Prof Paul Lettinck: ”Banyak Karya Saintis Muslim Belum Digali”

paul-lettinck-30mzr3cpaqomyafjg87ldsInpasonline.com-Di awal tahun ini, INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) memulai perhelatan ilmiahnya dengan menggelar seri kuliah Sains Islam. Acara ilmiah yang bertema “Islamic Science up to 1500 CE” ini menghadirkan pakar di bidangnya yaitu Profesor Paul Lettinck dari Belanda. Kuliah digelar selama 4 hari (tanggal 12, 13, 19 dan 20 Januari 2016) di Gedung Budi Harsono, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok. Selain Paul Lettinck, seri kuliah ini juga diisi oleh pembicara dalam negeri yaitu Dr Hamid Fahmy Zarkasy (Direktur Utama INSISTS) yang membawakan makalah berjudul Worldview Sebagai Landasan Sains Islam, Adnin Armas MA (mantan Direktur Eksekutif INSISTS) berbicara tentang Fakhruddin Ar-Razi, Dr Wendi Zarman (Peneliti INSISTS) mengetengahkan Konsep Alam dalam Pendidikan Sains Islam, dan Kandidat Doktor Usep Muhammad Ishaq (Peneliti Institut PIMPIN, Bandung) berbicara tentang Ibn Haitham.

Siapakah Paul Letticnk? Paul Lettinck adalah mantan Guru Besar di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Kuala Lumpur selama 9 tahun (1996-2005) dan sebelumnya pernah selama setahun (1992-1993) menjadi peneliti di Department of the History of Science, Oklahoma University Amerika Serikat. Ia mendapatkan gelar Ph.D pada tahun 1973 dalam bidang fisika nuklir dan Ph.D kedua di tahun 1991 dalam bidang Semitik dari Vrije Universiteit Amsterdam, Netherlands. Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain: Aristotle’s Physics and its Reception in the Arabic World (Leiden: Brill, 1994), Aristotle’s Meteorology and its Reception in the Arab World (Leiden: Brill, 1999), Philoponus: On Aristotle Physic 5-8 with Simplicius: On Aristotle on the Void (Bloomsbury, 2014), dan sejumlah artikel di jurnal internasional. Menjelang kunjungannya ke Jakarta, ia menerima Direktur Eksekutif INSISTS Dr Syamsuddin Arif di Kuala Lumpur, untuk sebuah wawancara eksklusif seputar sains di dunia Islam. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan, bagaimana Anda me raih dua gelar doktor –satu da lam bidang fisika nuklir dan satu la gi dalam bidang semitik dan ba gaimana latarbelakang keputusan Anda untuk mempelajari bahasabahasa semitik?
Seorang sarjana fisika [di negeri Belanda] biasanya akan berkarir sebagai guru di sekolah menengah [jika bukan bekerja di industri]. Saya sendiri pernah mencoba itu selama beberapa tahun. Namun ketika liburan dalam pengemba raan saya di kawasan Afrika Utara [Maroko, Aljazair, Tunis, Libya], saya mulai berkenalan dengan budaya Arab [yakni peradaban Islam], yang menurut saya waktu itu cukup menarik. Karena saya berpikir untuk selamanya menjadi guru fisika di sekolah menengah, maka saya lantas mengubah haluan dan memutuskan untuk belajar bahasa Arab. Dan ternyata saya dapati bahasa Arab itu bagus, luas dan kaya dengan berbagai jenis literatur yang menarik untuk dipelajari.

BACA JUGA  AL-INSIHAB DAN AL-‘AUDAH, Kontribusi Imam al-Ghazali dalam Kebangkitan Islam

Anda pernah mengajar 9 tahun la manya di ISTAC sebagai guru besar sejarah dan filsafat sains Islam. Apakah yang Anda ajarkan di sana dan apa sebenarnya tujuan atau hasil yang diharapkan dari materi yang disampaikan?
Saya diminta untuk datang mengajar di ISTAC karena mereka mengenal karyakarya saya yang telah diterbitkan mengenai sejarah dan filsafat sains Islam, sehingga itulah yang saya ajarkan. Saya juga diminta mengampu matakuliah logika yang memang diperlukan dalam semua bidang studi. Di samping itu, saya juga diminta mengajar bahasa Yunani kuno dan bahasa Latin. Bahasa-bahasa klasik ini, selain berfungsi untuk mengasah akal dan memberikan kepuasan kepada mahasiswa, memang amat diperlukan bagi mereka ingin meneliti karya-karya saintis Muslim dalam bahasa Arab, melacak sumber-sumbernya, dan membandingkannya dengan karyakarya ilmiah yang ditulis sebelumnya dalam bahasa Yunani, misalnya. Juga diperlukan apabila seseorang ingin meneliti dampak karya-karya tersebut terhadap dan kaitannya dengan perkembangan sains di Eropa [sejak perang salib hingga awal abad modern] yang hampir seluruhnya ditulis dalam bahasa Latin.

