Puasa dan Spirit Anticurang

Written by | Opini

DGA768633 Preparation of medicines for the treatment of patient suffering from smallpox,miniature from the Canon of medicine,by Avicenna (980-1037),Ottoman manuscript,Turkey,17th century; (add.info.: Istanbul, Istanbul Universitesi Kutuphanesi (University Library)); De Agostini Picture Library / G. Dagli Orti;  out of copyright

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.comLihatlah, sekadar dua berita berikut ini. Ketua KPU: Terlalu Dini untuk Simpulkan Pemilu 2019 Curang (www.kompas.com 27/04/2019). Rizal Ramli: Presiden Hasil Curang Tak Akan Perhatikan Nasib Rakyat Kecil (www.jpnn.com 01/05/2019). Berita-berita itu terasa lebih “menarik” karena terjadi menjelang bulan Ramadhan 2019 dan tema itu terus bermunculan di saat umat Islam telah memasuki Bulan Suci itu.

Buah Puasa
Tak seorangpun rela dicurangi, sebab hal itu sungguh menyakitkan. Sementara, bagi pecurang, semestinya segera bertobat sebab balasan Allah sangat menyengsarakan. Bacalah ayat ini: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (QS Al-Muthaffifin [83]: 1).

Lalu, mengapa telaah tentang “curang” ini menjadi lebih penting di saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa? Sekali lagi, mengapa?

Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa. Ramadhan –bulan di saat kita harus menjalani puasa- juga istimewa. Di antara keistimewaan keduanya, bahwa puasa adalah ibadah yang sangat mendapat perhatian –punya posisi khusus- di depan Allah. Sementara, Ramadhan bisa dibilang sebagai bulan pendidikan.

Puasa itu ibadah istimewa, sebab hanya kaum beriman yang diminta menjalankannya dan atas aktivitas itu ada ganjaran menjadi orang yang bertakwa. Dikatakan istimewa, sebab “Puasa itu untuk-Ku,” demikian firman Allah. Lebih lengkap, mari resapi Hadits Qudsi riwayat Bukhari dan Muslim ini: Bahwa, Rasulullah Saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Di dalam ibadah puasa, yang termasuk diatur adalah keharusan meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Seseorang yang melakukan aturan puasa –seperti meninggalkan makan-minum atau tidak berhubungan intim dengan suami/istri di siang hari-, kesemua itu dikerjakannya karena Allah. Padahal, andai mau, dia bisa melanggarnya dan tidak akan ada seorangpun yang mengetahuinya. Sikap teguh berpuasa secara benar, itu menunjukkan kuat dan benarnya posisi iman seseorang.

BACA JUGA  Islamisasi Ilmu Pengetahuan Modern dan Reformasi Pendidikan

Orang dengan posisi iman seperti tergambar di atas, menyadari bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah termasuk di saat sendirian. Dia lebih suka menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Puasa itu istimewa, sebab menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhan-nya. Maka, dalam puasa, kecil sekali peluang muncul riya’ (ingin dilihat atau dipuji orang lain).

Lewat puasa Ramadhan kita dilatih jujur. Sekalipun kita memiliki kesempatan untuk curang -makan dan minum di tempat terlindung, misalnya- tapi itu tidak akan dilakukan karena sedang berpuasa.

Saat berpuasa, kita dilatih untuk menyadari kehadiran Allah. Jika kesadaran seperti itu sudah terbangun, maka jujur akan menjadi “pakaian” keseharian kita. Tentu, kita bisa membayangkan jika sebuah negeri dihuni oleh orang-orang yang dididik bersikap jujur –anticurang- oleh “Sekolah Ramadhan”.

Mari saksikan kisah di Madinah, dulu. Di sebuah malam yang dingin, ketika rata-rata warga sudah terlelap, Umar bin Khaththab Ra justru berkeliling, sendirian. Beliau ingin mengetahui barangkali ada warga yang lapar, sakit, atau terzalimi. Dia khawatir, barangkali ada urusan orang yang luput dari perhatiannya.

Malam itu Umar Ra berkeliling lama sekali sampai kelelahan dan kedinginan. Refleks Umar bin Khaththab Ra berlindung di dekat sebuah rumah, yang jika melihat ukurannya yang kecil dan tampak teramat sederhana, milik sebuah keluarga yang miskin. Umar bin Khaththab Ra berniat menumpang berteduh sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju masjid karena fajar hampir tiba.

Sejurus kemudian, tak sengaja Umar bin Khaththab Ra mendengar dialog dari dalam rumah, sebuah percakapan antara seorang ibu yang berprofesi sebagai penjual susu dengan anak gadisnya. Hari itu rupanya susu hasil perahan kambing mereka tak banyak, sehingga jika dijual tak cukup untuk membeli berbagai keperluan esok harinya.

BACA JUGA  Otoritas dalam Islam dan Pentingnya Madzhab

“Anakku, campurlah susu itu dengan air,” pinta si ibu. Tentu saja hal itu dimaksudkan agar susu terlihat lebih banyak sehingga bisa mendapat lebih banyak uang.

“Bagaimana aku bisa melakukannya, sebab bukankah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Ra telah melarang hal yang demikian ini,” tolak sang anak gadis.

“Orang-orang lain juga mencampurnya. Ayo, campurlah, karena siapa yang akan memberi tahu Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Ra tentang hal ini? Bukankah dia tak melihat kita,” desak si ibu.

“Wahai ibu, jika Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Ra tak melihat, namun -ketahuilah- Tuhan yang memiliki Amirul Mukminin pasti melihat kita,” terang sang anak gadis dengan nada yang lembut namun tegas.

Masya-Allah! Umar bin Khaththab Ra terkesiap, takjub atas performa putri si penjual susu yang kemuliaan akhlaqnya terbangun di atas fondasi aqidah yang kukuh. Air mata haru Umar bin Khaththab Ra mengucur. Allahu-Akbar!

Lalu, bergegas Umar bin Khaththab Ra ke Masjid, karena Subuh sudah masuk. Usai mengimami shalat berjamaah, Umar bin Khaththab Ra pulang ke rumah.

Tak menunda waktu, dia lalu memangil Ashim, putranya. Umar bin Khaththab Ra meminta Ashim menyelidiki keadaan penghuni rumah yang semalam sempat “disinggahi”-nya.

Singkat cerita, setelah melaksanakan amanat dari sang ayah, Ashim kembali ke rumah dengan membawa informasi yang cukup lengkap tentang ibu si penjual susu dan anak gadisnya. Sebaliknya, Umar bin Khaththab Ra menceritakan apa yang didapatnya semalam secara tak sengaja itu.

Menuju Anticurang
Di tengah-tengah masyarakat, kehadiran orang yang pantang berbuat curang sangat bernilai tinggi. Bila sifat jujur –tak mau curang- telah melekat pada diri seseorang, maka segenap amanah yang ditanggungnya akan diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Dia pasti tidak akan mau mengambil resiko untuk –misalnya- menyelewengkan berbagai amanah itu. Jadi, mari berpuasa dan jadilah “Si Anticurang”! []

BACA JUGA  Tanggung Jawab Pemimpin dan Pengadilan Akhirat

Last modified: 13/05/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *