Perjalanan Menuju Gaza – A Great Mission

No comment 439 views

.

Warga Gaza, Palestina memang terkenal dengan ketangguhan dan ketekunannya beribadah. Banyak dari warga adalah penghapal Qur’an.  Meski menderita karena kelaparan dan kehilangan tempat tinggal, mereka memilih untuk tidak mengungsi keluar Gaza demi mempertahankan wilayah mereka dari okupasi Israel, yang memang bertujuan melemahkan kekuatan Hamas. Jika mereka mengungsi, maka itulah yang diharapkan dari embargo Israel terhadap wilayah yang menjadi basis Hamas ini.

Maka, demi membantu warga Gaza, kafilah Freedom Flotilla (Armada Kebebasan)  yang terdiri dari 9 kapal yang digerakkan oleh 6 organisasi non-pemerintah dari Turki, Inggris, Swedia, Yunani, Aljazair dan Malaysia; siap berangkat menuju Gaza.
Di bawah kordinasi IHH (Insani Yardim Fakvi, organisasi kemanusiaan terbesar di Turki), kafilah Freedom Flotilla siap diberangkatkan ke Gaza pada 27 Mei 2010. Delegasi Indonesia terdiri dari LSM; KISPA, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, serta 5 orang wartawan dari Aljazeera Indonesia, TV-One, Hidayatullah.com dan Majalah Alia. Dua belas orang anggota delegasi Indonesia dalam kafilah kapal kemanusiaan Freedom Flotilla dijadwalkan menaiki kapal Mavi Marmara Kamis sore (27/5) jam 5 (jam 9 malam WIB) dari pelabuhan Antalya, di Laut Tengah, Turki.
Keduabelas orang ini bergabung dengan sekitar 750 orang aktivis kemanusiaan, lebih 50 negara.

 

Berikut nama rombongan asal Indonesia;

 

Dari Mer-C:

1. Nur Fitri Moeslim Taher (Ketua Tim)
2. dr Arief Rachman
3.
Abdillah Onim
4. Nur Ikhwan Abadi
5. Muhammad Yasin (Jurnalis TV One)

 

Dari Kispa:

 

1. H Ferry Nur (Ketua Kispa)
2. Muhendri Muchtar (Wakil Ketua Kispa)
3. Okvianto Baharudin
4. Hardjito Warno

 

Dari Sahabat Al Aqsha & Hidayatullah:

 

1. Dzikrullah Pramudya
2. Surya Fahrizal
3. Santi Soekanto

 

 

Tujuan perjalanan ini adalah menembus pengepungan angkatan laut Israel demi mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, kawasan Palestina yang sudah hampir 4 tahun terakhir ini diembargo baik secara militer, politik, dan ekonomi oleh Israel, Amerika Serikat, Mesir dan lain-lain. Embargo itu karena rakyat Gaza memilih untuk tidak tunduk pada kebijakan penjajah Israel dan menginginkan kemerdekaan sepenuhnya bagi seluruh rakyat dan tanah Palestina yang sejak 63 tahun lalu dijajah Israel.

Kafilah Freedom Flotilla memutuskan tetap berangkat sesudah 2 hari tertunda karena menunggu kedatangan kapal dari Inggris yang terlambat. Rencananya 4 kapal dari Inggris, 1 kapal dari Yunani, 1 kapal dari Swedia, dan 3 kapal dari Turki tengah malam ini akan bergabung di perairan Cyprus untuk selanjutnya masuk ke perairan Gaza.
Fahmi Bulent Yildirim, Presiden IHH, menyatakan bahwa kafilah Freedom Flotilla akan berlayar dari perairan internasional langsung ke perairan Gaza yang jauhnya lebih 80 mil dari perairan yang dikuasai Israel. “Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi Israel untuk menghalangi masuknya kapal-kapal ini ke Gaza,” tegas Bulent.

Apa yang dibawa kafilah ini ke Gaza? Nalan Dal dan Umit Sonmiz dari IHH (Insani Yardim Vakfi) memberikan daftar barang bawaan ke Gaza di bawah ini dalam jumpa pers Selasa sore, 25 Mei 2010, di stadion Kepez Arena yang menjadi tempat persinggahan para peserta kafilah sejak Senin.
Kapal barang pertama, yang bernama Gaza, akan dimuati semen sebanyak 2104 ton dan batang-batang besi beton (berdiameter 8, 12, 14 dan 16 mm) seberat 600 ton. Selain itu kapal ini juga akan membawa lantai keramik seberat 50 ton.
Kapal kargo kedua, Defne Y, membawa lebih banyak muatan, termasuk di antaranya:

·         Besi seberat 150 ton (yang akan dipakai untuk membangun pontoon)

BACA JUGA  Bachtiar Nasir: Kebutuhan Manusia akan al-Qur’an Lebih Besar Dari Kebutuhan Terhadap Oksigen.

·         Power units (lima unit berkekuatan 85 kws, dua unit berkekuatan 145 kws, enam unit berkekuatan 150 kws, tiga unit berkekuatan 165 kws, satu unit berkekuatan 100 kws dan satu unit berkekuatan 35 kws)

·         Power units (80 unit berkekuatan 1, 2 sampai 5 kws)

·         50 unit rumah siap-pakai (prefabricated) berukuran 58 m2 dan 40 unit berukuran 12,5 m2

·         Perangkat mainan anak-anak berupa seluncur dan jungkat-jangkit untuk 16 taman bermain

·         Perlengkapan medis berupa, di antaranya, alat-alat ultrasonografi, tempat tidur pasien, perlengkapan kedokteran gigi, alat echocardiography Dopler, kursi roda, skuter elektrik untuk penyandang cacat/kelumpuhan, alat mamografi, mikroskop, mesin cuci darah, monitor radiologi, kruk, meja operasi dan periksa ginekologis.

·         Satu kontainer berisi berbagai jenis obat-obatan

·         Bahan-bahan bangunan berupa ubin, kayu, peralatan plumbing, peralatan listrik, cat, perlengkapan kamar mandi, tangga dll.

·         Perlengkapan seperti mesin dan perkakas listrik dan oven

·         Perlengkapan kantor, sekolah dan alat tulis (seperti pena, pensil, penghapus, buku notes, lilin mainan, dan mainan anak)

·         Tekstil seperti handuk, seprai dan perlengkapan tempat tidur, karpet, kain, sepatu, peralatan dapur, selimut, sofa dan tempat tidur)

·         Bahan makanan seperti kacang-kacangan dan humus.

 

Israel berkali-kali mengancam bahwa negara Zionis itu akan mencegat Freedom Flotilla, bila perlu dengan kekuatan militer. Menyusul pengumuman militer Israel tentang telah disiapkannya sebuah pusat penahanan yang dibangun di pelabuhan Ashdod, selatan Israel, untuk mengurung para peserta armada kebebasan dari 50 negara lebih itu, Greta Berlin, salah seorang dari organisator kafilah bantuan kemanusiaan itu, menegaskan “ Kami berhak berlayar di perairan internasional itu untuk pergi ke Gaza. Satu-satunya kehadiran yang ilegal di sana hanyalah Israel”.

Jika Israel melakukan tindakan kekerasan pada kafilah, itu akan menjadi pelanggaran kesekian kalinya atas Resolusi DK PBB. Aturan yang dilanggarnya kali ini adalah Resolusi DK-PBB nomor 1860 dari pertemuannya yang ke 6.063 yang diterbitkan 8 Januari 2009 yang lalu, di ujung serangan Israel ke Gaza.
Di pasal 2 resolusi tersebut DK-PBB “…menyerukan kepada seluruh pihak internasional agar secepat mungkin mengirimkan dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk dalam bentuk bahan bakar, makanan, dan pelayanan kesehatan.”
Di pasal 3-nya DK PBB “…menyambut inisiatif-inisiatif yang bertujuan membuat dan membukan koridor-koridor kemanusiaan dan berbagai mekanisme lain bagi berlanjutnya bantuan kemanusiaan (ke Gaza).”
DK-PBB yang menekankan sekali lagi pentingnya peran UNRWA (badan bantuan kemanusiaan PBB khusus untuk Palestina) dalam mengatur bantuan kemanusiaan di Gaza.
Namun, sebagai dinyatakan Fahmi Bulent Yildirim, Presiden IHH dan kordinator kafilah Freedom Flotilla, sudah sejak terjadinya serangan Israel atas Gaza tahun lalu pihaknya mengirim surat kepada Israel untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Surat kami itu direspon oleh UNRWA dengan memberikan dukungan terhadap misi kami, namun sampai hari ini surat kami tidak dijawab oleh Israel,” kata Bulent.
Sejauh ini Israel telah mencatat rekor pembangkangan terhadap PBB dengan tidak menggubris resolusi-resolusi 242 (tahun 1967), 338 (tahun 1973), 1397 (tahun 2002), 1515 (tahun 2003), dan 1850 (tahun 2008).
Namun setiap kali melanggar, Israel tidak pernah dikenai sanksi, karena usaha negara-negara lain untuk menghukumnya selalu diveto oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, tiga negara yang sejak 1948 merupakan sponsor utama pendirian negara Israel di atas tanah Palestina.

Televisi Aljazeera mengkonfirmasikan aksi rezim Zionis Israel mengacaukan jaringan komunikasi pada konvoi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan, ‘Freedom Flottile”  yang mulai bergerak mendekati Gaza.
Seorang reporter televisi berbasis di Qatar, yang berada di salah satu konvoi Flotilla ini mengatakan, “Di saat sembilan kapal konvoi Flotilla sudah bergabung dan menurut rencana siang ini (30/5) akan memasuki Gaza, militer Zionis mengirimkan sinyal pengacau (parasit) pada jaringan komunikasi kapal-kapal tersebut, dan juga sinyal pemancar televisi yang ada di konvoi kapal Flotilla,” jelas reporter Aljazeera itu.

Kafilah Freedom Flotilla dalam keadaan siaga. Sesudah radar Mavi Marmara menangkap kehadiran kapal-kapal yang diduga adalah bagian dari armada Angkatan Laut Israel, belum ada perkembangan baru.

Sesuai dengan permintaan Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim, sejumlah peserta kafilah maju untuk meminta – lewat live broadcast – kepada pemerintah negara masing-masing untuk menekan Israel agar membuka jalan masuk Gaza bagi kafilah Freedom Flotilla. Termasuk yang sudah melakukan appeal itu adalah peserta dari Inggris, Kuwait dan Turki.

Sarah Colborne dari Palestine Solidarity Campaign di London meminta rakyat seluruh dunia untuk mengadakan protes ke jalan-jalan untuk memaksa Israel membuka jalan. Jika tidak terjadi gangguan dan kendala apapun diperkirakan konvoi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan akan tiba di perairan Gaza Senin (31/5) dini hari.

Namun, belum lagi kafilah Freedom Flotilla mencapai Gaza, Israel melakukan serangan dan penangkapan terhadap rombongan armada kemanusiaan di perairan internasional. Penyerangan yang dilakukan Israel ini dilakukan saat kapal Mavi Marmara sedang berada di perairan internasional. Berikut adalah sebuah ucapan yang terdengar dari live streaming kapal Mavi Marmari:

Sebagaimana diketahui, setelah konvoi Freedom Flotilla menunaikan shalat Subuh pada Senin (31/5), komunikasi satelit yang ada di kapal sempat terputus selama satu jam dan setelah kembali mengudara, demikian diberitakan dari live streaming IHH dari atas kapal Mavi Marmara.

Kantor berita BBC mengatakan, Israel melakukan serangkan dan penangkapan rombongan terhadap di perairan internasional, yang jaraknya lebih dari 150 km (90 mil) di lepas pantai Gaza.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan bahwa Indonesia menilai aksi tentara Israel yang menyerang kapal berisi relawan dan bantuan kemanusian telah melanggar hukum internasional dan pantas mendapat hukuman dari dunia internasional. “Sikap kita mengecam secara keras sepak terjang Israel ini dan kita siap bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk memastikan Israel bertanggung jawab mengenai hal ini,” katanya di kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/5).

Hamdan Basyar ketika diwawancarai TV One (31/5) mengatakan bahwa Israel sangat takut jika kafilah Freedom Flotilla berhasil menembus blokade Gaza, sebab hal itu berarti kemenangan bagi Hamas..(kar/berbagai sumber)

                                               

 

 

 

 

No Response

Leave a reply "Perjalanan Menuju Gaza – A Great Mission"