Renungan dan Tekad di Muharram

No comment 788 views

Oleh M. Anwar Djaelani

هجرة“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah [2]: 218).

Hijrah, Subhanallah!

Dari ayat di atas, ada tiga keadaan atau aktivitas –yaitu iman, hijrah, dan jihad- yang dipertautkan satu dengan yang lainnya. Bahwa, hanya kaum beriman-lah yang diminta untuk berhijrah. Lalu, hijrah itu harus-lah dalam konteks jihad.

Apa makna hijrah? Secara bahasa hijrah berarti berpindah atau menyingkir. Sementara, secara maknawi dapat dijelaskan melalui sabda Rasulullah SAW: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya” (HR Bukhari dan Muslim). Berhijrah adalah meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian, hijrah adalah proses kepindahan dari suatu keadaan yang tak baik (baca: tak diridhai Allah) menuju ke yang baik (baca: diridhai Allah). Hijrah adalah suatu tahapan peralihan dari kegelapan (minadzdzulumat) menuju cahaya terang benderang (ilannur).

Adapun secara khusus, hijrah adalah kepindahan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah semata-mata karena menuruti titah Allah. Kala itu, di Mekkah tak kondusif bagi pengembangan dakwah. Rasulullah SAW dan para sahabatnya lalu berangkat ke Madinah walaupun harus meninggalkan seluruh hal yang dicintainya seperti keluarga, harta, dan lain-lain. Di kemudian hari, terbukti dari Madinah-lah Islam berkembang pesat.

Dalam sejarah penegakan tauhid, hijrah adalah pilihan strategi yang ampuh. Strategi ini mampu berkelit dari himpitan musuh agama yang biasanya dikomando penguasa zalim, yang suka memaksa rakyat untuk memaksiati Allah. Lihatlah, Nabi Ibrahim a.s. berhijrah karena Namrudz -sang raja- melarangnya menyebarkan agama tauhid (baca QS Al ‘Ankabuut [29]: 26). Perhatikanlah, Nabi Musa a.s. berhijrah karena Fir’aun -sang raja- memberlakukan ketentuan-ketentuan yang berlawanan dengan kehendak Allah (baca QS Al-Qashash [28]: 20-22).

BACA JUGA  Identifikasi Ahlus Sunnah

Bagaimana dengan hijrah kita sekarang? Jika suatu saat keadaan yang dihadapi kaum muslimin sama seperti yang dihadapi oleh Ibrahim a.s. di bawah kesewenang-wenangan Namrudz atau sama seperti yang menghadang Musa a.s. di bawah kezaliman Fir’aun, maka hijrah adalah strategi utama yang harus dipilih. Tetapi, jika keadaan di sekitar kita cukup kondusif bagi terselenggaranya dakwah, maka hijrah kita ambil semangatnya saja. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya (HR Bukhari dan Muslim). Berhijrah adalah meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran (HR Ibnu Majah).

Alhasil, kini kita perlu hijrah dari kezaliman menuju keadilan. Kita hijrah dari kecurangan menuju kejujuran. Kita hijrah dari perilaku primitif menuju sikap yang berperadaban. Kita hijrah dari segala yang dilarang Allah menuju ketaatan kepada semua perintah Allah. Dan, jika demikian, sesungguhnya diam-diam kitapun berhak mendapat sebutan muhajirin (orang yang berhijrah), yaitu kelompok orang yang tinggi derajatnya di sisi Allah dan yang akan mendapatkan kemenangan.

Perbanyak Kebajikan!

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya, empat bulan haram….” (QS At-Taubah [9]: 36). Adapun penjelasan atas ayat tersebut, bahwa: “Setahun ada dua belas bulan, empat darinya adalah bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ahmad).

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Dalam Islam, Muharram itu agung dan disebut Bulan Allah. Di bulan Muharram, dulu –antara lain- Allah menerima taubat Nabi Adam a.s..

Secara umum kita dianjurkan memerbanyak amal shalih di Bulan Muharram. Di antara amal shalih itu seperti menegakkan shalat sunnah, berpuasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan lain-lainnya.

BACA JUGA  Meluruskan Salah Paham tentang Konsep Islam

Sungguh, amat disukai jika kita bisa memerbanyak puasa sunnah selama Bulan Muharram. “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di Bulan Allah, Bulan Muharram” (HR Muslim). “Saya tidak pernah melihat Nabi SAW memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan daripada yang lainnya kecuali puasa Hari Asyura dan puasa Bulan Ramadhan” (HR Bukhari dan Muslim).

Dulu, ketika Nabi SAW sampai di Madinah, tampak orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka mengatakan: “Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun”. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada para Sahabat: “Kalian (umat Islam) lebih berhak terhadap Musa daripada mereka (orang Yahudi). Oleh karena itu berpuasalah” (HR Bukhari). Dan, “Puasa Asyura menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat” (HR Muslim dan Ahmad).

Ketika Nabi SAW melaksanakan Puasa Asyura dan meminta para sahabatnya untuk juga berpuasa Asyura, maka para sahabat berkata: “Yaa Rasulullah, sesungguhnya Hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani. Kemudian Nabi SAW bersabda: “Di tahun depan, insyaAllah kita akan berpuasa juga di tanggal sembilan (Muharram)” (HR Muslim). Namun, belum sampai di tahun depannya, Nabi SAW sudah wafat. Sekalipun demikian, karena telah menjadi niatan atau ucapan Nabi SAW maka Puasa Asyura sunnah-nya adalah tanggal 9 dan 10 Muharram. Hal tersebut bertujuan agar berbeda dengan orang Yahudi. Kecuali itu, ada juga ulama yang berpendapat –tentu saja disertai hujjah– bahwa Puasa Asyura itu afdhal jika tiga hari yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Selain Puasa Asyura kita juga dianjurkan memerbanyak belanja untuk keluarga. “Barang-siapa meluaskan pemberian untuk keluarganya (orang yang wajib dia nafkahi) dan ahlinya di Hari Asyura, niscaya Allah meluaskan pula pemberian-Nya” (HR Baihaqi).

BACA JUGA  Ukhuwah Syi’ah–Sunnah dalam Timbangan

Tekad Kuat

Mari, di Muharram kita perbarui tekad untuk bisa selalu meningkatkan kualitas kita sebagai Hamba Allah. Kita berazam hari ini harus lebih baik ketimbang kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Untuk itu, rawat terus keimanan kita, jaga selalu spirit hijrah kita, dan tak boleh berhenti jihad kita. []

No Response

Leave a reply "Renungan dan Tekad di Muharram"