Renungan tentang Anak dan Pendidikan

No comment 1140 views

Oleh M. Anwar Djaelani

ilustrasi sekolah islam terpadu“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At-Tahrim [66]: 6).

Hiasan dan Ujian

Alhamdulillah, semoga kita tergolong sebagai hamba Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]: 7).

Memiliki anak adalah salah satu nikmat Allah. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS Al-Kahfi [18]: 46). Lebih dari itu, anak adalah asset yang sangat berharga. “Bila mati anak Adam, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang akan mendoakannya” (HR Bukhari, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Hanya saja kita jangan sampai terlena karena anak, sebab bukankah hidup itu adalah perjalanan panjang yang kesemuanya bergerak dari satu ujian ke ujian berikutnya? Keberadaan anak juga bagian dari ujian Allah. “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS Al-Anfaal [8]: 28). “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS At-Taghaabun [64]: 14).

Penuhilah hak-hak anak, antara lain perbagus namanya. Baguskah nama-nama berikut ini? Ahmad Imam Al-Hafiz dan Asysyifa Ramadhani. Lalu, pertanyaan berikutnya: Siapakah mereka?

Jawaban atas pertanyaan di atas ada pada berita ini: “Dua Sejoli Terancam Hukuman Mati” (karena) “Lakukan Pembunuhan Berencana Mantan Pacar” (Jawa Pos 08/03/2014). Astaghfirullah, Ahmad Imam Al-Hafiz dan Asysyifa Ramadhani telah melakukan kemunkaran yang sangat besar.

Di satu sisi, insya-Allah orang-tua keduanya sudah benar ketika memberi anaknya nama yang baik sesuai tuntunan Nabi SAW. “Kamu akan dipanggil di hari kiamat, nama-namamu dan nama-nama orang tuamu. Maka, baguskanlah nama-namamu” (HR Abu Dawud). Tapi, cukupkah nama bagus? Tentu saja tidak, sebab orang-tua wajib mendidiknya. ”Tiap-tiap anak dilahirkan menurut fitrah. Maka kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR Bukhari).

BACA JUGA  Ulama, Politik dan Nahi Munkar

Apa makna fitrah? Dari segi pendidikan, makna fitrah yaitu “Setiap anak berpotensi menjadi orang yang beriman atau orang yang shalih,” kata Masruri (Al-Falah, Juni 2007). Lebih jauh, mantan Direktur Konsorsium Pendidikan Islam itu menyatakan: “Kita bisa mengubah paradigma fitrah tersebut menjadi sebuah keyakinan bahwa setiap anak bisa menjadi baik”. Yakinlah, jika kita sudah berusaha mendidik dengan baik sesuai dengan syariat Allah maka anak kita akan menjadi baik (yaitu sukses di dunia dan akhirat).

Masruri bercerita, bahwa saat dia menjadi kepala sekolah, dia punya ‘Murid nakal’. Kenakalannya bahkan dimulai sejak dia di kelas I. Teman-temannya tak merasa aman berada di dekatnya. Tanpa sebab yang jelas, teman-temannya diludahi. Kawan-kawannya juga dipukuli atau ditendang oleh si ‘Murid nakal’ jika dia merasa terganggu. Tak hanya itu, dia juga tak sopan kepada gurunya.

Perubahan terlihat saat si ‘Murid nakal’ menginjak kelas VI. Dia berubah luar biasa yaitu menjadi ‘Murid yang baik’. Bahkan, sang Kepala Sekolah yang terus mengikuti perkembangan si anak, tahu bahwa sampai dewasa si anak tumbuh menjadi ‘Orang yang baik’. Intinya, jangan mudah memberi label! Jangan gampang melekatkan cap, semisal “Si Nakal”, “Si Pengganggu”, “Si Gagal”, atau lain-lain istilah yang sejenis dengan itu.

Mari,  tanpa lelah terus berikanlah anak-anak kita pendidikan yang baik! Apa makna pendidikan? Pendidikan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bertujuan utama membentuk manusia yang beradab.

Adab, kata al-Attas, adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertingginya, mengenal Allah, dan beramal-shalih pada tahap ihsan. Pendidikan Islam adalah kunci dan fondasi kebangkitan sebuah peradaban Islam.

BACA JUGA  Salah Kaprah Pendidikan Gender

Sekali lagi, tujuan Pendidikan Islam adalah untuk “Membentuk manusia beradab”Hasil tertinggi dari manusia beradab adalah mengenal Allah dengan segala konsekwensinya. Orang beradab tahu yang haq dan yang bathil. Dalam keilmuan, dia bisa memilih mana ilmu yang penting dan mana yang tidak penting; mana ulama (pewaris Nabi) dan mana pula Ulama’us-su’. Manusia beradab, jika memiliki ilmu adalah ilmu yang benar. Jadi, termasuk tak beradab –misalnya- jika ada sarjana syariah Islam justru menjadi penentang penegakan syariah Islam.

Kembali ke anak. Anak, bak kertas putih. Bapak-ibunyalah yang berperan besar dalam menjadikan dia Yahudi, Nasrani, Majusi, atau Muslim yang berkelas mujahid. Dengan demikian, orang tua berkewajiban mendidik anak dengan cara yang benar.

Pendidikan harus dimulai sedini mungkin dan dapat dilakukan di semua tempat, serta di segala kesempatan. Jika memilih sekolah, misalnya, sedapat-dapatnya orang-tua memilihkan sekolah yang sesuai dengan tujuan pendidikan (Islam). Orang tua harus berusaha sekuat tenaga, agar dalam proses pendidikan anak-anaknya (yang tiada boleh berhenti itu) bermuara kepada terbinanya anak yang beraqidah mantap, shalih/shalihah (menjalankan syariat Allah), dan berakhlak mulia.

Berilah terus pemahaman agar anak mencintai ilmu dan aktif mencarinya. “Siapapun yang berjalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR Muslim).

Berilah gambaran bahwa kita akan menjadi mulia dengan ilmu. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al-Mujaadilah [58]: 11).

Menuju Mulia

Ilmu yang seperti apa yang harus kita miliki? “Barang siapa yang akalnya tidak mampu memperbanyak amal-perbuatan yang baik, maka matinya akan kekurangan tingkah laku yang baik,” kata Imam Al-Ghazali. Artinya, ilmu yang harus kita cari adalah ilmu yang membuat aqidah kita semakin kukuh, pengamalan syariah kita terus bergairah, dan akhlaq kita terjaga kemuliannya. []

BACA JUGA  Kawin Beda Agama, Bahaya!

No Response

Leave a reply "Renungan tentang Anak dan Pendidikan"