Qira’ah Sab’ah, Khazanah Bacaan Al-Qur’an

Written by | Sejarah Peradaban

DSC_3216-3360x1680

Oleh: Bahrul Ulum

Inpasonline.com-Sebagian orientalis seperti Arthur Jeffery beranggapan, al-Qur’an memiliki banyak versi. Adanya ragam bacaan menurut orientalis dari Inggris ini merupakan bukti mengenai hal tersebut.
Tentu saja pendapat ini salah dan keliru. Adanya perbedaan bacaan bukan berarti al-Qur’an memiliki banyak versi. Bacaan-bacaan tersebut sudah dimaklumi di kalangan ulama al-Qur’an berdasar sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah kamu mana yang mudah daripadanya.”(Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam kitab al-Burhan, Imam al-Zarkasi menjelaskan, al-Qira’ah (bacaan) berbeda dengan al-Qur’an (yang dibaca). Keduanya merupakan dua fakta yang berlainan. Al-Qur’an wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, sedang qira’ah adalah perbedaan cara membaca lafaz-lafaz wahyu tersebut dalam bentuk tulisan huruf-huruf.
Ilmu qira’ah merupakan bagian dari ulum al-Qur’an atau ilmu-ilmu tentang al-Qur’an yang membicarakan kaidah membacanya. Ia merupakan cara membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dipilih seorang imam ahli qira’ah yang berbeda dengan ulama lainnya, berdasar riwayat-riwayat mutawatir. Bacaan tersebut juga selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta cocok dengan bacaan tulisan al-Qur’an dalam salah satu mushaf Ustman.
Cara pengambilannya dengan talaqi, yaitu dengan memperhatikan bentuk mulut, lidah dan bibir guru ketika melafazkan ayat-ayat tersebut.
Perbedaan qira’ah itu berkisar pada lajnah (dialek), tafkhim (penyahduan bacaan), tarqiq (pelembutan), imla (pengejaan), madd (panjang nada), qasr (pendek nada), tasydid (penebalan nada), dan takhfif (penipisan nada).
Contoh perbedaan qira’ah yang paling sering kita jumpai adalah imaalah. Pada beberapa lafal, sebagian orang Arab mengucapkan vocal ‘e’ sebagai ganti ‘a’. Misalnya, ucapan ‘wadl-dluhee wallaili idza sajee. Maa wadda’aka rabuka wa maa qolee’.
Meski masing-masing imam punya beberapa lafal bacaan yang berbeda, namun tanda bacaan tersebut tidak terdapat dalam tulisan mushaf sekarang ini. Perbedaan itu hanya ada dalam kitab-kitab tafsir yang klasik. Dalam kitab tersebut ada penjelasan tentang perbedaan para imam dalam membaca masing-masing lafal itu.
Ibnu Taimiah mengatakan bahwa mengetahui qira’ah dan menghafalnya termasuk sunnah yang turun-temurun, yang terakhir mengambil dari yang pertama. Maka dari itu, mengetahui bacaan sebagaimana Rasulullah membaca, atau bacaan yang diakui kebenarannya oleh Rasulullah, atau bacaan yang diizinkan oleh Rasulullah dan diakuinya adalah sunah. Dan orang yang memiliki pengetahuan dalam qira’ah dan hafal, dia mempunyai keistimewaan di atas orang yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya atau hanya mengetahui satu qiraat saja. Mengumpulkannya dalam salat atau dalam membaca al-Qur’an adalah bid’ah yang makruh. Sedangkan mengumpulkannya dengan tujuan untuk dihafal dan dipelajari, hal ini merupakan ijtihad yang dilakukan oleh beberapa kelompok dalam bidang qira’ah.
Kendati ilmu qira’ah berhubungan dengan pelafalan ayat-ayat al-Qur’an, tapi tidak memiliki kaitan dengan melagukan bacaan al-Quran. Masalah melagukan al-Qur’an dijelaskan dalam nazam, yaitu seni membaca al-Qur’an. Keberadaan ilmu ini diterangkan secara jelas dalam firman Allah dalam surat Almuzzammil ayat 4, ”Bacalah Alquran itu secara tartil.”
Di berbagai wilayah negeri Islam, berkembang aneka ragam seni membaca Alquran. Dalam pelajaran nazam, dikenal berbagai jenis seni membaca Alquran, seperti Nahawan, Bayati, Hijaz, Shaba, Ras, Jiharkah, Syika, dan lainnya. Semua jenis lagu atau irama itu tidak ada kaitannya dengan ilmu qira’ah sab’ah. Semata-mata hanya seni membaca secara tartil (indah) dan tak ada kaitannya dengan bagaimana melafalkan ayat al-Qur’an. Ia termasuk seni membaca al-Qur’an yang sering kali diperlombakan dalam acara musabaqah tilawatil quran (MTQ).

BACA JUGA  Nilai Penting Adab dalam Ilmu

Sejarah Timbulnya Qira’ah

Menurut ahli sejarah, munculnya perbedaan qira’ah terjadi pada masa Khalifah Usman bin Affan. Ketika itu mushaf-mushaf al-Qur’an tidak bertitik dan berbaris, dan bentuk kalimat di dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. Kalau tidak, maka kalimat itu harus ditulis dengan satu wajah yang lain.
Kalangan sahabat sendiri berbeda-beda dalam pengambilannya dari Nabi Muhammad. Tiap-tiap golongan mempunyai lahjah (bunyi suara atau sebutan) yang berlainan satu sama lainnya. Manakala mereka menyebut pembacaan atau membunyikan dengan lahjah yang tidak mereka biasakan, suatu hal yang menyukarkan. Maka untuk mewujudkan kemudahan, Allah yang Maha Bijaksana menurunkan al-Qur’an dengan lahjah-lahjah yang biasa dipakai oleh golongan Quraish dan oleh golongan-golongan yang lain di tanah Arab. Oleh karena demikian, jadilah bagi al-Qur’an beberapa rupa (macam) bunyi lahjah.
Diantara para sahabat yang terkenal mengajartkan qira’ah ialah Ubai, Ali, Zaid bin Sabit, Ibn Mas’ud, Abu Musa al-Ash’ari dan lain-lain. Segolongan sahabat mempelajari qiraat dari Ubai, diantarnya Abu Hurairah, Ibn Abbas, dan Abdullah bin Sa’ib. Ibnu Abbas juga belajar pada Zaid. Dari mereka itulah sebagian besar sahabat dan tabi’in di berbagai negara belajar qira’ah.
Ketika khalifah Usaman mengirim al-Qur’an ke seluruh penjuru kota, disertai juga dengan para tokoh qira’ah tersebut. Para sahabat tersebut kemudian mengajarkan kepada para umat dengan bacaan masing-masing. Dengan demikian, maka timbullah beraneka ragam bacaan yang kemudian diterima oleh pata tabi’in. Demikian seterusnya sampai munculnya imam qurra’.
Begitu banyaknya jenis qira’ah sehingga seorang imam, Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam, tergerak untuk menjadi orang pertama yang mengumpulkan berbagai qira’ah dan menyusunnya dalam satu kitab. Menyusul kemudian ulama lainnya seperti Abu Khatim As-Sajistani, Abu Ja’afar menyusun berbagai kitab qira’ah dengan masing-masing metode penulisan dan kategorisasinya.
Melalui pembukuan tersebut, para ilmuwan kemudian mulai membuat kajian dan meringkas pembukuan ilmu qira’ah untuk lebih diminati orang banyak. Di antara mereka ada yang menyusunnya dalam bentuk prosa dan ada pula yang berbentuk syair agar mudah dihafal. Orang yang termasuk dalam kriteria tersebut diantaranya ialah Imam Ad-Dani dan Al-Syatibi.
Pada peringkat ini, mereka hanya mengangkat sejumlah qiraat yang banyak ke dalam karangan ¬ mereka.
Pada penghujung abad ketiga Hijrah, Ibnu Mujahid mencetuskan istilah qira’ah sab’ah. Ia mengumpulkan tujuh jenis qira’ah yang mempunyai sanad bersambung kepada sahabat Rasulullah SAW terkemuka. Mereka adalah Abdullah bin Katsir al-Dariy dari Makkah, Nafi’ bin Abd al-Rahman ibn Abu Nu’aim dari Madinah, Abdullah al-Yashibiyn atau Abu Amir al-Dimasyqi dari Syam, Zabban ibn al-Ala bin Ammar atau Abu Amr dari Bashrah, Ibnu Ishaq al-Hadrami atau Ya’qub dari Bashrah, Ibnu Habib al-Zayyat atau Hamzah dari Kufah, dan Ibnu Abi al-Najud al-Asadly atau Ashim dari Kufah. Ia menandakan nama Ya’qub untuk digantikan posisinya dengan al-Kisai dari Kufah. Pergantian ini memberi kesan bahwa ia menganggap cukup Abu Amr yang mewakili Bashrah. Sehingga, untuk Kufah, ia menetapkan tiga nama, yaitu Hamzah, Ashim, dan al-Kisai.
Jenis qira’ah ini sebetulnya sudah akrab dikalangan ulama pada abad 2 H. Namun, ia belum dikenal secara luas di kalangan umat Islam. Ini karena kecenderungan ulama-ulama saat itu hanya memasyarakatkan satu jenis qira’ah dengan mengabaikan qira’ah lainnya, baik yang tidak benar maupun dianggap benar.
Usaha Ibnu Mujahid ini awalnya banyak yang mengecam karena dianggap mengakibatkan kerancuan pemahaman terhadap pengertian ‘tujuh kata’ yang dengannya al-Qur’an diturunkan.
Namun pada akhirynya diakui sebagai usaha yang brilian karena yang dikumpulkan itu benar-benar dari Rasulullah SAW.

BACA JUGA  Bersiaplah dengan Qurban Terbaik

Last modified: 24/03/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *