Penodaan Agama dan Ilusi Ukhuwah

No comment 484 views

Maka, ia merancang strategi-strategi politis untuk diterapkan kepada umat Sunni seluruh dunia. Ketika berdiri di dalam orang Sunni, Khomeini memberikan kesan netral. Ia menciptakan citra diri sebagai seorang pahlawan yang melawan hegemoni Barat. Wacana taqrib (pendekatan) dengan Ahlussunnah digaungkan. Namun persoalannya, ia menggunakan dengan cara yang salah. Tangannya berupaya menggandeng Sunni, tapi mulut tidak berhenti menista pembesar-pembesar Sahabat. Sebuah upaya yang ilusif.

 

Ayatullah Khomeini -dan kaum Syiah Imamiyah- menciptakan wacana politik belah bambu antara Sahabat dan Ahlul Bait. Di satu sisi Ahlul Bait dijunjung tinggi sampai pada taraf tidak wajar, sementara para Sahabat direndahkan, serendah-rendahnya. Pada sisi lain juga menciptakan wacana bahwa terjadi sengketa politik antara Sahabat dan Ahlul Bait.

Khomeini menjatuhkan kredibilitas Abu Bakar RA, Umar bin Khattab RA dan Ustman bin Affan RA dengan beragam tuduhan palsu. Dalam Kasyfu al-Asrar, Khomeini menuduh mereka melanggar perintah Allah, “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar (Syaikhoni) melanggar al-Qur’an, bermain-main hukum Tuhan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, keduanya dzalim terhadap Fatimah binti Rasulillah SAW” (hal. 126).

Khalifah kedua, Umar bin Khattab RA, dituduh meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW dan dan menentang firman al-Qur’an. Usman bin Affan RA, Khalifah ketiga, bersama sejumlah besar Sahabat dianggap pernah melarikan diri dari perang Uhud. Ketakutan diserang kaum kafir Qurasy. Para Sahabat dalam beberapa persoalan dituduh tidak taat bahkan menentang perintah Rasulullah SAW (Kasyfu al-Asrar, hal. 135).

Kedua Khalifah, Abu Bakar RA dan Umar RA, dipandang sebagai orang munafik. Ia mengatakan, “Keislaman syaihoni (Abu Bakar dan Umar), hanyalah bersifat lahiriah saja, bukan timbul dari hatinya. Mereka hanya mengharapkan kekuasaan dan pemerintahan belaka”.

Khomeini menyimpulkan bahwa para Sahabat, termasuk pembesar-pembesarnya adalah orang bodoh, dungu dan penentang syariat. Ia mengatakan, “Dan sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang bodoh, dungu, berdosa, tidak pantas menduduki posisi pemimpin” (Kasyfu al-Asrar, hal. 127).

Ustman RA dituduh tidak segan-segan merevisi al-Qur’an apabila terdapat ayat-ayat yang bertentangan dengan tujuan politis yang hendak dicapai. Ustman RA adalah penjahat, seperti jahatnya Muawiyah dan Yazid yang membunuh Husein bin Ali.

Sementara itu, sengketa antara Ali bin Abi Thalib RA beserta keturunannya dengan para Sahabat sesungguhnya tidak pernah terjadi. Banyak keturunannya yang bernama Abu Bakar dan Umar. Anak Husein bin Ali juga ada yang bernama Abu Bakar dan Umar. Husein bin Ali pernah mengatakan bahwa mencintai Abu Bakar RA dan Umar RA bukan semata-mata sunnah, tetapi wajib hukumnya.

Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata: “Saya sudah lihat sendiri Sahabat-Sahabat Rasulullah SAW. Tidak seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari banyak berdiri ruku’ dan sujud (menyembah Allah swt), silih berganti, tampak kegesitan di dahi dan wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di atas bara bila mereka ingat akan Hari Pembalasan (akhirat) di antara kedua mata mereka tampak bekas sujud mereka yang lama, bila mereka ingat akan Allah, berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong bagaikan condongnya pohon dihembus angin lembut karena takut siksa Allah, serta mengharapkan pahala atau ganjaran dari Allah”.

Keturunan Ali RA, Ja’far al-Shadiq, memulyakan para Sahabat. Ia pernah mengatakan: “Abu Bakar adalah kakekku. Jika aku tidak mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin dan tidak berlepas dari musuh keduanya, maka kelak di hari kiamat aku tidak mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW”.

Ja’far al-Shadiq memiliki silsilah yang bersambung kepada Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar al-Shiddiq RA. Dari garis ayahnya, beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW, sedangkan dari garis ibunya beliau keturunan Abu Bakar al-Shiddiq RA. Ibu beliau adalah Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq RA.

Jadi, isu sengketa tidak ada sama sekali dalam sejarah Sahabat dan Ahlul Bait beserta keturunannya. Dengan semikian, seruan ukhuwah dari Khomeini adalah ilusi, tidak akan pernah terjadi. Sebab, buku-buku Khomeini yang memuat penodaan para Sahabat masih menjadi rujukan Syiah sekarang. Kitab mereka dibaca Syiah Indonesia dan menjadi buku bacaan wajib bagi kader Syiah.

Syiah selalu membuat persoalan umat. Di Suriah, rakyat yang mayoritas Sunni dibantai oleh rezin Bashar al-Asad yang berpaham Syiah Nusairiyah. Di Yaman, beberapa waktu lalu, Syiah yang mayoritas menyerang sebuah pesantren dengan senjata api dan mengakibatkan sejumlah korban meninggal dunia.

Pada Perang Salib, seorang pejabat Dinasti Fatimiyah (berpaham Syiah Ismailiyah) pernah bersekongkol dengan raja Salib untuk menghadang pasukan Nuruddin Zanki. Sehingga mengakibatkan kegagalan Zanki membebaskan Aleppo serta mengakibatkan ribuan pasukan muslim meninggal.

Di Indonesia, sudah beberapa kali, ditemukan penodaan Sahabat Nabi yang berujung bentrok, seperti di Sampang, Jember, Pasuran dan Bondowoso.

MUI Jawa Timur pernah mengingatkan bahwa jika Syiah bangkit, NKRI terancam. Peringatan ini masuk akal. Sebab, doktrin Syiah mengharuskan ketaatan kepada imamah secara mutlak. Sementara, penegakan imamah adalah wajib dalam pemerintahan. Kaum Syiah Indonesia lebih taat kepada Iran daripada pemerintahan NKRI. Tahun 1979, Khomeini menyerukan, agar seluruh kader Syiah di dunia Islam mengadakan revolusi, seperti revolusi di Iran.

Karena itu, kampanye ukhuwah Sunnah-Syiah selama ini adalah ilusi, yang tujuan besarnya tidak lain adalah Syiahisasi. Seharusnya, penodaan terhadap Sahabat ini dimeja-hijaukan. Indonesia telah memiliki hukum bagi penoda agama yaitu PNPS tahun 1965. Sementara, bukti-bukti tidak dapat ditutup-tutupi.

Jika menghina presiden saja hukum bisa sigap menjerat, maka seharusnya penoda kesucian agama juga dapat diseret ke pengadilan. Hal itu, demi untuk menjaga ketentraman NKRI. []

*Penulis adalah alumnus Pascasarjana ISID dan Peneliti InPAS Surabaya

 

BACA JUGA  Prita, Penghinaan Nabi, dan Buku
No Response

Leave a reply "Penodaan Agama dan Ilusi Ukhuwah"