Pentingnya Bahasa Positif dalam Pendidikan Anak

Written by | Pendidikan Islam

12121212

Oleh: Ishom Mudin*

Salah satu bentuk perhatian orang tua kepada buah hati adalah memberikan perhargaan atas prestasi yang diraih atau atas hal positif yang mereka lakukan. Tujuanya untuk memberikan semangat kepada anak agar bisa meningkatkan prestasi tersebut. Penghargaan ini adalah bagian dari pemberian motivasi kepada anak dan dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Namun, ada kekhawatiran dari orang tua, anak-anak mau mengerjakan dengan baik jika ada iming-iming hadiah. Jika tidak ada mereka akan ogah-ogahan. Yang dikhawatirikn tumbuhnya sifat materialis.

 

Maka memperhatikan cara-cara memberikan ‘reward’ tersebut. Dalam hal ini, baginda Nabi Muhammad sudah memberikan uswah dalam aktifitasnya sehari-hari. Nah, bagaimana sebenarnya cara Nabi memberikan penghargaan kepada anak-anak itu. Berawal dari pertanyaan sederhana, Apa pentingnya penghargaan itu?, bagaimana efeknya pada anak?, Bentuknya bagaimana?, Bagaimana model ini kita kontekkan dengan kehidupan millennial.

 

Penghargaan hakikatnya adalah pemberian istimewa agar yang diberi menjadi senang. Dalam bahasa haidits disebut “idhal surur”. ‘tahadu tahabu’, kata Rasul. Memberikan hadiah menumbuhkan sifat indah untuk segala usia. Rasulullah pernah memberikan ‘reward’ istimewa kepada para keponakanya, putra para sahabat, sahabat-sahabat kecil. Penghargaan yang dibungkus dengan hadiah akan sengat membekas membekas dalam jiwa anak-anak.

 

Penghargaan yang diberikan  bisa dalam bentuk materi atau non materi. Dalam suatu kisah yang digubah dalam Ensiklopedi Muhammad karya Afzalur Rahman disebutkan bahwa Nabi memberikan hadiah kepada sahabat-sahabat kecilnya; Jabir Ibn Abdullah dan kawan-kawanya mainya yang ikut Shalat Zuhur berjamaah. Setelah shalat usai, Rasulullah memperlihatkan semangkuk manisan kepada mereka dan menyuapinya satu-persatu. Rasul memanjakan Jabir dengan bertanya bertanya,”Ingin tambah lagi?” , jawabnya “Ya”. Beliau terus menyuapi sahabat-sahabat  hingga manisan habis.

BACA JUGA  Merancang Strategi Pendidikan Islam Masa Depan

 

Pesan tersirat dalam kisah ini, orang tua harus benar-benar jeli memilih bentuk apresiasi yang  akan diberikan. Mereka bisa memilih apresiasi yang menarik perhatian, sesuai dengan jenjang usia, memberikan asas hiburan, manfaat, tidak berbahaya bagi fisik atau psikis mereka. Dalam hal ini, manisan yang dipilih Rasul bisa menjadi salah satu contohnya.

 

Dalam salah satu kesempatan yang lain, beliau meberikan penghargaan non materi. menyapa anak-anak dengan mengadakan perlombaan lari kecil. Beliau mengatur barisan start dan bersabda; “siapa yang duluan sampai kepadaku, nanti akan dapat hadiah”. Dengan riang gembira, anak-anak itu berlarian menuju Baginda. Dengan polosnya mereka ‘ngamplok’  (gendong di punggung) memeluk, merangkul Beliau. Dengan kasih sayang, Beliau pun mencium mereka satu-persatu.

 

Maka sebenarnya penghargaan atau  apresisasi tidak melulu hal-hal yang bersifat materi. Sikap, tutur kata, pujian, dukungan juga bisa bisa memberikan dampak yang luar biasa. Dalam hal ini, Rasulullah merangkul anak-anak dan mencium mereka sebagai penghargaanya. Bahkan bisa dikatakan, akhlaq Rasulullah itulah hadiah terbesar bagi mereka. Seseorang yang disanjung, dicintai.

 

Yang menarik dalam dua kisah tersebut digambarkan bahwa, penghargaan itu diberikan Rasulullah setelah anak-anak melakukan sesuatu. Namun, perbedaanya adalah dalam kisah peratma Rasulullah tidak menjadikan hadiah sebagai iming-iming untuk melakukan sesuatu. Jabir kecil dan kawan-kawanya murni ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah tanpa ada disuruh. Tentu hal ini sangat istimewa. Namun dalam kisah yang kedua apresiaasi diberikan setelah melakukan hal istimewa. Maka, orang tau harus bisa memilih  mana yang sesuai dengan kondisi anak-anak.

 

Dalam kisah kedua, aktifitas yang patut diberi apresisi bersifat memberikan tantangan, namun tanpa ada beban dan tekanan. Anak-anak berlari dengan senang tanpa ada rasa takut jika prestasi tidak diraih maka mereka akan dimarahi oleh Rasulullah. Beliau tidak mengatakan misalnya ‘jika kamu tidak berhasil, maka kalian saya sangsi’. Maka, penghargaan ini sebenarya bukan murni karena keberhasilan, tetapi karena proses yang mereka lakukan.

BACA JUGA  Faktor Sukses dan Gagal dalam Menuntut Ilmu

 

Seandainya anak-anak tidak mencapai ekspektasi yang diinginkan, sangat tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata kotor. Karena kata-kata kotor itu sebenarnya tidak akan memberikan implikasi positif justru sebaliknya. Dalam hal ini, rasul pun tidak pernah melakukanya.  Selama Anas melayani Rasulullah selama. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan kata ‘ah’. Atau  mengintrogasi, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’.

 

Maka, siapkanlah kata-kata pujian yang indah, bagus, sederhana, sesuai dengan perbuatan yang dilakukan, atau memang harapan. Misalnya, “alimah, shalihah, hafidzah”. Selain memberikan motifasi, Kata ini mengandung harapan dan pujian. Namun pujian harus proporsional; tidak ‘ghuluw’, ‘lebay’, atau terlalu sering. Ditakutkan buah hati menjadi manja, tidak mempunyai daya juang, kurang kreatif, dan tidak menyadari kekurangannya. Inilah makna sabda Rasul; ‘ Kamu telah membinasakan atau Memotong punggung orang itu’ (HR. Bukhari)

 

Selain itu, memanggil dengan panggilan istimewa secara tidak sadar memberikan efek yang luar biasa. Tak jarang Rasulullah memanggil anak sesuai dengan usianya; seperti, “ wahai anak muda”. Sering pula beliau memanggil dengan kata “Anakku”. Atau sesuai dengan posisi keluarga seperti ‘keponakanku’ seperti dalam hadits “Mengapa aku lihat tubuh keponakanku kurus-kurus seperti anak-anak yang sakit? (HR. Muslim).  Panggilan-panggilan menandakan adanya pengakuan akan eksistensi seorang anak-anak.

 

Sisi emosional anak lebih dahulu berkembang dibanding sisi intelektualnya. Bisa dibuktikan, anak kecil tidak ingin membuka auratnya bukan karena tahu dalil keharamannya, tetapi faktor emosi malu dari dalam dirinya. Kaitanya dengan ini  dalam dua kisah tersebut, Rasulullah mencoba menyentuh sisi emosial dengan sapaan, senyuman, pelukan dan penghargaan. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan oleh begainda Nabi itu memotivasi mereka untuk menggapai prestasi, menamkan nilai-nilai optimis, membuang perasaan pesimis, dan menumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi.

BACA JUGA  Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Tinjauan Atas Pemikiran Syed M. Naquib al-Attas dan Ismail R. al-Faruqi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Last modified: 15/02/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *