Prita, Penghinaan Nabi, dan Buku

Written by | Opini

 

Berkah Itu

Di Indonesia nama Prita Mulyasari cukup dikenal. Dia pernah ditahan 22 hari di LP Tangerang, tapi di kemudian hari Mahkamah Agung memulihkan nama baiknya dari tuduhan mencemarkan nama baik sebuah Rumah Sakit (RS) swasta.

Pada 2008, Prita berobat ke sebuah RS. Ternyata, dalam proses pengobatan dia mengalami hal-hal yang tak semestinya. Prita-pun menuliskan pengalamannya itu. Dia tulis ketidakpuasannya di sebuah surat elektronik yang lalu menyebar secara berantai di internet. Tak disangka-sangka, pihak RS tak bisa menerima hal itu dan menggugat Prita secara perdata dan pidana.

Publik yang tahu masalahnya menilai Prita tak bersalah. Banyak yang bersimpati kepadanya dan melahirkan gerakan “Koin Keadilan untuk Prita”. Gerakan itu mengumpulkan sumbangan untuk Prita. Tetapi, sesungguhnya, gerakan itu lebih berfungsi sebagai ‘pengirim pesan’ kepada pihak terkait bahwa ada yang tak beres dalam perkara Prita.

Terbukti kemudian –seperti yang disebut di depan- Prita memang tak bersalah. Tapi, keadaan tak bisa diubah: Prita pernah berurusan dengan penegak hukum dan bahkan pernah ditahan. Posisi ini jelas tak nyaman, terlebih karena Prita punya tiga anak kecil yang –cepat atau lambat- pasti akan mengetahui kisah sang ibu.

Atas situasi tak enak tersebut, Prita-pun bergegas. Dia menulis buku yang direncenakan selesai Desember 2012. Buku itu merekam semua kejadian pahit yang dialaminya. Untuk apa? “Saya tidak ingin anak saya mengetahui mengapa ibunya dipenjara dari orang lain,” kata Prita. Dia pun menambahkan bahwa jika lewat buku luapan perasaan tidak akan lekang oleh waktu.

Memang, buku bisa lahir karena ada musibah. Buku juga bisa laris karena ada musibah. Lihatlah! Ketika pada September 2012 Nabi Muhammad SAW dihina lewat sebuah film dan dunia menjadi heboh, buku-buku Islam laris manis di Inggris (sebuah negeri yang bersama AS termasuk ‘kurang bersahabat’ dengan Islam).

Dikabarkan, penjualan buku-buku Islam di Inggris meningkat setelah tersebarnya film yang melecehkan Nabi SAW. Peningkatannya mencapai 20-30% jika dibanding dengan angka penjualan di bulan-bulan sebelumnya.

Banyak konsumen mencari buku-buku yang berisi pengenalan terhadap Islam dan terjemahan Al-Qur`an. Buku-buku Islam berbahasa Inggris merupakan buku yang paling laris. Sebuah sumber menyebutkan bahwa keadaan ini serupa dengan kondisi pascaperistiwa 11 SeptemberBottom of Form.

Kecuali lebih meningkatnya penjualan buku-buku Islam, pada saat yang sama terbuka pula peluang untuk menerbitkan buku-buku bertemakan –misalnya- bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim saat Nabi SAW dihina orang. Apakah diam saja seraya berharap si penghina menyadari kesalahannya atau bagaimana?

Terkait ini bisa saja lahir buku berjudul –misalnya- “Membela Nabi dengan Sepenuh Cinta”. Mengapa terbit ide itu? Pertama, bagi umat Islam Nabi SAW adalah manusia yang paling dicintainya melebihi cinta kepada dirinya sendiri (baca HR Bukhari). Bahkan sedemikian mulianya, Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Nabi SAW.

Kedua, ada tuntunan Islam bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim jika Nabi SAW dihina. Dari Ali bin Abi Thalib ra: “Bahwa ada seorang wanita Yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi SAW. Maka (oleh karena perbuatannya tersebut), wanita itu dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah SAW menghalalkan darahnya” (HR Abu Dawud).

Dengan mengembangkan dua ‘landasan’ di atas dan ditambah referensi yang lain, sebuah buku menarik bisa saja lahir. Jika dulu ada buku karya Ibnu Taimiyah berjudul “Al-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim al-Rasul” (Pedang Terhunus bagi Pencaci Rasul), maka bukan tak mungkin bisa segera lahir buku berjudul “Urgensi Mengekspresikan Cinta kepada Nabi”.

Dari Penjara

Kisah HAMKA, Sayyid Quthb, dan Ibnu Taimiyah yang sekalipun berada di penjara tetapi mereka tetap bisa menghasilkan karya terbaik semakin memberi keyakinan kepada kita bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. “Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah [94]: 6).

Sekitar awal 1964 HAMKA ditahan rezim Orde Lama dengan tuduhan subversi, sebuah tuduhan yang sampai dia bebas dua tahun empat bulan kemudian tak pernah bisa dibuktikan secara hukum.

Di tahanan, HAMKA atur jam-jam buat membaca dan menulis Tafsir Al-Qur’an Al-Azhar. Maka, menyusul kekacauan politik, pada Mei 1966 HAMKA dibebaskan. Saat itu, dia telah menyelesaikan tafsir 28 juz, karena yang dua juz telah diselesaikannya sebelum dia ditahan.

Di Mesir, ada Sayyid Quthb. Lelaki yang lahir pada 1903 ini hafal Al-Qur’an sejak anak-anak. Dia dipenjara rezim Gamal Abdel Nasser. Apa ‘kesalahan’ dia? Sangat sederhana: Sayyid Quthb menulis sejumlah buku bersemangat Islam –antara lain- Ma’aalim fit-Thariq (Petunjuk Jalan) pada 1964 yang berisi penolakan terhadap kebudayaan jahiliyah modern dalam segala bentuknya. Lalu, rezim Gamal Abdel Nasser yang menganut Sosialisme Arab memandangnya sebagai sebuah kesalahan besar.

Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Lindungan Al-Qur’an) diselesaikan Sayyid Quthb saat berada di penjara. Dalam kesaksian banyak kalangan, tafsir itu mampu menggelorakan spirit iman, hijrah, dan jihad.

Jauh sebelum HAMKA dan Sayyid Quthb, ada Ibnu Taimiyah (1263-1328). Dia sering merasakan ‘manis’-nya penjara. Perlakuan itu diterimanya hanya karena sejumlah pendapat keagamaannya berbeda dengan ulama-ulama lain yang dekat dengan penguasa ketika itu.

Di antara lima ratusan karya tulis Ibnu Taimiyah, sebagian lahir di penjara (termasuk Majmu’ Al-Fatawa). Itu terjadi karena di dalam penjara dia memiliki banyak kesempatan membaca dan menulis.

Menulislah Sekarang!

Mampu menulis buku itu berkah, bahkan berkah yang sangat besar. Menulis bisa dikerjakan kapan saja, baik di saat lapang atau di kala sedang didera musibah. Jadi, segeralah menulis! []

BACA JUGA  Penguasa, Kita, dan Urgensi Mendengar

Last modified: 18/10/2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *