Sejarah Islam di Mata Orientalis – Studi Kritis terhadap Buku Islam and The West : A Historical Cultural Survey karya Philip K. Hitti

28/11/2011 | By | Reply More

Walaupun terjadi keruntuhan dalam peradaban Islam dan kemunduran telah dialami oleh begitu banyak umat Muslim sebagai akibat penerapan ideologi asing, pada kenyataannya Islam masih tetap merupakan kekuatan aktif dan vital di dunia.[1] Lewat studi orientalisme, Barat mencoba untuk memahami Islam agar dapat dihancurkan dari dalam dan menggagalkan setiap usaha untuk membangkitkan kembali peradaban Islam.

Kata ‘Orientalisme’ adalah kata yang dinisbatkan kepada studi/penelitian yang dilakukan oleh selain orang Timur terhadap berbagai disiplin ilmu ketimuran, baik bahasa, agama, sejarah, dan permasalahan-permasalahan sosio-kultral bangsa Timur. Atau ada juga yang mengatakan bahwa ‘Orientalisme’ adalah suatu disiplin ilmu yang membahas tentang ketimuran.[2]

Dr. Hamid Fahmy Zarkasy menyoroti, bahwa Barat mengkaji Timur dan Islamkarena motivasi keagamaan dan politik[3]. Barat yang di satu sisi mewakili Kristen, memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-dontrinnya. Bahkan ada yang menganggap bahwa perseteruan itu ada sejak sebelum Islam datang. Sedangkan motivasi politik, disebabkan karena Barat menganggap bahwa Islam adalah peradaban yang tersebar dan menguasai peradaban dunia secara cepat. Barat sebagai peradaban yang baru bangkit dari kegelapan melihat Islam sebagai ancaman langsung yang besar bagi kekuasaan politik dan agama mereka.

Sedangkan Mohammad al-Bahy meringkas motivasi orientalis itu dalam dua hal, yaitu untuk memperkokoh imperialisme Barat di negara-negara Islam agar umat Islam rela menerima kekuasaan Barat dan untuk memperkuat jiwa Perang Salib dengan mengatasnamakan kajian ilmiah dan kemanusiaan.[4]

Senada dengan Mohammad al-Bahy, Maryam Jamilah, orang Yahudi yang kemudian memeluk Islam dan gigih memerangi orientalis, menulis dalam bukunya yang berjudul Islam and Orientalism[5], bahwa sebelum pertengahan abad ke-19 sebagian besar buku yang ditulis oleh orang-orang Barat menyerang Islam berdasarkan alasan-alasan teologis murni dari dogma Kristen. Akan tetapi ketika kegiatan misionaris Kristen berubah menjadi identik dengan tujuan-tujuan imperialisme Inggris dan Prancis, secara berangsur-angsur penekanannya pun bergeser dari persoalan keagamaan ke persoalan keduniaan (sekular). Dalam jangka waktu lama penekanan yang pertama dan kedua itu tercampur-aduk dan sulit dibedakan.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II ajaran Kristen hampir seluruhnya dicampakkan dalam rangka mendukung materialisme murni. Ketika itu Islam tidak lagi dikutuk lantaran penolakannya terhadap doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus Kristus ataupun doktrin dosa waris. Masa-masa ini adalah awal dimulainya Islam menjadi sasaran pertama dan terakhir dari segala macam propaganda anti-agama karena ia secara tegas menolak relativitas moral dan dengan penuh keyakinan mengakui adanya tujuan transendental.[6] Jadi, Islam mampu mematahkan semua doktrin materialisme kontemporer, terutama yang didasarkan atas ajaran Karl Marx[7]. Menurut paham ini, agama benar-benar merupakan lembaga kemanusiaan yang diciptakan oleh manusia sebagai pelayan masyarakat pada suatu fase dalam sejarahnya. Karena hukum-hukum agama yang pada hakikatnya tidak lebih daripada sekadar hukum-hukum perdata yang diperlukan masyarakat pada fase tertentu dalam evolusinya itu, maka tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat diubah, abadi, dan tetap. Dengan kata lain, tidak ada sesuatu pun yang bisa disebut kebenaran mutlak, sebab agama pun tidak lebih daripada norma-norma tingkah laku sosial yang berlaku.[8] Konsekuensinya, setiap pendukung materialisme tidak dapat menerima ajaran agama apa pun alias Atheis.

Salah satu orientalis terkemuka yang buku-bukunya banyak dikaji orang adalah Dr. Philip K. Hitti. Karya-karyanya yang  terkenal dan menjadi buku teks standar di berbagai lembaga pendidikan tinggi dan universitas di seluruh dunia adalah The History of the Arabs dan Islam and the West : An Historical, Cultural Survey.

Dr. Philip K. Hitti, Guru Besar Emeritus Sastra Semit di William and Annie S. Paton Foundation, Universitas Princeton, selama beberapa dasawarsa diakui oleh dunia internasional sebagai ahli Islam (orientalis) yang paling berbobot di Barat.[9] Berbobot di sini diartikan oleh Dr. Hasan Abdur Rauf M. el-Badawiy dan Dr. Abdurrahman Ghirah dalam bukunya, Orientalisme dan Misionarisme, berbanding lurus dengan tingkat kebencian yang tinggi terhadap Islam yang dituangkan dalam setiap karyanya.[10] Mantan Direktur Program Kajian Timur Dekat pada Universitas Princeton yang sangat berkelas tersebut, dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam pengembangan studi orientalisme di Amerika Serikat.[11]

Dr. Hitti yang lahir dalam lingkungan keluarga Kristen di Libanon, memperoleh pendidikan tinggi di Universitas Amerika di Beirut, kemudian dia berhijrah ke Amerika Serikat pada tahun 1913 dimana dia berhasil memperoleh gelar doktor dua tahun berikutnya dari Universitas Columbia.[12]

Salah satu karyanya, Islam and the West : An Historical, Cultural Survey, yang meskipun ringkas, namun secara garis besar menyoroti berbagai hal paling penting mengenai hubungan antara dua peradaban yang berlawanan (Islam dan Barat) semenjak abad pertengahan hingga sekarang.[13]

Pertama-tama, Dr. Hitti melancarkan tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang penipu yang lihai. Uraian yang dikemukakannya tentang kehidupan beliau SAW, memberikan kesan kepada pembacanya bahwa dia benar-benar telah merencanakan tulisan itu secara cermat. Dalam komentarnya mengenai berbagai kejadian sesudah hijrah Nabi SAW, dia menulis sebagai berikut :

Di Madinah orang-orang yang menunggu beliau secara berangsur-angsur surut ke belakang, karena munculnya tokoh politisi dan praktisi yang mengelola urusan mereka. Suatu perubahan dalam sifat wahyu-wahyu [kepada Nabi] nampak jelas. Wahyu-wahyu yang tegas dan keras yang menekankan keesaan Allah, sifat-sifat-Nya dan kewajiban manusia terhadap-Nya, dan yang disampaikan dalam gaya sastrawi dan penuh berirama, sekarang berubah menjadi wahyu-wahyu berkepanjangan yang kurang menarik berisi pembicaraan tentang persoalan-persoalan seperti ibadat dan salat, perkawinan dan perceraian, budak dan tawanan perang.[14]

Bahasa bernada sinis yang digunakan di sini perlu sekali mendapat catatan khusus. Dr. Hitti ternyata telah gagal mengungkapkan makna yang sebenarnya dari peristiwa hijrah. Di Mekkah, Nabi Muhammad SAW adalah seorang penyampai suatu ajaran, sedangkan di Madinah beliau SAW mengorganisasikan orang-orang mukmin menjadi suatu masyarakat yang bersatu dengan kuatnya, sehingga dengan perkataan lain beliau SAW menerjemahkan ajaran yang beliau SAW bawa itu ke dalam kehidupan nyata. Apa yang terjadi di Madinah setelah hijrah, jelas diyakini – baik oleh orang-orang non-Muslim maupun Muslim – bahwa Nabi Muhammad SAW menjadi penegak hukum terbesar yang dikenal dalam sejarah. Dr. Hitti tidak dapat memahami bahwa Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Muhammad SAW dari orang-orang kafir Quraisy yang ingin membunuh beliau SAW, agar Nabi Muhammad SAW bisa membangun negara Madinah untuk mengatur urusan sesama umat Islam dan urusan umat Islam dengan umat non-Muslim.

Dalam kajiannya tentang ayat Makkiyah dan Madaniyah[15], Syekh Manna Khalil al-Qattan menganalisa, bahwa perbedaan karakteristik ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah menunjukkan sebuah metode dan tahapan dakwah. Dakwah menuju jalan Allah memerlukan metode tertentu dalam menghadapi segala kerusakan akidah, perundang-undangan dan perilaku. Beban dakwah itu baru diwajibkan setelah benih subur tersedia baginya dan fondasi kuat telah dipersiapkan untuk membawanya. Dan asas perundang-undangan serta aturan sosialnya juga baru digariskan setelah hati manusia dibersihkan dan tujuannya ditentukan, sehingga kehidupan yang teratur dapat terbentuk atas dasar bimbingan dari Allah SWT.[16]

Kita akan melihat bahwa ayat-ayat Makkiyah penuh dengan ungkapan-ungkapan yang keras di telinga, huruf-hurufnya seolah-olah melontarkan api ancaman dan siksaan, masing-masing sebagai penahan dan pencegah, sebagai suara pembawa malapetaka, seperti dalam Q.S. Al-Qari’ah, Al-Ghasyiah, dan Al-Qaqi’ah, dengan ayat-ayat yang berisi tantangan di dalamnya, nasib umat-umat terdahulu, bukti-bukti alamiah dan yang dapat diterima akal. Hal ini wajar, mengingat pada saat ayat-ayat Makkiyah diturunkan, masyakarat Arab saat itu pondasi aqidah-nya belum kuat. Mereka masing berkubang dalam kejahiliyahan, menyembah berhala, mempersekutukan Allah, mengingkari wahyu, dan mendustakan hari akhir.[17]

Setelah terbentuk jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab dan Rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan qadar – baik dan buruknya -, serta aqidahnya telah diuji dengan berbagai cobaan dari kaum Musyrikin dan ternyata dapat bertahan, dan dengan agamanya itu mereka berhijrah karena lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kesenangan hidup duniawi, maka di saat itu kita melihat ayat-ayat Madaniyah yang panjang-panjang membicarakan hukum-hukum Islam serta ketentuan-ketentuannya, mengajak berjihad dan berkorban di jalan Allah kemudian menjelaskan dasar-dasar perundang-undangan, meletakkan kaidah-kaidah kemasyarakatan, menentukan hubungan pribadi, hubungan internasional dan antar-bangsa. Juga menyingkapkan isi hati orang-orang munafik, berdialog dengan ahli kitab dan membungkam mulut mereka.[18]

Jadi, Dr. Hitti tidak memahami tujuan utama diturunkannya ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Kemudian Dr. Hitti menulis :

Sumber-sumber Al-Qur’an itu jelas – orang-orang kafir Kristen, Yahudi, dan Arab. Hijaz sendiri terdiri dari beberapa wilayah Yahudi walau tidak ada satu pun wilayah Kristen, tetapi di situ terdapat sejumlah budak dan pedagang Kristen. Wilayah itu dikelilingi oleh berbagai pusat peribadatan dimana gagasan Kristen bisa terserap ke dalamnya. Nabi Muhammad memiliki dua orang budak dari Habsyi (Ethiopia sekarang) yaitu muazzin beliau, Bilal, dan anak angkat beliau di belakang hari, Zaid. Beliau juga mempunyai seorang istri beragama Kristen, Mariyah al-Qibtiyyah, dan seorang istri beragama Yahudi, Safiyah, keturunan dari salah satu suku Yahudi di Madinah yang baliau taklukkan…

Karena bersumber tidak langsung dari cerita orang, maka bahan yang termaktub dalam al-Qur’an tidak membedakan yang asli sebagai wahyu dengan yang bukan. Dalam kisah [Nabi] Yusuf misalnya, istri Potephar [yaitu Zulaikha] mengundang para wanita yang mempergunjingkan kisah cintanya dengan Yusuf ke suatu pesta dan ketika mereka melihatnya sendiri pisau-pisau yang ada di tangan mereka mengiris pergelangan tangan mereka sendiri [tanpa disadari] dan tidak mengiris buah yang akan mereka makan. Jesus berbicara dengan manusia pada saat masih bayi dan mencipta seekor burung yang hidup dari tanah liat sebagaimana dijelaskan dalam Kitab-kitab Injil Apokrif (terlarang). Penyaliban Jesus tidak diakui kebenarannya oleh al-Qur’an tetapi ia mengakui kebenaran pengangkatannya ke langit. Bukan hanya keperawanan Maryam yang diakui kebenarannya tetapi kedudukannya sebagai ibu kandung Jesus pun tampak diakui oleh al-Qur’an sebagai manusia luar biasa (super human), walaupun ia dikacaukan dengan Maryam saudara perempuan [Nabi] Harun. Tokoh lain dalam Bibel lainnya yang dikacaukan oleh al-Qur’an adalah Haman, yaitu tokoh dalam Bibel yang terkenal dengan nama Ahaseuerus yang menjadi salah seorang Menteri Fir’aun. Kesalahan-kesalahan yang lebih parah lagi terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an yang mencerminkan betapa lemahnya pribadi dan watak Nabi Muhammad. Surat 33 [Al-Ahzab] ayat 37 diturunkan untuk membenarkan secara hukum perkawinan Nabi Muhammad dengan bekas istri anak angkatnya, Zaid. Surat 53 [An-Najm] ayat 19-23 diturunkan untuk menolak kebenaran tiga tuhan orang Mekkah, [yaitu Lata, Uzza, dan Manata] yang diakui sebagai sekutu-sekutu Allah. Hanya sebagian di antara wahyu-wahyu yang beliau terima tercatat pada masa hayat beliau. Naskah al-Qur’an itu sendiri akhirnya baru “terbukukan” pada tahun 651 M. keajaiban (mukjizat) al-Qur’an bukan hanya terletak pada asal-usul dan isinya tetapi juga pada bentuknya. Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah memperoleh pendidikan dapat mencipta suatu karya tulis yang bukan hanya tidak ada tandingannya dan tidak dapat ditiru semacam itu? Bahkan seandainya manusia dan jin bersama-sama membuatnya pun, mereka tidak akan mungkin bisa mencipta kitab semacam itu. Nabi Muhammad diberi senjata oleh Allah untuk menentang orang-orang yang mengkritiknya agar mereka mencoba membuat satu surat saja yang mirip dengan al-Qur’an (Q.S. 10:39). Tantangan tersebut – sebagaimana diduga – tidak pernah bisa dilumpuhkan dengan berhasil. Yang pasti ketika al-Qur’an dibaca, melalui nada, irama, dan kata-katanya, ia dapat mencipta efek yang setengah hipnotis kepada para pendengarnya, walaupun hampir sama sekali tidak memahami artinya. Dampaknya jelas lebih besar mengenai emosi dan imajinasi manusia daripada pikirannya.[19]

Demikianlah Al-Qur’an yang didiskreditkan sebagai kitab suci palsu. Menurut Dr. Hitti, Islam tidak lebih daripada warisan orang Yahudi – Kristen yang “diarabisasikan” dan “dinasionalisasikan”. Mengenai hal ini, Dr. Yusuf Qaradhawi memberikan penjelasan yang amat bagus. Beliau menyatakan bahwa barangsiapa yang membaca AL-Qur’an dan mentadaburinya serta mempunyai sedikit pengetahuan tentang kondisi masyarakat Arab, juga masyarakat-masyarakat lain, maka pada saat Al-Qur’an diturunkan, seseorang akan menemukan – dengan penuh keyakinan – bahwa Al-Qur’an adalah faktor yang aktif bukan proaktif, dan yang memberikan pengaruh bukan dipengaruhi. Ia meluruskan kepercayaan-kepercayaan batil yang sedang berkembang pada saat itu, mengoreksi pemahaman-pemahaman yang salah, menghapuskan tradisi-tradisi dzalim, melenyapkan kondisi yang rusak, dan menyerang kebatilan-kebatilan yang telah dijalankan oleh manusia secara turun-temurun dengan amat keras, menolak orang-orang musyrik, ahli kitab dari bangsa Yahudi dan Nasrani yang mengingkarinya. Al-Qur’an juga menjelaskan kepada Yahudi dan Nasrani bahwa mereka telah melakukan perubahan dan penggantian kitab-kitab mereka, serta mereka menulis kitab-kitab mereka itu dengan tangan mereka, kemudian mereka berkata bahwa ini datang dari Allah SWT. Kemudian dengannya, mereka menjual agama mereka dengan amat murah.[20]

Menurut Syed Naquib al-Attas, ide-ide dari Al-Qur’an adalah sebuah perubahan radikal dari pemahaman umum bangsa Arab pra-Islam, yang menganggap suku – khususnya yang lebih tua – dan tradisi kesukuan serta pengalaman empiris pribadi mereka, sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.[21] Pandangan dunia bangsa Arab pagan, sebagaimana telah diamati dengan baik oleh Izutsu dalam analisisnya mengenai Al-Qur’an dan syair pra-Islam, adalah sangat pesimistis yang berakar pada tribalisme.[22] Islamisasi pandangan-dunia dan ilmu pengetahuan pra-Islam berlangsung, seperti yang diidentifikasi al-Attas, melalui sebuah proses perkembangan bentuk baru bahasa Arab, yakni bahasa Arab Qurani. Meskipun kata-kata yang dipakai dalam Al-Qur’an sama dengan kata-kata yang dipakai pada zaman pra-Islam, keduanya tidak memiliki peran yang sama dan tidak memproyeksikan konsep-konsep yang serupa.[23]

Dan sangat tidak masuk akal jika Dr. Hitti mengatakan bahwa dampak pembacaan Al-Qur’an sangat sedikit mengenai pikiran atau intelejensia para pembacanya, sebab ternyata banyak ilmu yang timbul dari Al-Qur’an, yang berhasil digali oleh para pembacanya.Hal ini ditegaskan dalam Q.S. An-Nahl ayat 89 Allah SWT berfirman : “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) sebagai penjelasan bagi segala sesuatu”. Sabda Nabi SAW : “Akan terjadi berbagai fitnah! Ditanyakan : “Bagaimana jalan keluar dari padanya?”. Nabi menjawab : “Kitab Allah; di dalamnya terdapat berita tentang (segala sesuatu) sebelum kamu, kabar tentang (segala sesuatu) yang kamu hadapi”. (HR. Turmudzi dan lainnya). Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata : “Barangsiapa menghendaki ilmu hendaklah ia mengambil Al-Qur’anm sebab di dalmnya terdapat kabar orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian”. (Dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur).

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam bukunya Mukhtashar Al-Itqan fi Ulumil Qur’an li As-Suyuthi, menjelaskan bahwa dari Al-Qur’an, timbul ilmu-ilmu baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Maka para ahli qira’ah mengkaji ketentuan bahasanya, menganalisis kata-katanya, mempelajari makhraj (tempat keluar) huruf-hurufnya, jumlah kata, ayat, surat, hizib, nishf, rubu’ dan ayat-ayat sajdah-nya; mempelajarinya setiap sepuluh ayat; menghitung kata-kata yang mutasyabihat dan ayat-ayat yang serupa dan lain sebagainya tanpa membahas makna-maknanya.[24]

Selain itu, para ahli nahwu (gramatika Arab) menjelaskan tentang ism (kata benda) dan fi’il yang mu’rab (berubah) dan mabni (tidak berubah), huruf-huruf yang berfungsi mentransitifkan dan lain sebagainya. Merekalah yang menjelaskan secara rinci tentang ism-ism dan berbagai permasalahannya, berbagai bentuk fi’il yang transitif ataupun yang intransitive, dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Sehingga ada sebagian ulama yang meng-I’rab (menjelaskan status setiap kata) yang musykil, bahkan ada yang meng-I’rab Al-Qur’an kata demi kata.[25]

Para ahli tafsir memperhatikan lafazh-lafazh-nya. Mereka menemukan bahwa satu lafazh tertentu di dalam Al-Qur’an ada yang menunjukkan kepada dua makna atau lebih. Selanjutnya dijelaskan semua kata yang belum jelas artinya dan dikuatkan salah satu kemungkinan arti dari kata yang memiliki dua makna atau lebih tersebut.[26]

Dari ayat-ayat Al-Qur’an bisa dilakukan istinbath (mengeluarkan dalil-dalil tentang wahdaniyat, keberadaan, keabadian, kekuasaan, dan kesucian Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya. Ilmu ini dinamakan Ushuluddin. Kemudian para ahli ushul fiqh membahas pembentukan kaidah ushuliyyah. Maka lahirlah ilmu ushul fiqh. Mereka mencari dalil-dalil bagi hukum-hukum syariat. Dengan demikian kaum Muslimin dapat mengenal ilmu furu’ (cabang) dan fiqh.[27]

Selain itu, di dalam Al-Qur’an juga terdapat sejarah, kisah, khutbah, nasihat, ilmu fara’idl (pembagian warisan), hukum wasiat, ilmu ma’ni, bayan, badi’ (retorika) dan lain sebagainya. Juga meliputi ilmu-ilmu lain seperti ilmu kedokteran, ekonomi, astronomi, logika, matematika, dan lain-lain.[28]

Dr. Hitti juga menyangkal habis-habisan tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW dan tidak ingin mengakui kebesaran profil Rasulullah SAW, meskipun bukti-bukti tertulis dan tidak tertulis telah membuktikan bahwa beliau SAW melakukan perubahan yang besar-besaran dalam kehidupan sebagian besar umat manusia di dunia dan menegakkan rasa cinta, kesetiaan dan pengabdian hingga akhir hayat beliau SAW demi kepentingan berjuta-juta umat manusia selama lima belas abad. Dr. Hitti menulis :

Walaupun dilahirkan dalam kerangka sejarah yang jelas, namun keberadaan Muhammad sebagai tokoh historik tidak dapat kita terima. Penulis biografi beliau yang pertama meninggal dunia di Baghdad kira-kira 140 tahun setelah beliau wafat dan bahkan biografi itu hanya tertulis dalam resensi di belakang hari dalam tulisan Ibnu Hisyam yang meninggal di Kairo pada tahun 833. sebelum itu para penulis biografi sudah biasa menulis pahlawan mereka berdasarkan apa yang sesungguhnya. Penghormatan yang berlebih-lebihan kepada tokoh pendiri agama dan pembawa kemenangan mereka telah melampaui tingkatan idealisasi menuju kepada idolisasi [pendewa-dewaan] dan setidak-tidaknya dalam agama rakyat, dalam bentuk sesembahan.[29] Dua sarana yang senantiasa diperlukan oleh umat Muslim pada masa-masa pertama [yaitu al-Qur’an dan al-Hadits] dimanfaatkan untuk mengendorkan kekakuan kepercayaan-kepercayaan [‘aqidah] dan ibadah. Berbagai pernyataan disuruhucapkan atau berbagai jenis perbuatan disuruhlakukan oleh Nabi karena diyakini bahwa apa yang beliau lakukan dan katakan itu ditujukan untuk menghadapi situasi tertentu. Otoritas hadits, seandainya dapat diyakini kebenarannya, hanya menempati urutan kedua setelah al-Qur’an. Karena umat itu merupakan jama’ah tanpa kepemimpinan keagamaan yang terpusatkan, maka kesepakatan (ijma’) umat diakui adanya untuk menutup kekurangan tersebut. Untuk memberikan dukungan lebih kuat terhadap otoritas pendapat khalayak (public opini) tersebut, sebuah hadits Nabi menyatakan : “Umatku tidak akan bersepakat mengenai hal-hal yang salah”. Dengan menggunakan sarana inilah mu’jizat-mu’jizat Nabi Muhammad diakui kebenarannya, ajaran para orang suci beserta kuburan-kuburannya, ibadah haji berikut upacara-upacaranya diterima dengan baik; tradisi bersunat yang tidak disebutkan dalam sebuah ayat al-Qur’an pun diakui kedudukan hukumnya seperti pembaptisan dalam gereja Kristen dan minuman kopi – yang mula-mula dianggap sebagai salah satu jenis anggur – ditentukan sebagai minuman tradisional Arab. Pendek kata apa yang dianggap berguna, dimasukkan untuk melengkapi wahyu atau untuk mendukungnya.[30] 

Karena sejak awal sudah ada itikad buruk untuk mendiskreditkan kehidupan dan aktivitas Nabi SAW, maka dalam buku Islam and The West, sama sekali tidak disebutkan mengenai Ilmu Hadits yang dikembangkan secara teliti dan cermat oleh Bukhari dan Muslim. Keduanya meneliti secara komprehensif keabsahan (otentisitas) setiap hadits dengan cara yang jauh lebih cermat dibandingkan dengan penelitian terhadap dokumen-dokumen historik pada umumnya.

Dalam Kata Perkenalan-nya untuk buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husein Haekal, As-Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi, Rektor Magnificus Universitas Al-Azhar, Kairo, menjelaskan bahwa perbedaan penulisan biografi Nabi Muhammad SAW dan orang besar lainnya ialah, bahwa sumber data penulisan biografi Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim, adalah berasal dari wahyu Ilahi dan adanya jaminan akan terpeliharanya wahyu Ilahi tersebut (Al-Qur’an yang Suci), di samping tidak sedikit pula sumber data atau keterangannya diambil melalui ahli hadits dan penghapal Al-Qur’an yang dapat dipercaya.[31]

Kemudian Dr. Hitti menampilkan Islam sebagai agama yang tidak memiliki tujuan transendental. Menurut Dr. Hitti, semua syiar Islam hanyalah demi kepentingan ekonomi. Berikut petikannya :

Para ahli sejarah Arab, yang kebanyakan adalah ‘ulama’, memberikan penjelasan sederhana bahwa perluasan wilayah Arab tidak begitu penting secara internasional menimbulkan kehancuran sama sekali di Timur dan memberikan kekuatan yang paling besar di Barat. Hal itu memang sudah ditakdirkan Tuhan, sama sebagaimana penjelasan gereja tentang penyebaran agama Kristen dan penjelasan orang Yahudi tentang penaklukan wilayah Kanaan. Kita mendapatkan penjelasan bahwa motivasi perluasan wilayah itu bersifat keagamaan – untuk menyiarkan agama Islam. Tetapi kenyataannya, motivasi yang paling utama bersifat ekonomik. Kelebihan penduduk wilayah jaziah berpadang pasir itu harus dipindahkan ke wilayah-wilayah lain yang berdekatan sehingga mereka bebas bergerak. Keinginan untuk mendapatkan wilayah jajahan sama sekali tidak dapat diingkari oleh para ahli sejarah di masa-masa pertama penaklukkan itu. Jadi Islam yang pertama kali menaklukkan bukan Islam sebagai agama melainkan sebagai negara – bukan Mohammadanism melainkan Arabianism. Bangsa Arab bertebaran secara tiba-tiba di dunia sebagai teokrasi nasionalis, yang berusaha mencari kehidupan duniawi yang lebih sempurna. Dua atau tiga abad lamanya harus dilalui sebelum Syria, Irak, dan Persia [Iran] menunjukkan ciri-ciri negara Islam. Ketika bangsa masing-masing dipersatukan dalam ikatan Islam, mereka pada umumnya terdorong oleh kepentingan pribadi – baik ekonomik maupun politik.[32]

Dengan demikian maka jelaslah sudah, Dr. Hitti menolak adanya validitas moral dan spiritual Islam sebagai daya tarik utama bagi orang luar untuk menyatu di dalamnya, memeluk Islam, menjadi seorang Muslim. Jika penjelasan mengenai ekspansi Islam yang berjalan dengan cepat itu benar-benar hanya bermotif ekonomi, lantas bagaimana Dr. Hitti harus menjelaskan mengenai kenyataan yang menunjukkan bahwa para mujahidin di masa Nabi SAW dan di masa Khulafaur Rasyidin yang tidak menginginkan kenikmatan duniawi, bahkan rela mati demi memperoleh surga di akhirat. Bagaimana Dr. Hitti bisa menjelaskan konsep jihad? Dan jika mereka benar-benar berperang karena didorong oleh alasan-alasan pribadi, tentunya mereka tidak akan pernah berhasil menjaga kedisiplinan, semangat juang, keteguhan hati, dan semangat berkorban sehingga mampu mengalahkan musuh-musuh mereka yang jauh lebih banyak dan jauh lebih baik persenjataannya. Jika Islam benar-benar sama dengan nasionalisme Arab, lantas apa yang mendorong Bilal dari Abessinia (Ethiopia), Suhail dari Romawi atau Salman dari Persia (Iran) untuk menjadi sahabat-sahabat Nabi SAW yang setia? Jika orang-orang non-Muslim memeluk Islam karena tujuan-tujuan duniawi, lantas apa yang menghalangi mereka untuk murtad pada saat suasana kacau dan selama beradab-abad berada di bawah dominasi pihak yang memusuhi Islam? Dan bagaimana harus dijelaskan tentang ratusan juta umat Islam yang sekarang tersebar di seluruh dunia?

Ketika membicarakan sumbangan-sumbangan peradaban Islam kepada umat manusia, Dr. Hitti dalam beberapa halaman mengungkapkan kisah kehidupan sejumlah raja yang terlalu mewah dengan sejumlah wanita simpanannya, gadis-gadis penyanyi cantik dari Persia dan Byzantium serta minuman-minumam anggur dari Syria atau “sumbangan-sumbangan” para seniman Muslim dari Spanyol yang mereka berikan kepada cerita rakyat (folklore) Eropa.

Sumbangan-sumbangan yang benar-benar berharga dari para ilmuwan Muslim yang diberikan kepada Eropa dalam bidang matematika, sains, kedokteran, pendidikan, dan filsafat disebutnya hanya selayang pandang.

Dia sama sekali tidak menunjukkan, bahwa lama sebelum kedatangan peradaban Islam, dunia sama sekali tidak mengenal sistem pendidikan yang maju (yang berbentuk sekolah Masjid dan sekolah dalam bentuk baru madrasah), universitas yang bebas pembayaran, penelitian ilmiah, perpustakaan umum dan pribadi yang dibuka untuk umum, rumah sakit dan balai pengobatan yang tidak dipungut biaya, dan sebagainya.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, pendidikan dasar dibangun dimana-mana. Dimulai sejak khalifah Harun al-Rasyid, setiap anak Muslim memiliki kesempatan untuk belajar dasar-dasar membaca, menulis, berhitung, ilmu-ilmu pengetahuan dasar, geografi, sejarah, dan lain-lain. Dengan demikian, khalifah Harun al-Rasyid mendirikan sekolah dasar di setiap masjid, atau tempat peribadatan. Guru-guru yang pandai mengajar anak-anak orang kaya dan miskin dengan perlakukan yang sama. Dimana-mana orang dapat membaca dan menulis.[33]

Bahkan, di saat Eropa masih menganggap perempuan itu tidak layak mengenyam pendidikan apapun karena dianggap bukan manusia seutuhnya layaknya laki-laki, abad keemasan Islam sudah memiliki perempuan Muslim yang sangat terpelajar. Di antara mereka ada yang menjadi penyair seperti Badanuyyah, juga seorang yang sangat ahli dalam prosa; Hafsah ar-Rakuniyyah dari Granada, seorang guru dan penyair besar; Maryam binti Abi Ya’qub al-Awsari, guru dan penyair lain yang terkenal; Safiyyah dari Seville, seorang penyair, orator dan guru kaligrafi yang ternama; Zainah binti asy-Syari, seorang ahli teologi; Unaidah, nenek Abul Khair al-Aqta, seorang guru yang terkenal; Taqiyyah Unim Ali Abi al-Faraji, seorang penyair; dan dokter-dokter yang terkenal seperti Zainab dari Banu Awd dan Unim al-Hasan (binti al-Qadi Abi Ja’far) at-Tanjali.[34]

Secara komprehensif, kekuatan sistem pendidikan Islam Islam terletak pada hal-hal sebagai berikut : menghasilkan cendekiawan-cendekiawan besar hampir di segala bidang, mengembangkan program bebas buta huruf  dalam skala universal, ketika buta huruf menguasai Eropa, menyebarkan roman-roman dari kebudayaan klasik ke Barat, memimpin (jalan) bagi perkembangan perpustakaan-peerpustakaan dan universitas-universitas, sekolah tinggi pada abad-abad kreatifnya telah dibuka untuk orang kaya maupun miskin, dan mereka memiliki kesempatan yang sama, syaratnya hanya mempunyai kemampuan dan ambisi. Guru, buku, kuliah, dan diskusi adalah pusat urat syaraf dari sistem pendidikan Islam.[35]

Jadi, sumbangan-sumbangan umat Islam yang sangat bernilai bagi kesejahteraan umat manusia sama sekali tidak disinggung oleh Dr. Hitti. Dia malah menulis sebagai berikut :

Pernyataan yang timbul adalah seberapa jauh pengetahuan ilmiah yang dibicarakan di atas bisa terserap sampai ke lapisan masyarakat yang lebih rendah. Jawabnya sederhana saja : tidak banyak. Sebagai agama yang didasarkan atas kitab suci [al-Qur’an], Islam memang menyuruh orang untuk mempelajari al-Qur’an dan menghafal beberapa macam doa yang telah ditentukan tetapi tidak lebih daripada kajian elementer yang berkaitan dengan masjid, sedangkan kemudahan-kemudahan untuk kepentingan pendidikan sebagian besar tidak diperoleh, kalau tidak dapat dikatakan sama sekali tidak ada. Sebagian besar umat harus hidup dalam kebodohan, kemiskinan, dan ketidakpastian.[36]

Dalam buku Islam and The West : An Historical Cultural Survey, Dr. Hitti juga sama sekali tidak berbicara tentang Imam-imam besar dalam bidang fiqh seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Tidak sedikit pun Dr. Hitti mengulas tentang sumbangan syari’ah terhadap perkembangan Ilmu Hukum.

Dr. Hitti secara tegas menolak kelebihan peradaban Islam yang menurut pandangannya tidak lebih dari sekadar penggabungan antara unsur-unsur peradaban Semit, Yunani, Romawi, Persia, dan India dengan perantaraan bahasa Arab. Walaupun peradaban Islam membuka diri terhadap pengaruh-pengaruh dari luar, namun peradaban Islam melalukan Islamisasi, atau memberi makna dan bentuk kepada pengaruh luar mana pun yang masuk sesuai dengan nilai-nilai mutlak al-Qur’an dan Sunnah, sehingga peradaban Islam berhasil menciptakan sebuah orisinalitas sekaligus homogenitas kultural secara mencolok atau orisinil mulai dari Timur-Tengah hingga Asia Tenggara.

Islamisasi bukan saja mengkritik budaya dan peradaban asing yang masuk, namun juga mentransformasi bentuk-bentuk local, etnik, supaya sesuai dengan pandangan-dunia Islam. Islamisasi adalah menjadikan bentuk-bentuk budaya, adat, tradisi, dan lokalitas universal agar sesuai dengan agama Islam yang universal.[37]

Mengenai proses Islamisasi ini, Syed Naquib al-Attas memberikan definisi yang tegas dan jelas seperti yang terjadi dalam sejarah sebagai berikut :

….Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-rasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa….Juga pembebasan dari control dorongan fisiknya yang cenderung sekular dan tidak adil terhadap hakikat diri dan jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat diri yang sebenarnya, menjadi bodoh akan tujuan yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi….[38]

Jadi, tidak benar dan tidak masuk akal jika Dr. Hitti menganggap peradaban Islam adalah peradaban hasil adopsi mentah-mentah dari peradaban asing. Dr. Hitti gagal memahami fenomena proses Islamisasi yang terjadi pada budaya dan peradaban asing yang masuk ke dalam budaya dan peradaban Islam.

Setelah menguraikan dalam paragraf pendek mengenai kemandekan dan kemunduran dunia Arab di bawah kekuasaan Turki, dimana kritik yang dilontarkannya terhadap pemerintah Turki sangat kasar dan sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan, pada bab terakhir buku ini, Dr. Hitti dengan penuh semangat menekankan perlunya Westernisasi bagi negara-negara Islam, tanpa mempermasalahkan bahwa sebenarnya semua pembaharuan ini (baca : Westernisasi) tidak dapat memajukan dan mensejahterakan semua bangsa.

Sebagai salah satu episode dalam sejarah – demikian menurut pendapat Dr. Hitti – boleh jadi Islam itu baik pada masa dan tempatnya tetapi sekarang keberhasilannya di dunia ini hanyalah sejarah masa lampau. Sekarang Islam tidak berlaku lagi dan tidak relevan. Dia menulis :

Modernisasi pada tingkat intelektual-spiritual akan melibatkan sekularisasi. Sekularisasi mempunyai makna lebih dari sekadar pemisahan antar gereja [agama] dan negara. Ia menggantikan kedudukan penafsiran ketuhanan mengenai peistiwa-peristiwa sejarah dan kejadian-kejadian mutakhir, dan menempatkan penafsiran secara rasional yang didasarkan atas kekuatan-kekuatan fisik dan psikologik. Hampir tidak ada selembar pun surat kabar berbahasa Arab yang tidak mengulang-ulang nama Allah ketika memuat berita-berita kelahiran dan kematian, orang sakit dan orang sembuh, kenikmatan dan musibah, serta keberhasilan dan kegagalan – suatu gambaran dari cara berpikir yang sudah usang.[39] 

Dengan perkataan lain, penulis buku tersebut secara terang-terangan mengajak untuk menerima ateisme sebagai prasyarat untuk mendapatkan kemajuan. Bagaimanapun juga, ateisme adalah salah satu ide paling buruk yang diberikan peradaban Barat kepada umat Islam. Menawarkan atheisme kepada umat Islam, sama saja dengan menyuruh umat Islam untuk murtad dari agamanya atau deislamisasi pikiran umat Islam, yang begitu membahayakan karena hal ini bertentangan dengan prinsip tertinggi dalam Islam, yakni aqidah. Merupakan sebuah konsekuensi logis bahwa ideologi sosialis-komunis dan sekular-liberal tidak akan pernah bisa diterima dan menjadi bagian dari peradaban Islam, untuk selamanya.

Menurut hasil pengkajian Syed Naquib al-Attas dalam buku Islam and Secularism, konfrontasi Islam dan Barat secara historis bersifat permanen. Islam dipandang Barat sebagai tantangan terhadap prinsip yang paling asasi dari pandangan hidup Barat. Islam bukan hanya tantangan bagi Kekristenan Barat tetapi juga prinsip-prinsip Aristotelianisme dan epistemologi serta dasar-dasar filosofi yang diwarisi dari pemikiran Yunani-Romawi. Unsur-unsur itulah yang membentuk komponen dominan yang mengintegrasikan elemen-elemen kunci dalam berbagai dimensi padangan hidup Barat.[40] Syed Naquib al-Attas menyeru agar kaum Muslimin benar-benar mengenal peradaban Barat, sebab peradaban inilah yang sedang mendominasi dunia dan terus-menerus melakukan penyerangan terhadap Islam dalam berbagai bentuk :

Seperti juga dalam ilmu peperangan kau harus mengenali siapakah dia seterumu itu; di manakah letaknya kekuatan dan kelemahan tenaganya; apakah helah dan tipu muslihatnya bagi mengalahkanmu; bagaimanakah cara dia menyerang dan apakah yang akan diserangnya; dari jurusan manakah akan serangan itu didatangkan; siapakah yang membantunya, baik secara disedari mahupun tiada disedari – dan sebagainya ini, maka begitulah kau akan lebih insaf lagi memahami nasib serta kedudukan Islam dan kau sendiri dewasa ini apabila penjelasan mengenai seterumu itu dapat dipaparkan terlebih dahulu.[41]

Mengenai ide-ide Barat untuk “memajukan” dan “mensejahterakan” umat Islam, Dr. Hitti lebih lanjut menulis :

Yang paling penting di antara sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh Barat adalah pendidikan modern. Pendidikan berkaitan dengan intelek dimana semua perubahan dimulai. Di saat abad ke-19 lewat dan memasuki abad ke-20, lembaga-lembaga pendidikan Islam ternyata masih menggunakan pola tradisional, yang mencerminkan budaya yang mandeg. Menuntut ilmu pengetahuan lebih daripada sekadar proses mekanik yang dimaksudkan untuk dan berakhir pada pengenalan terhadap sejumlah fakta (atau bahkan sekadar apa yang dianggap sebagai fakta) sehingga seolah-olah alam semesta ini merupakan wujud yang statis. Jika demikian halnya, berarti anak didik itu merupakan figur yang pasif, sebagai sasaran komunikasi otoriter dari guru dan buku darasnya. Menghafal merupakan teka-teki; sedangkan penelitian, percobaan dan kritik tidak terletak pada kosakata [yang dihafal itu]. Kemampuan untuk mengingat dikembangkan secara berlebihan tetapi hasrat untuk mengetahui justru ditelantarkan.[42]

 

Sebagai sarjana lulusan Universitas Amerika di Beirut, Dr. Hitti merupakan salah seorang yang menonjol di antara produk-produk “sumbangan-penting” Barat ini. Namun demikian dia hanya mengulangi prasangka-prasangka yang sama dari para orientalis pendahulunya.[43] Tak ada sesuatu yang orisinil dari buku ini. 



[1] Perjuangan gagah berani dari kelompok Mujahidin di Afganistan melawan tirani pasukan pendudukan Uni Soviet, Revolusi Iran yang dipimpin seorang pemuka agama (mullah) di Iran menumbangkan rezim Syah Reza boneka AS, perlawanan Hamas yang tiada henti terhadap penjajah Israel di Palestina, perlawanan kelompok Taliban terhadap pemerintah Pakistan yang disetir AS, perjuangan rakyat Irak mengusir aggressor AS dari bumi Irak, merupakan bukti-bukti kebenaran atas pernyataan ini.

[2] Lihat Dr. Abdurrahman Hasan el-Maidani, Ajnihatu-l Mukr ats-Tsalasah, Dimsiq Beirut, Dar el-Qalam, 1980 M., cet. II, hal. 83, dikutip dari Dr. Hasan Abdul Rauf M. el-Badawiy dan Dr. Abdurrahman Ghirah, Orientalisme dan Misionarisme : Menelikung Pola Pikir Umat Islam,  (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hal.3.

[3] Hamid Fahmy Zarkasy, Mengkritisi Kajian Islam Orientalis, Pengantar, Majalah Islamia, Volume II No. 3, Desember 2005.

[4] Nuim Hidayat, Imperialisme Baru, (Jakarta : Gema Insani Press, 2009), hal. 51.

[5] Diterjemahkan menjadi Islam dan Orientalisme : Suatu Kajian Analitik, Bab Pendahuluan, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1994), hal. 1.

[6] Ibid., hal. 3.

[7] Karl Marx (1818-1883) adalah filosof berkebangsaan Jerman dan pencetus ideology Komunisme. Dia memperoleh gelar doktor dalam bidang filsafat dari Universitas Berlin pada tahun 1881 dengan disertasinya berjudul The Difference Between the Democritean and Epicurean Natural Philosophy. Dia sendiri mengembangkan berbagai teori dalam bidang-bidang filsafat ekonomi, sosial, dan politik dan, bersama Friederich Engels, mengembangkan aspek-aspek logika dan ontologi dalam dialektika materialisme.

[8] Maryam Jamilah, Islam dan Orientalisme : Suatu Kajian Analitik, Bab Pendahuluan, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1994), hal. 3. Maryam Jamilah adalah seorang Yahudi yang memeluk Islam. Nama sebelum memeluk Islam adalah Margaret Marcus. Maryam Jamilah lahir dan besar di New York. Keingintahuan, perhatian, dan kemudian rasa cinta Maryam Jamilah terhadap Islam bisa diruntut sejak dia masih berumur 10 tahun.

[9] Ibid. hal.13.

[10] Dr. Hasan Abdul Rauf M. el-Badawiy dan Dr. Abdurrahman Ghirah, Orientalisme dan Misionarisme : Menelikung Pola Pikir Umat Islam, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 37. Dalam buku ini, kedua penulis membuat klasifikasi orientalis menjadi dua, yakni orientalis moderat dan orientalis ekstrim. Philip K. Hitti dimasukkan dalam orientalis ekstrim karena dikenal menyelewengkan kebenaran dan melakukan penyimpangan dalam memahami ajaran Islam serta tidak tematik dalam penelitiannya

[11] Maryam Jamilah, Islam dan Orientalisme-Sebuah Kajian Analitik, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1994), hal.13.

[12] Ibid.

[13] Karya tulis Philip K. Hitti yang lain adalah History of the Arabs. Isi buku ini penuh celaan terhadap Islam dan merendahkan Nabi Muhammad SAW, ditulis dengan bahasa yang penuh kebencian.

[14] Islam and The West, Philip K. Hitti, (Bandung : Penerbit Sinar Baru, 1984), hal. 7-8.

[15] Yang disebut ayat Makkiyah adalah wahyu yang diturunkan sebelum hijrah dan yang disebut dengan ayat Madaniyah yaitu wahyu yang turun setelah hijrah, meskipun turunnya itu di Mekkah maupun di Madinah, apakah itu pada tahun penaklukkan kota Mekkah (Fathu Mekkah) atau pada tahun-tahun terakhir Rasulullah SAW di saat Haji Wada’, atau ketika beliau SAW sedang dalam salah satu perjalanan dari sekian banyak perjalanan beliau SAW, ataukah sedang tidak dalam perjalanan. Lihat Imam Jalaluddin As-Suyuhti, Samudera Ulumul Qur’anAl-Itqon fi Ulumil Qur’an Jilid I, (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 2006), hal. 3.

[16] Manna Khalil al_Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta : Litera AntarNusa,  2004), hal. 70.

[17] Ibid., hal. 70-71.

[18] Ibid., hal. 71.

[19] Islam and The West, Philip K. Hitti, (Bandung : Penerbit Sinar Baru, 1984), hal. 13-14.

[20] Dr. Yusuf Qaradhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), hal. 31.

[21] T. Izutsu, God and Man in the Kor’an : Semantics of  the Koranic Weltanschauung, (Tokyo : The Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), hal. 59-60, dikutip dari Wan Moh Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung : Miza, 1998), hal. 341.

[22] T. Izutsu, The Structure of the Ethical Terms in the Qur’an : A Study in Semantisc. Studies in the Humanities and Social Relations, jil. 2 (Tokyo : Keio Institute of Philological Studies, 1959), Bab 5 dan 6, dikutip dari Ibid.

[23] Lihat penjelasan rincinya di Bab Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam buku  Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas yang ditulis oleh Wan Mohd Nor Wan Daud, (Bandung : Mizan, 1998).

[24] Imam As-Suyuthi, Apa Itu Al-Qur’an - Mukhtashar Al-Itqan fi Ulumil Qur’an li As-Suyuthi, (Jakarta : Gema Insani Press, 1989), hal. 17.

[25] Ibid.,

[26] Ibid., hal. 18.

[27] Ibid.

[28] Ibid.

[29] Philip K. Hitti, Islam and The West, (Bandung : Penerbit Sinar Baru, 1984), hal. 4.

[30] Ibid., hal. 22-23.

[31] Lihat  Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Cetakan ke-xxx, (Jakarta : Litera AntarNusa, 2005), hal. xxxiii.

[32] Ibid., hal. 29.

[33] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat-Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003), hal. 59.

[34] Ibid., hal. 60.

[35] Ibid., hal. 85-86.

[36] Philip K. Hitti, Islam and The West, (Bandung : Penerbit Sinar Baru, 1984), hal. 61.

[37] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas-An Exposition of the Original Concept of Islamization, (Kuala Lumpur, ISTAC, 1998), hal. 414-17, dikutip dari Adnin Armas, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, Majalah Islamia, Tahun II No. 6, Juli-September 2005, hal. 17.

[38] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung : Mizan, 1998), hal. 335-336.

[39] Philip K. Hitti, Islam and The West, (Bandung : Penerbit Sinar Baru, 1984), hal. 131.

[40] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat : Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press, 200005), hal. 236.

[41] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur : ISTAC, 2001), hal. 9.

[42] Philip K. Hitti, Islam and The West, (Bandung : Penerbit Sinar Baru, 1984), hal. 125.

[43] Apa yang dituduhkan Philip K. Hitti terhadap Rasulullah SAW dan dan agama Islam sama persis dengan yang dilakukan oleh orientalis pendahulunya, Ignaz Goldziher (1850-1921). Dalam bukunya, Al-Aqidah wa Syariah fil Islam, Goldziher melontarkan tuduhan bahwa Islam merupakan himpunan pengetahuan dan pandangan agama-agama lain yang sengaja dipilih Muhammad. Hal ini diketahui oleh Muhammad karena hubungannya dengan oknum-oknum Yahudi, Nasrani, dan lain-lain. Di buku itu Goldziher mengatakan : “Sesungguhnya Muhammad telah memilihkan ajaran-ajaran Islam dari agama-agama yang menonjol pada masanya, yaitu agama Yahudi, Nasrani, Majusi, dan agama berhala, setelah ia melakukan penyaringan…Islam tidak mampu mempersatukan bangsa Arab dan menghimpun kabilah-kabilah yang bermacam-macam kepada tata peribadatan yang satu.” Lihat Nuim Hidayat, Imperialisme Baru, (Jakarta : Gema Insani Press, 2009), hal. 63.

Category: Sejarah Peradaban

Leave a Reply