Ritual Itu Bernama Mudik

No comment 482 views

Istilah mudik bisa diartikan kembali ke udik atau kampung. Uniknya tradisi mudik lebaran seperti itu hanya ada di Indonesia. Dengan kata lain kita tidak  akan menjumpai tradisi mudik lebaran seperti ini di negara-negara manapun di dunia termasuk negara-negara islam seperti Malaysia, Arab Saudi dan Iran. Bahkan di negara Arab Saudi yang notabene negara tempat kiblat umat muslim berada, Hari raya Idul Fitri disikapi dengan kondisi yang biasa-biasa saja. Tidak ada tradisi khusus dalam menyambut hari Raya Idul Fitri khususnya tradisi mudik lebaran. Bisa dibilang kemeriahan hari Raya Idul Fitri di sana tidak semeriah ketika hari Raya Haji.

Di Indonesia, mudik amat kuat karena ikatan komunitas kita amat kental. Ini tak terlepas dari kondisi geografis negeri kita yang berpulau-pulau dan bersuku-suku. Tradisi mudik Lebaran telah menjadi ritual bagi umat muslim, tidak peduli ia berasal dari golongan kaya atau miskin. Berbagai motivasi turut menyertai peserta mudik lebaran, seperti rindu kampung halaman, sungkem kepada orang tua, silaturrahmi dengan sanak saudara, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Di dalamnya terdapat suatu makna bersilaturahmi guna mempererat ikatan dengan kampung halaman, sungkem pada orang tua, bertemu dengan para kerabat dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Mudik dapat dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang tidak peduli ia berasal dari golongan apa. Andre Moller dalam buku Ramadan di Jawa (2002) mengomentari tradisi mudik sebagai fenomena khas dan unik yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.

Kerepotan yang berlangsung selama mudik dirasakan oleh para pemudik sebagai perjuangan yang harus dilewati untuk mendapatkan momen yang jauh lebih besar, yakni bisa berkumpul dengan keluarga dan handai tolan di kampung halaman. Selain itu, mengurai kisah sukses hidup di perantauan kepada kerabat dan tetangga merupakan sebentuk pengukuhan eksistensi diri. “Namun hendaknya jangan sekadar pamer kekayaan. Lebih baik jika kesuksesan yang kita peroleh mampu bermanfaat bagi orang sekitar kita,” kata Dr. Syafi’i Antonio saat menjadi salah satu pembicara di acara Democrazy di Metro TV (29/8).

Menarik Perhatian Wisatawan Malaysia

 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Herdiwan Iing Suranta mengatakan turis asal Malaysia tertarik menikmati kehebohan Lebaran di Indonesia. “Ada orang Malaysia yang sengaja ingin mencoba Lebaran di Indonesia,” katanya di Bandung (16/8).

Herdiwan menuturkan bahwa belum lama ini serombongan turis asal Malaysia menemuinya dan menyatakan ketertarikannya soal itu. Mereka itu penasaran, kata dia, setelah mengikuti gencarnya pemberitaan di media massa tentang persiapan mudik Lebaran.

Menurutnya, para turis itu tertarik dengan cerita macet yang mengikuti perjalanan mudik hingga mengunjungi obyek-obyek wisata. Soal ini mereka sudah diperingatkannya. “Hati-hati saya bilang, macetnya itu bukan sejam-dua jam, siap enggak macet 8 jam menuju Tasikmalaya, menuju Pangandaran,” kata Herdiwan.

BACA JUGA  Lagi, Jama’ah An-Nadzir Mendahului Berlebaran

Herdiwan menuturkan para turis Malaysia itu tertarik menikmati suasana Lebaran yang berbeda dengan suasana di negaranya. Macet di Malaysia saat Lebaran hanya perjalanan menuju Malaka, sedangkan di Indonesia macet terjadi di mana-mana.

Situasi Lebaran Indonesia membuat para turis itu malah penasaran dan ingin mencobanya. ”Bagi mereka ini atraksi menakjubkan, tapi waduh, jangan sampai mudik malah jadi tontonan,” kata Herdiwan. 

Herdiwan mengaku tidak tahu berapa turis yang akan datang itu. Yang pasti, katanya, ada satu bus rombongan turis Malaysia yang mengaku tertarik menikmati Lebaran di Indonesia. 

Saat Lebaran, kata dia, ada 3 obyek wisata alam di Jawa Barat yang menjadi sasaran utama wisatawan. Tiga obyek wisata itu adalah kawasan wisata Pantai Pangandaran, kawasan Puncak Bogor-Cianjur, serta kawasan wisata Pantai Pelabuhan Ratu. “Itu sasaran utama, tapi (lainnya, seperti) Kebun Binatang Bandung, Taman Safari, itu biasanya juga penuh,” kata Herdiwan. (kompasiana/tempointeraktif/Kartika Pemilia)

 

No Response

Leave a reply "Ritual Itu Bernama Mudik"