Relasi Al-Laits dengan Kekuasaan, Menarik!

Written by | Opini

Paintings-of-the-Islamic-Civilization-160

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Al-Laits bin Sa’ad Al-Mishri adalah tabi’in terkemuka. Tak hanya dihormati penguasa semisal Harun Al-Rasyid, tapi Al-Laits juga dimuliakan oleh Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Meski diminta oleh Khalifah Al-Manshur Al-Abbasi untuk menjadi penguasa, ahli hadits dan fiqih itu menolaknya.

 

Berilmu dan Berakhlaq

Al-Laits bin Sa’ad Al-Mishri lahir di Qalqasyandah, sebuah desa yang tak jauh dari Kairo – Mesir. Al-Laits aktif di Masjid Amr bin Ash, masjid pertama yang dibangun di benua Afrika. Di masjid tersebut –sebagai pusat ilmu ketika itu-, Al-Laits belajar Al-Qur’an dan tafsirnya. Juga, belajar hadits. Al-Laits-pun hafal Al-Quran dan hadits-hadits.

Dalam perkembangannya, Al-Laits menjelma menjadi ahli hadits dan fiqih. Beliau dihormati, misal, karena secara adil bisa memadukan pemahaman keagamaan dengan dua pendekatan yaitu berpijak kepada nash dan kepada akal / logika. Di samping itu, Al-Laits disegani karena rendah hati.

Saat berusia 16 tahun, sangat banyak orang –termasuk gurunya- yang mendorong Al-Laits agar membuka “Majelis Ilmu” dan bahkan fatwa-fatwanya ditunggu masyarakat. Tapi, tegas dia berprinsip, tidak akan mengadakan majelis yang dimaksudkan oleh masyarakat itu sebelum mencapai usia yang layak untuk memegang amanah tersebut. Pun, sebelum dia menguasai ilmu yang memadai dan memiliki pandangan yang matang hingga dapat meyakinkan para ahli fikih tanpa kecuali.

Sekarang, kita coba cermati “persinggungan” Al-Laits dengan penguasa dan atau kekuasaan. Sebelumnya, diketahui bahwa Al-Laits memiliki orangtua yang kaya dan dermawan. Sang ayah memiliki lahan subur yang luas dan memberikan hasil pertanian berkualitas sangat baik. Si ayah dikenal suka menyantuni orang-orang di sekitarnya.

Sejak kecil Al-Laits sering menyaksikan berbagai kezaliman penguasa. Akibatnya, tertanam dalam dirinya kebencian terhadap kekuasaan dan penguasa. Situasi memburuk setelah sang ayah wafat.

BACA JUGA  Memaknai Ikhtilaf dan Cara Menyikapinya

Lihatlah! Setelah kepergian sang ayah, Al-Laits harus mengurus keluarga termasuk harta peninggalan yang melimpah. Apa yang lalu terjadi? Rumah keluarga Al-Laits dirubuhkan oleh penguasa setempat. Al-Laits kemudian membangun lagi rumah. Lantas, dirubuhkan lagi oleh penguasa. Demikian, sampai tiga kali.

Al-Laits yang menjadi tulang punggung keluarga, sangat bersedih. Terlebih lagi, lantaran kejadian itu, hasratnya yang tinggi untuk memerdalam agama menjadi terhambat. Padahal, dia sangat ingin, ilmu yang didalami dan dikembangkannya bisa memberikan jalan tengah bagi kalangan konservatif yang semata-mata berpegang kepada nash dan bagi pihak lainnya yang lebih mengandalkan akal / logika.

Mengapa penguasa menindas Al-Laits? Ada beragam analisis. Bisa karena dinilai tak patuh kepada Syaikh (guru senior), yang penguasa Arab condong berpihak kepada mereka. Bisa pula, si penguasa itu musuh ayahmya yang tak sempat berbuat buruk saat sang ayah masih hidup. Dapat juga, karena Al-Laits dikhawatirkan akan mendominasi dan bahkan mengungguli para ahli fiqih Arab lantaran ilmu yang dikuasainya.

Derita demi derita dialami Al-Laits. Kemudian, sampailah dia pada sebuah mimpi. Di mimpi itu, Al-Laits didatangi seseorang yang mengatakan, “Hai Laits, bacalah firman Allah ini: Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)(QS Al-Qashash [28]: 5).

Pada pagi harinya, Al-Laits mendengar berita bahwa si penguasa Arab lumpuh. Atas kenyataan itu, dia berpesan kepada orang-orang dekatnya agar mereka tak sewenang-wenang kepada Al-Laits dan tidak merubuhkan rumahnya. Beberapa hari kemudian, si penguasa meninggal.

Masyarakat segera mendengar kabar kematian itu, yang menyebar cepat. Sejumlah Syaikh berkomentar, ”Sungguh Allah telah memberikan pembelaan-Nya bagi Al-Laits. Maha-benar Allah dengan firman ini: Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman (QS QS Al-Hajj [22]: 38).

BACA JUGA  Perbandingan Agama, Penting dan Perlu!

Ilmu Al-Laits tinggi dan dapat dipercaya. Disebutkan, bahwa Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Al-Laits bin Sa’ad lebih teguh dalam mengikuti atsar daripada Malik bin Anas”. Disebutkan pula, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah mengatakan: “Riwayat dari Al-Laits dapat dipercaya dan shahih”.

Pernah ada dialog Amirul Mukminin Harun Al-Rasyid dengan Al-Laits.

“Apa yang dapat memperbaiki keadaan negeri ini,” tanya Harun Al-Rasyid.

“Keadaan negeri ini akan baik jika dialiri air dari Sungai Nil dan memperbarui pemimpinnya. Sumber air yang telah keruh akan mengalirkan air yang keruh pula. Tapi, jika sumber air jernih maka di hilir-pun akan jernih juga,” jelas Al-Laits dengan menggunakan bahasa perlambang.

“Kamu benar,” kata Harun Al-Rasyid.

Di lain kesempatan, Khalifah Harun Al-Rasyid punya masalah yang pelik terkait dengan syariat Islam. Kala itu, dia sangat khawatir bahwa ucapannya kepada sang istri tercinta menjadi sebab telah jatuhnya talak. Ceritanya, dalam sebuah dialog dengan sang istri, ada kalimat Harun Al-Rasyid sebagai berikut: “Engkau ditalak jika saya tak termasuk penghuni surga”.

Harun Al-Rasyid menyesal dan istrinyapun gundah, memikirkan akibat ucapan itu. Tapi, singkat kisah, Harun Al-Rasyid menjadi tenang dan lega setelah mendapat pencerahan dari Al-Laits.

Al-Laits berilmu tinggi, berakhlaq mulia, dan dipercaya semua kalangan. Adz-Dzahabi berkata, “Al-Laits merupakan ulama besar di Mesir, yang mempunyai ilmu fiqih mendalam dan ahli hadits. Bahkan, Al-Laits sangat membanggakan warga Mesir. Jika ada pergantian raja, mengganti seorang Qadhi, atau mengangkat perangkat kerajaan yang lain, maka Al-Laits yang menentukannya”.

Khalifah Al-Manshur Al-Abbasi –yang peduli kepada ketinggian ilmu dan kemuliaan akhlaq sesorang- mengundang Al-Laits untuk sebuah pembicaraan. Setelah berdialog panjang, Sang Khalifah semakin bersimpati kepada Al-Laits. Lalu beliau menawarkan Al-Laits untuk menjadi penguasa Mesir. Tapi, Al-Laits menolaknya.
“Milik” Masyarakat

BACA JUGA  Deislamisasi Politik

Al-Laits bin Sa’ad meninggal pada Jum’at di pertengahan Sya’ban 175 H. Ada kesaksian, kala itu semua warga bersedih atas kepergiannya karena mereka merasa turut memiliki Sang Ulama Besar itu. []

 

Penulis adalah kolumnis masalah sosial keagamaan di beberapa media cetak

Last modified: 12/07/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *