Pesohor, ‘Jalan Gelap’, dan Selaksa Asa

No comment 1135 views

Oleh M. Anwar Djaelani

A-putus-asaInpasonline.com-“Pelawak Tessy Tertangkap Basah Pesta Sabu” (www.rimanews.com 28/10/2014). “Tessy Itu Gagah, Mantan Marinir tapi Mengapa Mau Bunuh Diri?” (www.tribunnews.com 30/10/2014). “Jenguk Tessy, Ustadz Arifin Ilham Ajak Tak Putus dari Rahmat Allah” (www.hidayatullah.com03/11/2014). Tiga judul berita itu cukup menjelaskan masalah yang sedang menimpa pesohor bernama Tessy.

Pernah Gelap

Di dunia lawak, Tessy cukup bersinar. Tessy –yang lahir pada 1947- adalah nama panggung dari Kabul Basuki.Sebelumnya, dia adalah anggota KKO TNI Angkatan Laut (sekarang Korps Marinir) untuk operasi pembebasan Irian Barat pada tahun 1961-1963. Dia bergabung dengan Srimulat Surabaya pada 1979 (www.wikipedia.org, 05/11/2014).

Tessy ditangkap polisi pada 23/10/2014, saat mengkonsumsi narkoba. Ketika hendak dibawa ke Kantor Direktorat Tindak Pidana Narkotika, Jakarta, Tessy nekat meminum cairan pembersih lantai di toilet.

Dengan tersandung perkara narkoba, Tessy –seorang pesohor yang tampak dari luar seperti ‘selalu bersinar’ itu- ternyata sempat memilih ‘jalan gelap’ yaitu menjadi pengguna narkoba, sesuatu yang terlarang.

Tak berhenti di situ, Tessy malah ‘melengkapinya’ dengan meminum cairan yang dapat membahayakan jiwanya. Untuk aksi Tessy yang disebut terakhir itu, tak salah kiranya jika ada yang menduga bahwa itu bagian dari usaha bunuh diri.

Di titik ini keprihatinan kita bertambah-tambah, sebab mengonsumsi narkoba saja sudah termasuk pelanggaran berat, malah lalu ditambah dengan usaha bunuh diri. Doyok, misalnya, mengaku tidak habis pikir. Doyok –rekan sesama pelawak dan pernah pula tersandung kasus narkoba- bilang, “Saya bingung, Tessy gagah dan dulu Marinir kok mau bunuh diri” (www.tribunnews.com 30/10/2014).

Langsung atau tak langsung, Doyok seperti ingin mengingatkan sahabatnya bahwa problema hidup yang kita hadapi –seberat apapun- jangan sampai membuat kita gelap mata dan lalu bunuh diri. Mengapa?

BACA JUGA  Pemuda, “Wukuf”-lah, lalu Bergeraklah!

Di antara tugas pokok manusia hidup di dunia ini adalah berusaha untuk bisa mengatasi berbagai ujian atau cobaan dari Allah yang selalu datang silih-berganti. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Betapapun berat –bahkan sangat berat- berbagai cobaan yang menghadang kita, hendaknya kita hadapi dengan sabar. Sebab, bersama shalat, sabar adalah senjata kaum beriman dalam menyelesaikan masalah.Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)…. (QS Al-Baqarah [2]: 214). Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS Al-Baqarah [2]: 45).

Dengan demikian, menghindari masalah adalah perbuatan yang sama sekali tak beralasan. Lebih tak beralasan lagi jika mengambil keputusan untuk bunuh diri. Bunuh diri itu termasuk dosa besar. Seorang Muslim tidak boleh bunuh diri. Allah haramkan bunuh diri. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An-Nisaa’ [4]: 29). “Dan, janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS Al-Baqarah [2]: 195). “Barang-siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada hari kiamat ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula” (HR Bukhari dan Muslim). “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka untuk selama-lamanya” (HR Muslim).

BACA JUGA  The Last Man Standing Itu Bukan Peradaban Barat

Memang, siapapun pasti akan menghadapi ujian atau masalah. Di saat itu, janganlah kita lari menghindarinya dan apalagi sampai bunuh diri. Hadapilah semua ujian dengan menjadikan shalat dan sabar sebagai penolong kita.

Jangan pernah putus asa. Maka, jika ada saudara kita yang tampak putus asa, berilah ingat dia dan semangati dia. Ajak dia untuk ‘mengembalikan’ semuanya kepada Allah. Maka, lihatlah apa yang dilakukan Ustadz Arifin Ilham.

Pada 31/10/2014, pendiri Majelis Taklim Adz-Dzikra -Arifin Ilham- mengunjungi Tessy di RS Polri, Jakarta. Mendapat kunjungan itu Tessy menangis. “Nasehati saya Ustadz. Orang semacam saya banyak gelapnya,” ujar Tessy.

“Bang, semua boleh hancur, semua boleh hilang, tetapi harapan tidak boleh hancur dan hilang. Allah sayang Abang, makanya Allah beri kesempatan hidup. Sebenarnya, beginilah cara Allah membimbing Abang agar bertaubat. Sungguh Bang, kalau Allah mencintai hamba-Nya, maka hamba itu Allah beri kesempatan bertaubat. Abang jangan putus asa. Mohonlah rahmat Allah. Sebesar apapun dosa Abang, Allah ampuni jika Abang bersungguh-sungguh bertaubat. Jangan sampai Abang bunuh diri, sebab terlalu besar dosa dan berat sekali siksa-Nya di akhirat kelak. Jangan sia-siakan lagi umur Abang. Sungguh, rahmat Allah jauh lebih besar dari dosa-dosa Abang,” demikian nasihat Arifin (www.hidayatullah.com 03/11/2014).

Pelihara Asa!

Alhasil, siapapun jangan pernah berlepas diri dari semua ajaran Allah. Andai di sebuah ketika kita pernah berbuat kesalahan yang besar, janganlah lalu merasa ‘gelap’. Sungguh, selaksa asa (harapan) masih terus terbuka jika kita terpanggil untuk segera berserah diri hanya kepada-Nya. “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az-Zumar [39]: 53). Sungguh, asa itu harus selalu ada di dada kita. []

BACA JUGA  Tanggapan Ustadz Hamid atas Tulisan ‘Menghadang Barat, Memperkokoh Keislaman’

No Response

Leave a reply "Pesohor, ‘Jalan Gelap’, dan Selaksa Asa"