemipheris dan antarmodule lebih banyak ditemukan pada otak perempuan. Namun, pada cerebellar (otak bagian bawah), terjadi sebaliknya [Ingalhalikar, dkk, 2013]. Jaringan korteks otak perempuan lebih tebal daripada laki-laki [Luders, dkk, 2006]. Gray Matter (zat abu-abu) pada otak laki-laki terfokus pada bagian kiri hemispher, sedangkan perempuan merata [Gur, 1999].

BACA JUGA  Kebebasan dalam Pandangan Islam

 

Motivasi dan Cara Belajar

Para ahli psikologi pendidikan secara konsisten menemukan tingkat depresi yang lebih tinggi pada murid-murid perempuan, walaupun prestasi akademisnya lebih bagus [Dwyer & Johnson, 1997; Pomerantz, dkk, 2002]. Murid-murid perempuan cenderung mengkritisi diri secara berlebihan dan sulit beradaptasi menghadapi kegagalan [Rubie, dkk, 1993]. Angka Fear of Failure (FF) murid perempuan lebih tinggi. Ketika merasa gagal, mereka justru kehilangan motivasi. Murid laki-laki tidak mengalami kondisi serupa [Vollmer&Almas, 1974].

 

Murid perempuan lebih ingin menyenangkan orang tua dan guru [Alper, 1977]. Kedekatan dengan pendidik ditenggarai sebagai motivasi meraih nilai tinggi [Steinmayr &Spinath, 2008]. Di bidang Bahasa, murid-murid perempuan menunjukkan prestasi lebih baik dikarenakan kecerdasan verbalnya [McGeown, dkk, 2011]. Murid-murid laki-laki cenderung menyukai bidang studi eksakta yang langsung berhubungan dengan angka-angka. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kemampuan untuk memahami Matematika, Bahasa, dan ilmu-ilmu lain secara setara, namun memerlukan pendekatan, motivasi dan cara belajar yang berbeda. Keduanya juga memerlukan rentang usia belajar yang berbeda, dikarenakan perkembangan otak dan kedewasaan yang tidak identikal [Jensen& Nutt, 2014].

 

Pendidikan Berbasis Gender

Penelitian tentang pendekatan belajar yang lebih efektif untuk masing-masing gendertelah lama dimulai [Keightley, 1977]. Salah satunya dengan mengadakan kelas/sekolah terpisah antara laki-laki dan perempuan. Hasil belajar siswa di sekolah khusus laki-laki atau perempuan secara konsisten menunjukkan prestasi yang lebih baik dibandingkankelas campur. Lulusan sekolah terpisah lebih banyak yang berhasil melanjutkan ke bangku kuliah atau jenjang pendidikan lebih tinggi [Park, dkk, 2013]. Penelitian dari Universitas Cambridge, UK, menemukan bahwa kelas terpisah telah meningkatkan hasil belajar anak laki-laki karena memudahkan mereka berkonsentrasi [BBC News, 2015]. Proyek percobaan (pilot project) dari Universitas Stetson di Florida, AS, di Woodward Avenue Elementary Schoolmenunjukkan peningkatan hasil tes yang signifikan pada kelas terpisah.

  Siswa Siswi
Kelas campur 37% berhasil 59% berhasil
Kelas terpisah 86% berhasil 75% berhasil
BACA JUGA  KH. Abdul Mukti, Berjasa dalam Menentukan Tanggal Proklamasi Indonesia

 

Tabel 1

Perbandingan hasil tes antara kelas campur dan kelas terpisah

 

Sistem belajar terpisah memberi kesempatan murid-murid perempuan mengeksplorasi diri secara maksimal, terutama dalam mata pelajaran yang biasa didominasi laki-laki, seperti olah raga dan sains. Mereka tidak merasa dianggap sebagai pelengkap sehingga menghambat rasa percaya diri untuk menguasai mata pelajaran tersebut [Kessels &Hannover, 2008]. Diskusi mendalam tentang anatomi tubuh dan cara perkembangbiakan manusia dapat dilakukan tanpa merasa malu terhadap lawan jenis.Murid-murid perempuan menunjukkan hasil belajar Biologi dan sains yang lebih baik dalam kelas khusus perempuan [Johnson &Winterbottom, 2011].Fenomena ini juga ditemukan di negara berkembang seperti Uganda [Picho &Stephens, 2012] dan Kenya [Chetcuti &Kioko, 2012].

 

Melawan Fitrah

Pendidikan gender seharusnya bertujuan memahami karakter masing-masing gender, mengoptimalkan potensi laki-laki dan perempuan, untuk meningkatkan kualitas hidup keduanya. Pendidikan gender yang benar tidak hadir untuk membunuh perbedaan dan menggiring manusia melawan fitrahnya. Simposium pendidikan perempuan yang diadakan USAID (2000) menyatakan bahwa pendidikan terbaik bagi perempuan bukanlah sekedar memberi kesempatan perempuan masuk kelas, melainkan menyediakan kurikulum yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan perempuan. Sebagai contoh, kurikulum yang mengakomodir cuti menstruasi dan cuti untuk membantu orang tua mengurus adik-adiknya.

Kurikulum pendidikan berbasis gender seyogyanya mendidik laki-laki menjadi laki-laki, perempuan menjadi perempuan. Laki-laki sebagai pemimpin, pelindung, penanggung jawab dan penjamin nafkah kaum perempuan dan anak-anak [QS. an-Nisa’ 34]. Perempuan menjadi pendamping yang menyenangkan [QS. al-Baqarah 223], kawan diskusi yang cerdas [QS. at-Taubah 71], serta memberikan pondasi kehidupan yang solid bagi penerus generasi berupa pendidikan dalamkandungan, Air Susu Ibu (ASI) dan pengasuhan yang penuh kasih sayang [QS. al-Baqarah 233]. Kesiapan memasuki dunia rumah tangga menurunkan tingkat stres dan depresi pada ibu-ibu muda [Davis, 2008; Grote &Bledsoe, 2007].

Pendidikan gender hari initelah ditunggangi ideologi kebebasan,menjauhkan manusia dari fitrah bahkan menjadi ajang promosi gaya hidup transeksual. Ide kesetaraan gender berujung pada kebebasan memilih dan mengganti jenis kelamin. Perempuan dan laki-laki boleh bertukar peran gender. Suami menjadi bapak rumah tangga, istri mencari nafkah di luar. ASI disubstitusi susu sapi. Berita kehamilan Thomas Beatie menjadi puncak keberhasilan perjuangan gender: Laki-laki bisa hamil. Padahal, Beatie dulunya memang perempuan. Ia hanya mengoperasi kelamin luarnya. Organ dalam tubuhnya tetaplah perempuan. Beatie menjalani serangkaian prosedur operasi kelamin yang rumit untuk menjadi laki-laki, pada akhirnya kembali menjalani fitrah keperempuanannya: melahirkan anak. Fenomena serupa dijumpai pula pada komunitas laki-laki transgender. “Perempuan buatan” itu didapatikembalimenyukai perempuan, lalu mengklaim diri sebagai lesbian [McHugh, 2004].

BACA JUGA  LGBT dan Moralitas

Inilah kekacauan yang ditimbulkan oleh ide kesetaraan gender. Manusia bingung dengan identitas gendernya,bahkan menggugat Tuhan salah memilihkan jenis kelamin.Kaum transgender dibuat bangga dengan organ palsunya, yang tak mampu memproduksi ASI maupun sperma.Kaum perempuan dibuat ragu untuk menjalani perannya sebagai perempuan. Perempuan yang patuh dianggap lemah. Perempuan yang meminta nafkah disebut manja. Perempuan dituntut untuk mandiri,ikut menanggung ekonomi. Pendidikan perempuan diarahkan untuk mengambil tugas ekonomi laki-laki dan menjauhkan dari tugas sebagai istri dan ibu[Agency for International Development, 2000]. Kaum laki-laki terbuai hingga melupakan tanggung jawabnya sebagai qowwam ‘ala an-nisa’ (pelindung kaum perempuan).Ikan dipaksa terbang, melupakan kodratnya untuk berenang. Sepandai-pandainya ikan terbang (flying fish), air tetaplah habitatnya. Ia tidak benar-benar terbang. Ia hanya meloncat sekuat tenaga.

Kehidupan masyarakat menjadi timpang. Laki-laki kehilangan pekerjaan, sementara anak-anak kehilangan ibu [Pawitasari, 2015].Pendidikan berorientasi materialisme menjauhkan perempuan dari keinginan berumah tangga dan memiliki anak [Waite &Spitze, 1978]. Semakin tinggi pendidikan yang ia raih, semakin ia dihadapkan pada pilihan sulit antara karir dan rumah tangga; antara ijazah dan fitrah.Biarkan perempuan menikmati hidup sebagai perempuan dan laki-laki sebagai laki-laki.

*Artikel dimuat di Republika, Kamis 19 Juni 2015

[1]Dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

One Response
  1. author

    Edwi Mardiyoko2 years ago

    Alhamdulillah artikel2 di inpas sungguh mencerahkan dan menarik untuk dibaca

    Reply

Leave a reply "Salah Kaprah Pendidikan Gender"