Banyak orang di Indonesia meng anggap sains Islam itu nostalgia belaka, yang hanya cocok untuk murid-murid sekolah saja. Namun [di luar negeri] minat terhadap sains Islam maupun upaya-upaya serius para ahli tampak semakin me ning kat –mulai dari penelitian Eilhard Wiedemann yang dihimpun menjadi Aufsätze zur arabischen Wissen schaf tsges chichte (1970) sampai kar ya-karya yang diterbitkan Roshdi Rashid, editor Encyclopedia of the History of Arabic Science (1996). Bisa Anda jelaskan apa pentingnya itu semua dilakukan?
Saya tidak tahu pasti siapakah mereka yang bersikap dismissif itu. Akan tetapi, faktanya adalah bahwa peradaban Islam, termasuk di dalamnya sains, telah diteliti dengan serius oleh para akademisi di Eropa sejak zaman Renaissans. Sebut saja, misalnya, Thomas Erpenius di Leiden, yang aktif sampai akhir hayatnya di tahun 1624. Dan memang sekarang ini pun ada sejumlah lembaga-lembaga kampus di seluruh dunia yang secara khusus melakukan penelitian sejarah sains Islam seperti di universitas-universitas Barcelona (pusat studi Historia de la Ciencia Árabe), New York (Columbia Univer sity), Yale (Amerika Serikat), Aleppo (Suriah), Frankfurt (Jerman), dan banyak lagi. Banyak orang tidak tertarik pada seja rah, dan tentu saja seseorang tetap bisa menjadi saintis yang ahli di bidangnya tanpa paham sejarah sains sama sekali. Namun, dengan mengetahui sejarah, seseorang akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang apa sebenarnya sains itu, hakikat dan tujuannya. Ia juga akan mendapat gambaran yang jelas dan semakin memahami bagaimana orang pada zaman yang berbeda dan kultur yang berbeda ternyata bisa memiliki pandangan dan pendekatan yang berbeda dalam mempelajari alam ciptaan Tuhan.

BACA JUGA  Imam al-Syafi’i, Pembuka Kunci untuk Para Ahli Hadits

Kendati pernah berkembang pesat dan maju di masa lalu, sains di dunia Islam sering disebut kemudian mengalami kemerosotan sejak lima ratus tahun terakhir. Bagai mana pendapat Anda soal ini?
Kalau membaca dari internet, kita akan menemukan banyak pendapat tentang me ngapa sains tidak berkembang pesat di dunia Islam semenjak abad ke-16 dan me nga pa perkembangan sains semenjak itu justru terjadi di Eropa. Pada dasarnya da lam hal ini tidak ada satupun jawaban yang pasti untuk pertanyaan “mengapa”. Sejarah bukan alam fisik. Apa yang terjadi [dalam sejarah] terjadi begitu saja [tanpa bisa diprediksi atau dimanipulasi]. Mungkin ada sebab-sebab tertentu yang positif maupun negatif berdampak pada kemajuan sains, sebagaimana dikemukakan oleh banyak sejarawan. Saya sendiri tidak memiliki pendapat khusus soal ini. Saya mungkin lebih sepakat dengan pendapat Cohen dalam bukunya, How Modern Science Came into the World (Bagaimana Sains Modern Muncul, terbitan 2010), yang mengatakan bahwa tidak terdapat alasan-alasan yang menghalangi kita untuk bertanya mengapa Revolusi Sains tidak terjadi di dunia Islam pada abad ke-11. Barangkali saya bisa menguraikan masalah ini lebih lanjut dalam kuliah saya di INSISTS besok.

Apakah tantangan mereka yang ingin meneliti sains Islam. Apa saran Anda untuk mereka?
Masih banyak sekali karya-karya sainstis Muslim dalam bentuk manuskrip yang tersebar dan tersimpan di perpustakaan di seluruh dunia, baik perpustakaan universitas maupun lembaga-lembaga swasta dan milik pribadi. Tidak ada yang tahu persis berapa jumlahnya dan apa isinya. Maka tantangan kita kemudian adalah, pertama, melacak keberadaan karya-karya tersebut, mendata dan mengedit serta menerbitkannya. Setelah itu meneliti dan menguraikan isinya, membandingkan dengan teks-teks sejenis dari periode sebelum maupun sesudahnya, menentukan hubungan atau keter kaitan di antaranya, dari segi apa, sejauh ma na, dan seterusnya. Untuk inilah diperlu kan penguasaan bahasa Yunani (Greek) dan Latin, disamping penguasaan bahasa Arab dan latarbelakang pendidikan sains yang memadai. Publikasi dalam bahasa Inggris akan memperluas cakupan manfaat mau pun dampaknya kepada masyarakat pem baca di tingkat internasional. Jadi, cukup banyak yang perlu dikerjakan oleh mereka yang memiliki perangkat-perangkat linguistik dan saintifik tersebut. Kalaupun Anda hanya menguasai bahasa Arab, banyak proyek bisa digarap dalam bidang ini.

BACA JUGA  Mahasiswa Teknik Elektro ITS Adakan Diskusi Mengenal Kesesatan Liberalisme dan Syiah

Pernah dimuat Republika, 21 Januari 2016

No Response

Leave a reply "Prof Paul Lettinck: ”Banyak Karya Saintis Muslim Belum Digali”"