Rindu Pemimpin Anti-bohong -Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 1432-

 

Wabah Bohong?

Jika aspek jujur / tidak suka bohong dijadikan salah satu alat ukur seberapa mulia kita, maka kita prihatin. Lihat saja sebagian performa kita. Di negeri ini, korupsi -bagian dari contoh perbuatan tak jujur- terus meraja-lela. Misal, belum lama ini ada catatan bahwa 17 dari 33 gubernur berstatus tersangka. Sementara, janji pemberantasan korupsi tak terasakan perkembangannya.

Maka, tak heran jika sejumlah tokoh lintas agama mengritik Pemerintahan SBY. Intinya, setelah sejumlah tokoh lintas agama bertemu pada 10/1/2011 di Jakarta, mereka mencanangkan tahun ini sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan dan pengkhianatan.

Di pertemuan itu, Din Syamsuddin menyatakan bahwa penguasa telah melakukan banyak kebohongan publik. Padahal –papar Din- para pembohong merupakan orang munafik. Jika kebohongan dilakukan oleh penguasa, akan timbul kehancuran sistimatis (Jawa Pos, 11/1/2011).   

Jika performa pejabat / pemimpin kedodoran, bagaimana dengan pelajar, sosok calon pemimpin masa depan? Beberapa waktu yang lalu, untuk mendidik pelajar agar jujur dan tak tergoda untuk korupsi, dicanangkanlah pengadaan  Kantin Kejujuran di sekolah-sekolah. Sesuai dengan nama dan tujuannya, di kantin itu tak ada yang menjaga. Artinya, murid sebagai pembeli harus melayani dirinya sendiri. Ambil barang sendiri, lalu letakkan uang pembayaran di tempatnya. Jika ada uang kembalian, juga ambil sendiri. Indah dari segi harapan, yaitu mendidik siswa agar jujur / tidak bohong. Tapi, setelah berjalan beberapa waktu, banyak laporan bahwa Kantin Kejujuran banyak yang bangkrut.

Itulah sebagian wajah kita, yaitu sering bersikap tidak jujur alias suka berbohong. Maka, atas fenomena itu, banyak cendekiawan yang masih memiliki nurani merasa gelisah. Menyusul deklarasi serupa dengan yang di Jakarta, pada 19/1/2011di Surabaya sejumlah akademisi dari beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta, kepala sekolah, serta tokoh agama, mendeklarasikan Gerakan Antibohong. Deklarasi itu –antara lain- diikuti Prof Zainuddin Maliki (Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya), Prof Imam Robandi (ITS), Prof Zainul Arifin (IAIN Sunan Ampel) dan Rahman Abdul Aziz (Sekretaris MUI Jatim).

 

Teladan Itu

Ketika sekarang kita sedang dalam suasana memeringati maulid Nabi Muhammad SAW, maka patut kiranya untuk lebih memerkuat tekad kita menjadikan Nabi Terakhir itu sebagai teladan yang sempurna. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Lihatlah keteladanan Muhammad SAW dalam berkata-kata dan menepati janji. Bahkan, jauh sebelum Muhammad SAW diangkat sebagai Rasulullah, di antara ciri paling menonjol yang dimilikinya adalah jujur. Dia dikenal sebagai pribadi yang sangat bisa dipegang kata-katanya sedemikian rupa tanpa diminta –ketika itu- masyarakat menggelarinya Al-Amin (yang dapat dipercaya).

Di kemudian hari, ketika sejarah mencatat bahwa Muhammad SAW adalah pemimpin yang paling berhasil, maka bisalah kita ambil pelajaran bahwa modal dasar dan paling utama dari seorang pemimpin adalah dimilikinya sikap jujur. Dia harus terpercaya. Dia harus teguh memegang kata-katanya. Dia harus anti-bohong!

Teladanilah para Nabi dan Rasul Allah, sebab tidak suka berbohong (antara lain dengan ciri suka menepati janji) termasuk di antara sifat para Nabi dan Rasul. Dan, ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan ia adalah seorang Rasul dan Nabi (QS Maryam [19]: 54).

Teladanilah para Nabi dan Rasul Allah, yang tak suka berbohong. Sungguh, jika kita tak mengikuti mereka lantaran kita suka berbohong, maka kita akan sangat merugi. Kita akan dicap sebagai pendusta dan –bahkan- digolongkan sebagai tak beriman. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta (QS An-Nahl [16]: 105).

 

SBY, Apa Kabar?

Dalam hal kebijakan yang terkait dengan agama Islam, Presiden SBY pernah menyatakan sikapnya saat membuka rakernas Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Istana Negara, 5/11/ 2007. Saat itu, SBY meminta MUI untuk tetap memberikan fatwa jika ada aliran-aliran yang akan menyesatkan masyarakat.

“Presiden tidak bisa memberikan fatwa,” kata SBY.  “Ketika kita sama-sama ingin mencegah berkembangnya aliran sesat di negeri ini dan menanganinya dengan baik, maka sesuai dengan aturan main, kami memohon fatwa dari MUI,” tegas SBY.

Setelah fatwa MUI keluar, lanjut SBY, barulah perangkat negara yang akan menindaklanjuti sesuai dengan undang-undang yang berlaku. SBY berharap kolaborasi antara MUI dan pemerintah yang terjalin baik selama ini bisa dipertahankan.

Kepada ratusan peserta rakernas MUI kala itu, SBY meminta lembaga tersebut berada di garda terdepan dalam menyelamatkan umat dari kemunkaran. ”Saya mencatat ada 13 poin yang dirumuskan MUI yang harus diberantas,” kata SBY. Tiga belas poin tersebut di antaranya adalah aliran sesat, tahayul dan mistik, perzinaan, perjudian dengan segala bentuknya, minuman keras, narkoba dan zat adiktif lainnya, pornografi melalui media massa, pornoaksi di ruang publik. Berikutnya korupsi dan suap, kekerasan terhadap wanita dan anak di kalangan keluarga, kekerasan di tengah masyarakat, perkelahian, pembajakan terhadap hak cipta, serta kejahatan. “Saya setuju untuk bertindak tegas terhadap hal-hal negatif tersebut,” tekad SBY (www.radarbanten.com 6/11/2007).

Lalu, bagaimana fatwa ulama soal Ahmadiyah? Sudah sangat lama –mulai 1980 dan ditegaskan lagi pada Musyawarah Nasional (MUNAS) VII MUI 2005- Ahmadiyah oleh MUI difatwa sebagai aliran yang berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan serta pengikutnya dihukumi murtad (keluar dari Islam).

Dalam fatwa MUI itu juga dinyatakan bahwa pemerintah berkewajiban melarang penyebaran Ahmadiyah di seluruh Indonesia, membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.

Kini, jawablah dengan jujur: Tindakan tegas apa yang telah dilakukan SBY terhadap Ahmadiyah? Tak ingatkah SBY bahwa dia telah berjanji untuk mengikuti ulama dalam perkara agama?

Jika mengingkari janji telah menjadi sikap seorang pemimpin, maka modal apa lagi yang bisa menyelamatkan kredibilitasnya? Sungguh, kita benar-benar merindukan kehadiran seorang pemimpin yang anti-bohong! []

 

BACA JUGA  Skandal al-Qur’an Syiah dan Orientalis
No Response

Leave a reply "Rindu Pemimpin Anti-bohong -Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 1432-"