Roem, Pejuang Tangguh Bernama Harum

No comment 706 views

 

Tak Lelah

Mohammad Roem lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah pada 16/05/1908. Pendidikannya dimulai di Parakan, lalu ke Temanggung, dan menamatkan HIS (Holland Inlandsche School) di Pekalongan pada 1924.

Spirit kepejuangannya tumbuh sejak di HIS. Pernah di kala itu, seorang gurunya yang berkebangsaan Belanda menghardik Roem, “Zeg, Inlander!” Dasar pribumi, begitu kira-kira artinya. Roem sangat tersinggung. Dia-pun langsung ingat sejumlah papan larangan di banyak gedung seperti di rumah makan, di bioskop, di lain-lain tempat yang melarang pribumi masuk.

Masih di HIS itu, di saat jam istirahat, ada murid berkebangsaan Belanda yang mendorong-dorong Roem sambil mengolok-olok, “Inlander! Inlander!” Akibat dorongan itu Roem terjerembab. Roem segera berdiri dan mengejar anak Belanda itu. Lalu, ditinjunya perut si anak itu hingga muntah-muntah.

Dua fragmen itu membuat Roem bertekad akan turut memerdekakan bangsanya. Sambil bersekolah Roem bergabung dengan Jong Java (Pemuda Jawa). Belakangan, dia merasa tidak nyaman di Jong Java, karena aspirasi Islam tidak tertampung. Maka, bersama Syamsurijal dan beberapa tokoh lainnya dia memilih keluar. Dan, pada 1925 mereka mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) atau Himpunan Pemuda Islam dengan Syamsurijal sebagai ketuanya.

Pada 1930 Roem tamat dari Algemene Middlebare School (AMS) atau Sekolah Menengah Atas. Dia melanjutkan ke Rechts Hoge School (RHS) atau Sekolah Tinggi Hukum. Pada 1939 dia-pun meraih gelar Mester in de Rechten (Mr) atau Sarjana Hukum. Roem lalu membuka kantor pengacara di Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Roem dipercaya sebagai Ketua Muda “Barisan Hizbullah” di Jakarta. Barisan Hizbullah adalah organisasi semi-militer di bawah naungan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Dalam Muktamar Masyumi, 1947, diputuskan bahwa umat Islam harus ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Alasannya, Negara Islam Indonesia tidak akan tegak kalau Indonesia belum merdeka. Oleh karena itulah para pimpinan dan anggota Masyumi berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Apalagi setelah ada fatwa wajib jihad kepada seluruh umat Islam dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama yang juga salah seorang pendiri Masyumi.

Roem-pun berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama lewat diplomasi. Sikapnya untuk selalu menghargai pendapat orang lain meski berbeda dengan pendapatnya, menunjang keberhasilan dia sebagai diplomat.

Situs Wikipedia mencatat bahwa Roem adalah seorang diplomat ulung dan salah satu pemimpin bangsa Indonesia pada masa Perang Revolusi. Di awal kemerdekaan dia anggota delegasi Indonesia dalam Perundingan Linggarjati pada 1946 dan Perundingan Renville pada 1948. Dia juga dikenal sebagai pemimpin delegasi Indonesia dalam perundingan Roem-Roijen pada 1949, yang membahas mengenai luas wilayah Republik Indonesia. Dalam perundingan itu, Belanda diwakili Dr. Jan Herman van Roijen. Perundingan menghasilkan persetujuan Roem-Roijen yang ditandatangani pada 07/05/1949.

Perundingan Roem-Roijen pada 1949 itu (yang Roem bertindak sebagai ketua juru runding dari Republik Indonesia) dinilai berhasil karena telah mendorong segera terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB). Lewat KMB inilah -juga di tahun 1949- kemudian terbit pengakuan Belanda atas kedaulatan Republik Indonesia.

Atas kapasitas yang dipunyainya, berbagai jabatan pernah dimanatkan kepada Roem, seperti: Menteri Dalam Negeri Kabinet Sjahrir III (1946-1947). Menteri Dalam Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin II (1947-1948). Menteri Negara Kabinet R I S (1949-1950). Menteri Luar Negeri Kabinet Natsir (1950-1951). Menteri Dalam Negeri Kabinet Wilopo (1952-1953). Wakil Perdana Menteri I Kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956).

Sejak Partai Masyumi membubarkan diri pada 1960 -karena dipaksa Soekarno- Roem tidak lagi memegang jabatan di pemerintahan. Dia kemudian memusatkan perhatian pada penulisan buku dan penelitian sejarah perpolitikan di Indonesia serta aktivitas ilmiah lainnya.

Pada 16/01/1962, Roem bersama beberapa tokoh Masyumi ditahan pemerintah tanpa pengadilan. Roem dan kawan-kawan bisa keluar dari tahanan pada 1966 setelah rezim Soekarno goyah selepas pemberontakan PKI di tahun 1965. Keluar dari tahanan, kegiatan Roem dalam menulis buku dan penelitian diteruskan kembali.

Pada 1969 Roem hampir kembali ke kancah politik setelah sempat terpilih sebagai ketua Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), sebuah partai ‘jelmaan’ Masyumi karena didirikan para kader Masyumi. Tapi, tekanan rezim Soeharto menyebabkan posisi ketua harus diserahkan kepada orang lain.

Sejak itu Roem betul-betul mundur dari dunia politik praktis. Lalu, bersama-sama M Natsir dan kader Masyumi lainnya mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di tahun 1967. Di lembaga inilah Roem intens berkhidmat. Terkait itu, Roem aktif dalam berbagai forum Islam internasional. Dia tercatat sebagai anggota Dewan Eksekutif Muktamar Alam Islami (1975), Member of Board Asian Conference of Religion for Peace di Singapura (1977), serta menjadi Anggota Konferensi Menteri-Menteri Luar Negeri Islam di Tripoli (1977).

Roem meninggal di Jakarta pada 24/09/1983. Jika melihat sejarah hidupnya, tampak Roem tak pernah berhenti terlibat dalam dinamika dakwah memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Roem adalah nama harum di negeri ini. Siapapun yang belajar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia pasti pernah menyebut namanya.

Jejak Bagus

Renungkanlah! “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” (QS Al-Hasyr [59]:18). Maka, bagi umat Islam, teladan yang telah diberikan Mohammad Roem kiranya bisa membakar semangat untuk meneladaninya. Untuk meneruskan perjuangannya. []

 

BACA JUGA  Ayo Hijrah, Murnikan Aqidah!
No Response

Leave a reply "Roem, Pejuang Tangguh Bernama Harum"