Pendidikan dan Kepemimpinan

No comment 770 views

Oleh: Muhammad Ardiansyah

 

pendidikan islamindexInpasonline.com-Isu kepemimpinan saat ini menjadi perhatian besar umat Islam. Umat rindu dengan kehadiran pemimpin yang takut kepada Tuhannya dan sayang kepada rakyatnya. Pemimpin yang beradab dan menjadi teladan bagi semua orang. Pemimpin yang adil dan berani membela kebenaran. Jika saat ini umat menyaksikan munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak layak di berbagai bidang itu karena hilangnya adab (the loss of adab) yang bermula dari rusaknya ilmu (confuse of knowledge). (SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur:ISTAC, 2001, hlm. 138-139)

 

Masalah kepemimpinan memang tidak bisa dipisahkan dengan masalah pendidikan. Pemimpin yang hebat tidak turun dari langit, tapi dilahirkan dari pendidikan yang berkualitas. Baik atau tidaknya pemimpin yang muncul sangat bergantung dengan pendidikan yang dijalani. Sejarah peradaban Islam mencatat lahirnya sejumlah pemimpin hebat pasca wafatnya Rasulullah SAW. Salah satunya adalah sang penakluk Konstantinopel. Dialah Sultan Muhammad II yang kemudian diberi gelar al-Fatih. Berita gembira kelahiran sang penakluk ini telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad).

 

Tentang kelebihan Konstantinopel, Napoleon mengatakan “Kalau sekiranya dunia ini diperintah oleh satu negara saja, niscaya Konstantinopel adalah negeri yang baik untuk menjadi ibukotanya” (Abul Hasan Ali al-Nadwi, Apa Derita Dunia Bila Islam Mundur, Jakarta:Media Dakwah, 1983, hlm. 146). Dengan demikian, penaklukan Konstantinopel yang dipimpin Muhammad al-Fatih merupakan prestasi luar biasa yang tidak boleh dilupakan. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam mampu memimpin dunia jika memiliki semangat juang yang tinggi.

 

Oleh karena itu tulisan ini coba mengupas sebagian episode perjalanan hidup sang penakluk Konstantinopel, Muhammad al-Fatih. Banyak pelajaran berharga bisa diambil dan direnungkan, bagaimana pendidikan yang dijalaninya membuatnya mampu menjadi pemimpin hebat di usia yang sangat muda, yaitu sekitar 22 tahun.

 

Muhammad II beruntung memiliki ayah yang sangat peduli masalah pendidikan. Al-Shalabi menceritakan bahwa sang ayah, Sultan Murad II, selalu mencarikan guru-guru terbaik untuk mendidik anaknya itu. Meski di awal-awal masa pendidikannya Muhammad tidak menaati perintah guru-gurunya. Sultan Murad II tidak putus asa. Dia terus mencari guru yang disegani, berwibawa dan bersikap tegas untuk mendidik anaknya menjadi manusia yang beradab. Sang ayah akhirnya mendapat rekomendasi dari orang-orang terdekatnya agar meminta Maula Ahmad ibn Ismail al-Kurani untuk mendidik putranya. Seorang Alim Rabbani yang memiliki kesempurnaan ilmu dan adab. Al-Kurani kemudian diangkat sebagai pendidik anaknya, dan dibekali sebuah tongkat untuk memukul Muhammad jika tidak taat kepadanya.

 

Setelah mendapat amanah dari Sultan Murad II, Al-Kurani langsung menemui Muhammad II sambil berkata “Ayahmu mengirimku kepadamu untuk mendidikmu. Dia menyuruhku untuk memukulmu jika kamu tidak mau melaksanakn perintahku”. Mendengar itu, Muhammad tertawa. Tanpa basa basi Maula al-Kurani langsung memukulnya dengan sangat keras di majlis itu. Pukulan itu ternyata membuat Muhammad takut dan segan kepadanya. Akhirnya, Maula al-Kurani berhasil membuatnya serius belajar dengan penuh adab. Dia pun berhasil mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu singkat di bawah bimbingan gurunya itu. (Ali Muhammad al-Shalabi, Fâtih Qasthanthîniyyah Sulthân Muhammad al-Fâtih, Kairo:Dar Ibn al-Jauzi, 2007), hlm. 55)

BACA JUGA  Mudah Marah bisa Menuai Susah

 

Dari penggalan kisah hidup Muhammad al-Fatih ini, kita bisa melihat sebuah proses pendidikan yang luar biasa. Ada sinergi dan kesungguhan dari tiga pihak, orangtua, guru dan juga anak didik (murid). Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Zarnuji bahwa proses pendidikan memerlukan kesungguhan tiga pihak; pelajar, guru dan juga orangtua jika masih ada. (Ibrahim ibn Isma’il al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq al-Ta’allum, Jakarta:Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2007, hlm. 43)

 

Sultan Murad II mampu memainkan peran yang baik sebagai seorang ayah. Di tengah kesibukannya memimpin umat yang sangat besar, dia tidak melupakan masalah pendidikan anaknya. Dia terus mencarikan guru terbaik, bahkan mengizinkan guru putranya itu untuk mendidik dengan lebih keras jika diperlukan. Kebijakan yang sama juga pernah dilakukan oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Kepada guru pribadi anaknya, Harun al-Rasyid berkata

 

“Jangan bersikap terlalu keras sampai membahayakan pikiran dan tubuhnya, dan jangan terlalu lemah hingga ia bermalas-malasan dan akhirnya tenggelam dalam kemalasan. Bimbinglah sesuai dengan kemampuanmu dengan cara-cara yang baik dan lembut, tetapi jangan ragu untuk bersikap keras dan tegas ketia ia tidak memperhatikan atau mengabaikanmu. (Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta, 2013, hlm. 513)

 

Hal ini penting untuk diperhatikan oleh para orangtua saat ini. Jangan sampai kewajiban mendidik anak diabaikan dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Padahal Allah SWT menitipkan amanah pendidikan anak kepada orangtuanya sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Tahrim:6 jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Ahli tafsir dari kalangan sahabat seperti Ali ibn Abi Thalib menafsirkan ayat itu dengan “addibuhum wa ‘allimuhum”  yang artinya didiklah mereka dengan adab dan ajarkanlah mereka ilmu. (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Singapura:Sulaiman Mar’i, tanpa tahun, Juz III, hlm. 391. Lihat juga Abu Nashr al-Sarraj, al-Luma’ fî Târikh al-Tashawwuf al-Islâmîy, Beirut:Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007, hlm. 136)

 

Kewajiban orangtua memperhatikan adab dan ilmu ini tidak cukup menyerahkan anak-anak mereka ke sekolah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya. Yang paling utama adalah bagaimana orangtua memperhatikan pendidikan anaknya ketika di rumah. Sungguh sebuah kesalahan besar jika orang tua mengartikan pendidikan dengan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada guru di sekolah atau pesantren. Sementara ketika di rumah mereka tidak pernah peduli pendidikan anak-anaknya sama sekali. Ibarat mendirikan sebuah bangunan, kondisi seperti ini persis seperti tangan kanan membangun sementara tangan kiri merobohkan. Kapan bangunan akan sempurna berdiri dengan kokoh?

 

Keterbatasan waktu yang dimiliki orangtua dalam mendidik anak-anaknya tidak boleh membuatnya lupa tangggung jawabnya sama sekali. Orangtua harus tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya dan mendukung guru-guru anaknya dalam proses pendidikannya meskipun memerlukan tindakan disiplin yang tegas pada saat-saat tertentu. Perhatian orangtua lebih bernilai dari pemberian lainnya dalam bentuk apapun.

BACA JUGA  Belajar Berqurban kepada Para ‘Tukang’

 

Ibrah berikutnya dari penggalan kisah di atas adalah sosok guru yang amanah. Al-Kurani sadar bahwa tangung jawab pendidikan ini bukan hanya kepada Sultan Murad II, tapi juga kepada Allah SWT. Oleh karena itu, dia mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk mendidik putra sultan itu menjadi manusia yang baik. Kebijakan dan izin dari Sultan untuk menggunakan tongkat sebagai alat kedisiplinan juga dimanfaatkan dengan tepat. Karena dia memahami dengan baik bahwa pukulan itu bertujuan untuk mendidik (ta’dîb), bukan untuk menyiksa (ta’dzîb).

 

Nabi Muhammad SAW memberi toleransi untuk memukul anak yang tidak mau shalat di usia sepuluh tahun. (HR Abu Daud). Banyak ulama juga mengizinkan guru untuk memukul anak didiknya jika diperlukan. Muhammad Ibn Sahnun dan Abul Hasan Ali ibn Muhammad Khalaf Al-Qabisi membolehkan pendidik untuk memukul anak maksimal sepuluh kali pukulan, jika mereka main-main dan melanggar disiplin. (Selengkapnya lihat Bradley J Cook, Classical Foundation of Islamic Educational Thought, Utah:Brigham Young University Press, 2010). Sedangkan Ibn Sina berpendapat pentingnya tongkat dan menjadi bagian dari seni mengajar yang mesti dimiliki oleh seorang pendidik. Bahkan menurutnya, jika pendidik membutuhkan penggunaan tangan maka ia diperbolehkan memukul anak dengan agak keras sebagai shock terapi yang membuat si anak jera dan tidak mengulangi kesalahannya. (Muhammad Utsman Najati, al-Dirâsat al-Nafsâniyyah ‘Inda al-‘Ulamâ’ al-Muslimîn, Kairo: Dar al-Syuruq, 1993, hlm. 145).

 

Penegakkan disiplin dengan pemukulan tentu bukan keharusan dalam pendidikan, tapi jika diperlukan hal itu dibolehkan dengan batasan-batasan yang wajar dan dengan tujuan yang benar. Orangtua harus memahami masalah ini, agar tidak bertindak main hakim sendiri ketika mendengar anaknya dipukul oleh gurunya. Hal ini penting agar si anak tumbuh menjadi manusia yang kuat, tidak manja dan mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depannya.

 

Selain al-Kurani, Muhammad II juga memiliki guru hebat yang  mendidiknya. Dialah Syekh Aaq Syamsuddin. Seorang ulama besar yang dianggap sebagai penakluk spiritual Konstantinopel. Kehadirannya pada masa-masa penaklukan membuat Muhammad II benar-benar yakin akan merebut Konstantinopel. Dia selalu meyakinkan muridnya itu bahwa yang dimaksud pemimpin terbaik di dalam Hadits penaklukan Konstantinopel itu adalah dirinya. Selain itu, doa-doanya juga ikut menyertai perjuangan sang murid yang hebat itu. Karenanya, al-Fatih sangat membanggakan gurunya itu.

 

“Sesungguhnya kalian melihatku sangat gembira. Kegembiraanku bukan karena penaklukan benteng ini saja. Akan tetapi, kegembiraanku muncul karena adanya seorang Syekh yang mulia pada zamanku. Dia adalah guruku, Syekh Aaq Syamsuddin” (Ali Muhammad al-Shalabi, Fâtih Qasthanthîniyyah Sulthân Muhammad al-Fâtih, hlm. 191)

 

Pasca penaklukkan Syekh Aaq Syamsuddin tetap mendidiknya agar tidak lupa diri atas keberhasilannya itu. Setelah penaklukkan, al-Fatih menemui gurunya itu untuk menyampaikan suatu hal penting. Namun ketika al-Fatih keluar dari ruang gurunya, dia berkata kepada orang yang mendampinginya. “Syekh tidak mau berdiri menyambutku”. Lalu orang itu berkata “Barangkali beliau melihat ada kesombongan dalam diri anda, karena penaklukan Konstantinopel itu tidak bisa dilakukan oleh para sultan besar lainnya. Dengan demikian, beliau ingin melawan sebagian kesombongan itu dari diri anda.” (Ibid, hlm. 192).

BACA JUGA  Rokok, Tuhan, dan Manusia Beradab

 

Ibrah dari sosok Syekh Aaq Syamsuddin adalah, selain sebagai pendidik (educator) guru juga harus menjalankan tugasnya sebagai pemberi motivasi (motivator) yang mampu meyakinkan anak didiknya akan potensi yang ada di dalam diri mereka. Selain itu guru yang baik juga tidak boleh lupa mendoakan muridnya dalam setiap kesempatan. Dan yang paling penting, guru harus selalu menunjukkan wibawanya di hadapan muridnya, meskipun suatu hari muridnya itu sudah menjadi orang besar dalam pandangan orang lain. Hal ini agar si murid tetap menjaga adab dan tidak terjerumus dalam sikap takabbur yang bisa membinasakannya.

 

Ibrah terakhir dari kisah pendidikan al-Fatih adalah sosok murid yang memiliki keinginan kuat untuk berubah menjadi lebih baik. Meski di awal studinya dia terkesan main-main, namun ada masanya seorang anak akan memahami adab dengan baik dan mengamalkannya secara bertahap dengan ikhlas. Dalam pendidikan, ikhlas memang bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, jika di awal pendidikan murid belum bisa ikhlas dalam belajar, maka keberkahan ilmu akan mengantarkannya pada fase keikhlasan seiring perjalanan waktu.

 

Para ulama menyebutkan ungkapan yang sesuai dengan masalah ini “ta’allamnâ al-‘ilma li ghayriLlah, fa aba al-‘ilmu an yakûna illâ liLlâh” artinya, kami pernah belajar bukan karena Allah, ternyata ilmu tidak mau hadir kecuali hanya karena Allah. Menurut Imam Nawawi, maksud dari ungkapan ini adalah pada akhirnya seorang akan masuk pada fase menuntut ilmu hanya karena Allah. (Muhyiddin Yahya ibn Syaraf al-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzzab, Kairo:Dar al-Hadits, 2010, jilid I, hlm. 148).

 

Murid juga harus sabar dalam didikan dan bimbingan guru. Itulah yang dilakukan al-Fatih selama digembleng disiplin oleh kedua gurunya sejak kecil sampai dewasa. Meski sebagai putra penguasa, bahkan ketika sudah menjadi pemimpin yang hebat, al-Fatih tetap memuliakan gurunya yang telah berjasa dalam mendidiknya. Al-Fatih sepertinya memahami bahwa kepemimpinan ulama di atas kepemimpinan lainnya. Karena ulama adalah pelanjut tugas para Nabi (al-‘Ulamâ’ waratsat al-Anbiyâ’). Oleh karena itu sudah sepantasnya kedudukan mereka dimuliakan oleh siapa saja.

 

Penggalan episode kehidupan pendidikan Muhammad al-Fatih penting untuk diambil ibrahnya. Keteladanan Sultan Murad II, Syekh al-Kurani, Syekh Aaq Syamsuddin dan juga Muhammad al-Fatih merupakan salah satu model terbaik dalam dunia pendidikan. Umat Islam saat ini bisa melakukan hal yang sama. Orangtua, guru-guru, dan juga para pelajar harus melakukan amal jama’i (kolektif) dan memiliki semangat juang yang tinggi untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang mampu melahirkan pemimpin Muslim yang adil dan beradab. Pemimpin yang mampu membawa Indonesia menjadi the next civilization yang akan memimpin dunia.

 

Tulisan dimuat di Islamia Republika pada Kamis, 19 Januari 2017

No Response

Leave a reply "Pendidikan dan Kepemimpinan"